Sabtu, 07 Januari 2012

Cara Islam Mendidik Pencuri Sandal

Pencuri Ikan ?
Suara Pembebasan. Lihatlah bagaimana indahnya Islam saat mendidik anak untuk salat. Dengarlah pesan Rasulullah kepada orang tua yang memiliki buah hati berusia tujuh tahun. Ajarilah mereka salat. Jika sampai sepuluh tahun ia enggan, maka pukullah. Tentu bukan pukulan tanda benci. Tapi pukulan yang tidak membahayakan.

Bukan hanya isu Century yang bisa gunjang-ganjingkan negeri ini. Tak hanya skandal cek pelawatnya Nunun Nurbaeti yang bisa menggoyang Indonesia. Tapi seorang remaja tanggung asal Palu, pun mampu untuk itu. Hanya bermodal sepasang sandal jepit, jadilah ia buah bibir di semesta nusantara.

AAL namanya. Sang pencuri sandal jepit milik anggota kepolisian. Tidak tanggung-tanggung, oleh jaksa ia didera pasal 362 KUHP dengan ganjaran 5 tahun penjara. Seperti biasa, jika untuk rakyat jelata, tebasan pedang hukum sungguh tajam. Entah mengapa, bila untuk koruptor, mata pedang hukum itu menjadi majal.

Ternyata akhir kisahnya tak setragis yang dikira. Tidak ada hukuman penjara 5 tahun. Seperti yang dilansir www.tribunnews.com (4/1/12) AAL tetap dinyatakan bersalah. Sebab terbukti telah mencuri sandal jepit. Mengingat terdakwa masih muda, terdakwa dikembalikan kepada orang tuanya.

Tepatkah vonis bebas dijatuhkan kepada AAL? Sulit untuk menilai. Inilah yang menimbulkan pro-kontra di tengah-tengah masyarakat. Dipandang dari segi hukum, ALL jelas bersalah. Karena telah terbukti secara meyakinkan melakukan tindakan pidana, mencuri sandal. Olehnya itu dia harus dipidana. Hukum yang baik harus mampu menimbulkan efek jera pada diri pelaku. Dan memberikan efek prefentif (pencegahan) kepada masyarakat umum. Agar tidak melakukan hal serupa.

Nah, boleh jadi, masyarakat akan berkesimpulan, mencuri sajalah. Ujung-ujungnya pasti akan bebas. Apalagi jika pelakunya adalah remaja belia. Tidak ada efek jera dari vonis bebas AAL.

Namun jika dipandang dari segi kemanusiaan, tentu berbeda. Menghukum pencuri sandal dengan 5 tahun penjara, tidak manusiawi. Jangankan 5 tahun, memenjarakannya dalam waktu sejenak saja rasanya tidak tega. Apalagi seorang remaja. Masa depannya masihlah panjang. Adalah kesalah besar jika hanya karena penjara sehari dua hari, AAL kehilangan masa depannya yang masih membentang puluhan tahun.

Akhirnya, terjadilah tarik ulur kepentingan. Tolak ukur siapakah yang mau dipakai? Hukum ataukah sisi kemanusiaan? Bingung.

Begitulah jika standar nilai dikembalikan kepada manusia. Akan berlaku hukum rimba. Siapa yang lebih kuat dan berkuasa, maka standarnyalah yang dipakai. Boleh jadi karena maraknya tekanan masyarakat -dengan aksi pengumpulan sandal- telah memperngaruhi keputusan hakim. Tentu lain cerita jika pemeritah adalah rezim represif, pembungkam suara rakyat. Harapan AAL untuk bebas, tentulah sulit.

Lalu siapa sebenarnya yang paling tepat menentukan standar nilai kehidupan? Di alam demokrasi, siapapun boleh mengambil peran. Karena sudah harga mati bagi demokrasi bahwa, kedaulatan adalah di tangan rakyat. Padahal, rakyat adalah manusia biasa. Tempatnya salah dan sering khilaf. Jika pada mereka diberikan hak untuk menentukan standar kehidupan, maka seperti sekaranglah jadinya.

Ada Sanksi
Di sinilah Islam hadir untuk menyatukan standar nilai kehidupan. Islam sangatlah berbeda dengan demokrasi. Islam memiliki prinsip, kedaulatan adalah di tangan syara'. Manusia adalah pelaksana aturan. Bukan pembuat aturan. Andai saja kasus AAL diterawang dari kaca mata Islam, maka tuntaslah semuanya.

Islam memandang, kasus pencurian itu adalah tindakan kriminal. Ada sanksi untuknya. Bila ia telah baliqh dan mencuri sepertempat dinar (setara 1,0625 gram emas) atau lebih, maka baginya adalah hukum potong tangan. Bila lebih kecil dari itu, ada hukum lain. Negaralah yang berhak menentukan. Bisa dipenjara, diasingkan, dicambuk atau hukuman lain yang bisa membuat pelaku jera. Maka jika kasus AAL dipandang dari perspektif Islam, ia harus tetap dihukum. Apabila ia telah baligh dan terbukti meyakinkan telah mencuri.

Kejamkah hukum Islam bila begitu? Tidak. Kesalahan banyak orang saat ini adalah memandang hukum Islam secara sempit. Padahal syariat Islam laksana rantai yang saling menjalin satu dengan yang lain. Jika ingin menerapkan satu aspek, maka aspek yang lain pun harus ditegakkan. Bukankah kita telah diperintahkan untuk ber-Islam secara kaffah (menyeluruh/sempurna)?

Jadi jika ingin menerapkan hukum pidana Islam, maka sektor pendidikannya pun harus Islami. Tentu Indonesia tidak akan memiliki remaja seperti AAL jika pendidikan Islam yang diterapkan. Pendidikan yang tidak melulu mengandalkan aspek intelektual dan mengabaikan sendi akidah. Tengoklah sejarah peradaban dunia. Pendidikan Islam telah membuktikan mampu melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar di bidang sains. Ada Ibnu Sina, al-Khawarizmi, Al-Farabi dan masih banyak yang lain. Mereka adalah muslim luar biasa. Layak digelari ilmuwan nan cerdas, tidak salah pula jika digelari ulama yang tawadhu.

Lihatlah bagaimana indahnya Islam saat mendidik anak untuk salat. Dengarlah pesan Rasulullah kepada orang tua yang memiliki buah hati berusia tujuh tahun. Ajarilah mereka salat. Jika sampai sepuluh tahun ia enggan, maka pukullah. Tentu bukan pukulan tanda benci. Tapi pukulan yang tidak membahayakan. Sebagai perwujudan rasa sayang. Artinya ada tiga tahun jeda waktu untuk mendidik anak shalat. Mengajari tata cara shalat, meberitakan tentang keutaman shalat dan ancaman jika shalat diabaikan.

Boleh jadi AAL dan banyak remaja lain, tak pernah tersentuh Islam. Jauh dari agamanya sendiri. Kalau pun mempelajari, hanya kulitnya saja. Sambil lalu. Mereka tidak diajari untuk menjadikan Islam sebagai pandangan hidup. Juga tak pernah diajarkan tentang begitu berat sanksi Islam terhadap pelaku kriminal. Dan tentunya dosa besar yang harus ditanggungnya kelak di hadapan Allah.

Pendidikan Sekuler
Pelajaran seperti ini sulit kita temukan di alam demokrasi sekuler sekarang. Lihat saja di sekolah negeri. Porsi pendidikan agama sangatlah minim. Apalagi di perguruan tinggi. Agama hanya diajarkan dalam satu semester. Tidak perlu heran, jika sistem pendidikan sekuler akan menghasilkan luaran seperti AAL. Bagaimana dengan sekolah Islam? Juga dilema. Biasanya biaya sekolahnya lebih mahal. Hanya mampu tersentuh bagi yang berduit. Padahal anak bermasalah, rata-rata berada pada strata ekonomi lemah. Kalau pun ada sekolah Islam yang murah, fasilitasnya memprihatinkan.

Hukum dan pendidikan Islam pun tidak bisa diterapkan jika tidak didukung oleh dana yang memadai. Maka perlu sokongan ekonomi Islam. Ekonomi yang terbukti anti krisis. Ekonomi Islam hanya akan tegak ditangan ekonom yang paham syariah, kuat akidah dan berakhlak mulia. Karakter ekonom seperti itu hanya akan lahir jika pola pendidikannya Islami. Ini baru bicara keterkaitan antara tiga aspek. Hukum, pendidikan dan ekonomi. Belum lagi mengaitkannya dengan budaya, politik dan sendi kehidupan lain. Jadi sekali lagi, Islam adalah mata rantai yang saling berkait. Maka tidak bisa dikatakan, ôekonominya dululah yang disyariahkan, pendidikannya nanti saja. Atau, yang paling penting sekarang pendidikan Islami. Politik belakangan. Karena semua ini berkait. Jadi jika ingin Indonesia bahkan dunia sejahtera, terapkan aturan Islam. Tentu secara sempurna, bukan sebagian-sebagian. [GP]

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...