Rabu, 26 Oktober 2011

Suara Mbeling: Ngawur Tapi Kritis (Pojok Kajian Lepas)

Suara Mbeling
Suara Pembebasan. “Basis teori konflik didasari oleh paham perjuangan kelas (strunggle class) kaum marxis. “ begitulah bu Rok Mini mengawali kuliah hari ini. Dengan penampilanya yang kali ini radak ke ibu-ibuan, dia menjelaskan dengan sangat hati-hati dan penuh konsentrasi tinggi.

Teori tersebut dikemukakan oleh kaum marxis dalam bagian pertama karya Karl Mark, Manifesto Komunis. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa semua sejarah adalah semua perjuangan kelas dan perjuangan kelas hakiki adalah perjuangan antara kelas-kelas ekonomi. Mereka tidak menyangkal adanya berbagai konflik lain dalam masyarakat, tetapi menurut teori pejuangan kelas masalah utama dalam setiap masyarakat adalah konflik yang timbul antara pemilik alat-alat produksi (kaum borjuis) dan golongan yang harus hidup dari penggunaan alat-alat tersebut (kaum proletar).

Sederhananya, bu Rok mini ingin mengatakan kepada pembaca bahwa perubahan social meniscayakan adanya konflik. Kerena teori ini didasarkan pada materialisme historis, sehingga sudah lumrah bila konflik tersebut terjadi antara pemilik modal atau pemilik alat-alat produksi (kapitalis borjuis) dengan para kaum pekerja (buruh).

Lalu, pertanyaannya adalah apakah memang benar perubahan social meniscayakan adanya konflik (perjuangan kelas)?. Jika seluruh sejarah adalah sejarah perjuangan kelas bagaimana dapat dijelaskan kelangsuangan hidup manusia? Memang ada perjuangan kelas dalam sejarah, tetapi apakah hanya ada perjuangan kelas? Apakah sejarah juga bukan sejarah kerjasama antar kelas? Dalam suatu peperangan antara satu bangsa melawan bangsa yang lain, bukankah kelas-kelas saling bekerjasama di samping saling bertentangan?.

Jika pembaca perhatikan manusia, pembaca mendapatkan bahwa manusia adalah anggota kelas ekonomi, tetapi ia juga anggota suatu ras, baik putih, hitam atau coklat; ia dalah penganaut salah satu agama tertentu dalam bentuk apapun. Pendeknya ia adalah anggota suatu kelas, suatu bangsa, suatu ras dan suatu jenis pekerjaan tertentu.

Menurut teori perjuangan kelas, tidak peduli dari beberapa kelas pun seseorang jadi anggota, jika timbul suatu konflik, pada akhirnya factor keanggotan dalam kelas ekonomi akan mengatasi pertimbangan-pertimbangan lain. Benar atau salah? Kadang-kadang benar. Tetapi jika anda mempelajari kelas buruh di Amerika Serikat, apa yang anda jumpai? Buruh berkulit putih dan berkulit hitam, bukannya bersatu dan berjuang bersama-sama melawan kelas majikan, bahkan seringkali saling bertentangan dan bukan menyadari bahwa kepentingan mereka sebagai buruh adalah masalah dasar.

Atau situasi di Irlandia Utara dewasa ini. Kaum buruh protestan dan kaum buruh katolik, bukannya bersatu untuk bersama-sama memperjuangkan kepentingan mereka melawan apa dan siapapun yang berkuasa, malahan justru saling bertentangan. So, apakah teori tersebut masih relevan untuk pembaca ikuti?.[]wak

Silsilah Cecurut
Supeno, tukang batu kawin dengan Sunarti, penjual gudeg lahirlah Parto, Paidi, Parmin, Tiyem. Parto ke jakarta, ngamen ketemu Surti, tukang sapu jalan, kawin lahir Juki, Jamila. Paidi jual bakso di surabaya, bersebelahan dengan Lastri jual soto madura, cinta lokasi, kawin lahir Satija, Asmat (terpaksa mati pas umur 2 tahun, demam berdarah, biaya berobat gak ada). Parmin keseringan maen ama cewe, jadi bencong kampung, gak nafsu ama cewe, gak kawin-kawin. Tiyem jualan bakpia dikereta malam, kesemsem ama Robet, preman stasiun, beradu kelamin, hamil ditinggal kabur, mbrojol Narti. Tiyem bingung buat ngasih makan Narti, jadi perek stasiun, cebban sekali tancep. Satijan, mertua Supeno, buruh tani, bunuh diri, stress harga gabah gopek sekilo. Supeno banyak utang, dikejar-kejar rentenir, banting setir jadi bajing loncat di pantura. Tuan Presiden, asyik naikin harga BBM, jumlah pengamen, PKL, bencong, perek, bunuh diri, busung laper & maling, tambah asyik juga. Deep Reevan [GP]

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...