Selasa, 03 Januari 2012

Data Lengkap Aksi “Koboi” Kepolisian Indonesia

Polisi Bayaran ?
Suara Pembebasan. Indonesian Police Watch mencatat telah terjadi aksi koboi yang dilakukan oknum kepolisian sepanjang tahun 2011 yang mengakibatkan 16 orang tewa dan 69 orang terluka.

Berikut korban ‘Aksi Koboi’ polisi tahun 2011, yang dilansir IPW.
12 Januari: Sofyan, seorang dosen Universitas Al-Asyariah Mandar (Unasman) Polewali Mandar, Sulawesi Barat tewas ditembak polisi. Sebanyak 18 petugas Polres Polman ditahan, karena terlibat dalam eksekusi yang berakhir bentrok di kampus Unasman. Namun hanya satu petugas yang ditetapkan sebagai tersangka.

Sofyan terjatuh setelah lehernya tertembus peluru aparat. Kontak senjata dan hujan batu antarpolisi dan mahasiswa yang mempertahankan kampus mereka agar tidak dieksekusi petugas berlangsung selama hampir 3 jam, sebelum akhirnya petugas memilih mundur untuk menghindari jatuhnya korban lebih banyak.

22 Februari 2010: Kamaruddin tewas akibat tembakan di dada dan kaki setelah sempat mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum Jantho, Aceh Besar.

Selain Kamaruddin, Suheri (15) juga korban salah tembak. Polisi menembak Kamaruddin alias Raja Rimba, 37, saat penumpasan latihan militer di Gunung Jalin, Aceh Besar. Polisi mengabaikan perhatian terhadap keluarga korban salah tembak itu.

24 April: Diduga Cemburu, Aiptu Endang Budi Tembak Istrinya. Akibatnya, Aidah (32 terbaring lemas di ruang intensive care unit (ICU) RSUD Tasikmalaya. Endang Budi menjabat Kanit Provos di Polsek Cigalontang. Aidah adalah istri siri Endang. Keduanya baru menikah tiga bulan lalu. Penembakan terhadap Aidah diduga berlatar cemburu.

Suara letusan pistol revolper kaliber 38 terdengar setelah Aidah dan Endang terlibat adu mulut di rumahnya di Kampung Cilembu, Desa Cikunten, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Aidah tertembak di bagian perut. Aidah kerap ditodong pistol jika ribut dengan suaminya. Saat berniat menikahi Aidah, Endang juga mengancam akan menembaknya jika niatan untuk mempersunting tidak tercapai.

8 Mei: Kartini Indah Hajrah, istri anggota Polsek Passimarunnu, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, tewas tertembak di bagian kepala. Diduga korban dibunuh suaminya. Suami korban, Brigadir Dedy Arsandi, ditahan di Polsekta Kepulauan Selayar terkait kasus penembak ini. Sebelum Kartini tewas, suami-istri itu terlibat pertengkaran. Lalu terdengar tembakan.

29 Mei: Seorang perempuan berusia 19 tahun ditembak polisi dalam aksi unjuk rasa menolak beroperasinya PT Sorik Mas Mining (SMM).

Aksi penembakan di Mandailing Natal itu bermula saat ratusan masyarakat akan mendemo rencana penambangan PT SMM di kawasan hutan Taman Nasional Batang Gadis, Sum-Ut. Belum sampai di lokasi, mereka sudah dihadang anggota Satuan Brigade Mobil (Brimob) Mandailing Natal yang membawa senjata laras panjang. Dorong-mendorong antara aparat dengan pengunjuk rasa terjadi. Saat itulah aparat kemudian melepaskan sejumlah tembakan yang di antaranya mengenai bahu kiri salah seorang perempuan pengunjuk rasa berusia 19 tahun

2 Juni: Tiga orang ditembak polisi di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Satu tewas dan dua lainnya luka. Ketiganya ditembak polisi saat sedang menghadiri resepsi pernikahan. Talla (45) tewas dengan luka di kepala. Baso luka tembak di tangan dan paha. Paco dengan luka tembak di tangan. Akibatnya ribuan orang menyerbu dan merusak kantor Polsek Uluere di Bantaeng.

3 Juni: Maksud hati membantu mengejar pencuri, Edi Suhaedi, seorang pegawai Kecamatan Mekarbaru, Kabupaten Tangerang, tertembak anggota polisi Polsek Kronjo. Polisi pun kini menanggung biaya perawatan korban.

Korban yang berprofesi sebagai Kepala Sub Bagian Umum di Kecamatan Mekarbaru, Kabupaten Tangerang ini mengaku, dada kirinya yang tertembak.

31 Juni: Muhammad Dermawan tewas tertembak oleh Briptu Vico Panjaitan, anggota Satuan Pengaman Objek Vital (Pam Obvit) Polresta Medan, saat membersihkan sepeda motor di basement Kanwil BRI Sumut, Jl Putri Hijau Medan, sore pukul 16.00 WIB. Saat itu pelaku bercanda dengan senjata laras panjangnya yang diarahkan ke arah korban, tiba-tiba senjata meletus. Peluru mengenai punggung hingga tembus ke dada korban.

22 Agustus:
polisi menembaki kapal yang ditumpangi para massa demonstran yang menuntut PT Medco memenuhi hak-hak warga atas pengeboran minyak di Pulau Tiaka. Akibat penembakan ini, dua warga meninggal yakni Ateng meninggal di tempat dan Turifin meninggal di RS Luwuk. Satu orang, Andri mengalami luka tembak di dada kanan.

6 Oktober: Salah satu takmir Masjid Agung Sumenep, RB Moh Ridwan (37), warga Pamolokan, KecamatanKota, tewas akibat peluru nyasar polisi. Peristiwa naas itu saat ada penyergapan tersangka pelaku pencurian sepeda motor di areal alun-alun kota Sumenep (Taman Bunga), Jalan Trunojoyo. Korban yang juga Wakil Ketua Partai Golkar Sumenep itu mengalami luka di kepala bagian kanan.

10 Oktober: Bentrokan antara karyawan PT Freeport dengan polisi menewaskan satu karyawan, Petrus Ayamseba. Bentrokan terjadi saat buruh mrlakukan aksi demo dan mogok kerja. Enam lainnya luka terkena peluru

28 Oktober: Kartono (31), warga Kampung Awi Mekar RT 10/05 Desa Cibungur, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, tewas akibat tertembak polisi. Saat itu, korban sedang berada di lokasi judi sabung ayam, Desa Cigelam, Kecamatan Babakan Cikao. Tapi, korban bukan pelaku perjudian, melainkan sekedar menonton sabung ayam.

10 November: 6 orang mengalami luka tembak dan 1 orang tewas (versi koalisi LSM). Mereka tewas ditembak polisi dlm konflik tanah antara petani dari Desa Sritanjung, Kagungan Dalam Kec. Tanjung Raya dan Nipah Kuning Kec. Mesuji Kabupaten Mesuji – Lampung sebagai plasma dengan PT. Barat Selatan Makmur Investindo (BSMI) selaku inti terhadap lahan sawit seluas 17 ribu ha.

27 November: Dua warga sipil asal Nanga Boyan, Kapuas Hulu, yakni Rajemah dan Totong, yg sedang berada di dalam mobil ditembak anggota Reskrim Polsek Parindu, Kalimantan Barat. Akibatnya empat polisi diperiksa Propam Polda Kalbar. Rajemah, terkena bagian telinga sebelah kiri dan Totong terkena bagian atas telinga kanan.

Terkait rilisan tersebut, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane menyayangkan tindakan oknum anggota polisi yang bertindak bak seorang koboi, dalam tregedi di Mesuji, Lampung dan aksi kekerasan lainnya juga di lakukan polisi di wilayah berbeda.

Menurutnya, aksi koboi polisi ini, ada dua katagori, yakni aksi main tembak dan aksi salah tembak. “Akibat polisi tindakan profesional, warga yang tidak berdosa menjadi korban,” terangnya.

Ia mencontoh aksi main tembak sering terjadi di sekitar wilayah tambang dan kawasan perkebunan. Sedangkan aksi salah tembak terjadi saat polisi sedang mengejar pelaku kriminal.

“Selain itu di tahun 2011 ini ada dua polisi yang menembak istrinya, satu tewas dan satu luka,” paparnya.

Hal ini juga diperparah dengan tidak adanya uang pengganti akibat kelalaian polisi terhadap warga. Salah satunya, para korban penembakan di Mesuji, Lampung, sampai sekarang mengaku belum mendapat bantuan biaya perawatan dari Polri.

“Padahal mereka menjadi korban penembakan membabi buta aparat keamanan di Lampung,” imbuhnya.

Korban aksi brutal kepolisian, akan terus bertambah jika IPW mau memasukkan penembakan-penembakan membabibuta yang dilakukan Densus 88 terhadap aktivis Islam. Semoga Allah memberikan pertolongan kepada mereka yang dizholimi. [GP]

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...