Senin, 07 November 2011

Pendapat Ulama Nusantara (H. Sulaiman Rasjid) Tentang Fardlunya Khilafah

Fiqh Islam
Suara Pembebasan. Oleh Mabsus Abu Fatih. Siapa yang tidak kenal H. Sulaiman Rasjid, penulis buku Fiqh Islam, salah satu buku yang pernah menjadi buku wajib pada sekolah menengah dan perguruan tinggi Islam di Indonesia dan Malaysia ini ?!.

Buku yang ditulis pada tahun 1954 tersebut, oleh sebuah penerbit di daerah Bandung, sejak 1994 hingga tahun 2009 telah dicetak sebanyak 44 kali !.

H Sulaiman Rasjid dengan nama asli Sulaiman Rasjid bin Lasa dilahirkan di Liwa-Lampung Barat pada tahun 1896. Beliau memperoleh pendidikan agama dari Perguruan Tawalib, Padang Panjang, Sumatera Barat. Sebelumnya beliau belajar pada Buya Kyai H. Abbas di Padang Japang. Pada tahun 1926 beliau belajar di sekolah guru Mualimin, Mesir; kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi Al-Azhar di Kairo, Mesir, Jurusan Takhassus Fiqh, dan selesai tahun 1935.

Sepulang dari Mesir beliau ditunjuk menjadi Ketua Panitia Penyelidik Hukum-hukum Agama di Lampung, menjadi Pegawai Tinggi Agama pada kantor Syambu (1937-1942), Kepala Jawatan Agama RI Jakarta (1947-1955), Staf Ahli pada Kementrian Agama RI dan sebagai asisten dosen I di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTIAIN) Jakarta (1958-1962), guru besar mata kuliah Ilmu Fiqh (1960), Rektor mata kuliah Ilmu Fiqh di IAIN Jakarta (1962-1964), dan menjelang masa pensiun, beliau sempat menjabat Rektor IAIN Lampung. Pada tgl 26 Januari 1976, dalam usia 80 tahun, beliau pulang ke Rahmatullah.

Yang menarik dari buku Fiqh Islam tersebut adalah pembahasannya yang cukup lengkap dan komprehensif. Dengan tebal sekitar 500 halaman, buku tersebut mengupas persoalan Fiqih mulai dari ibadah, muamalah, faraid, nikah, hudud, jinayat, jihad, hingga al-Khilafah.

Ketika membahas hukum membentuk Khilafah, beliau menyatakan “Kaum Muslimin (ijma’ yang mu’tabar) telah bersepakat bahwa hukum mendirikan khilafah itu adalah fardu kifayah atas semua kaum muslimin”. Adapun dalil yang dijadikan sandaran oleh beliau adalah:

1. Ijma’ Sahabat ketika mendahulukan permusyawarahan tentang khilafah daripada urusan Jenazah Rasulullah SAW.
2. Tidak mungkin dapat menyempurnakan kewajiban –misalnya membela agama, menjaga keamanan, dan sebagainya- selain dengan adanya khilafah.
3. Janji Allah bahwa kaum muslimin akan menjadi khalifah di muka bumi (QS an-Nur:55)

Pendapat H. Sulaiman Rasjid semakin menegaskan bahwa wajibnya khilafah bukanlah pendapat yang asing. Wajibnya khilafah adalah pendapat mayoritas ulama baik dari kalangan Ahlussunnah, Imam Mazhab, bahkan ulama Indonesia terdahulu. Maka, perjuangan penegakkan khilafah sejatinya didukung oleh seluruh umat Islam, termasuk di Indonesia. Allahua’lam bishowab. [GP]

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...