Selasa, 18 Oktober 2011

Refleksi KMII 2009: Mahasiswa Islam, Kini Saatnya Melihat Islam sebagai Masa Depan!

Sumpah Mahasiswa
Suara Pembebasan. Mahasiswa dan perubahan. Itulah dua kata yang tak mampu terpisahkan. Keduanya saling terkait erat. Tak bisa dipungkiri, kaum muda intelektual adalah salah satu unsure terpenting dari rekayasa perubahan di setiap bangsa. Mahasiswa telah menjadi mediator perubahan. Mahasiswa pun lebih lugas menjadi wakil rakyat sesungguhnya, yang menggelontorkan kegelisahan, kekhawatiran dan ketidaksukaan pada kekuasaan dibandingkan dewan parlemen.

Mahasiswa telah menjadi pelontar-pelontar suara pembebasan. Dia telah mengalirkan panasnya perjuangan dan ketidakpuasan masyarakat kepada aturan dan system yang berlaku pada zamannya. Tercatat dari awal kemerdekaan hingga saat ini, jalan perubahan itu telah menempatkan barisan mahasiswa menjadi pelindung perubahan yang juga telah membuka kembali gerbang-gerbang kebebasan dari kezhaliman.

Dua tahun silam, 5.000 mahasiswa turun ke halaman hall basket senayan. Mendeklarasikan Sumpah Mahasiswa yang kelak akan menjadi catatan sejarah kehidupan bangsa dunia. Deklarasi yang menggagas jalan perubahan baru, yang diorganisir oleh Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus. Kongres Mahasiswa Islam Indonesia, akan memberikan tinta emas tentang awal perjuangan dan makna perubahan sesungguhnya.

Kongres ini, lahir tatkala mahasiswa islam telah melihat secara realita bagaimana system saat ini memberikan efek yang dzhalim kepada masyarakat. Lihat saja, Banyak para lulusan perguruan tinggi yang terpaksa menganggur, tak dapat merealisasikan apa yang ia dapatkan, tak bisa menghasilkan apa yang sebaiknya ia lakukan.Fakta ini, Sistem ini pula, yang telah membiarkan masyarakat kelaparan dan miskin. Sementara, para penguasa berpura-pura bodoh dan menganggap bahwa kemiskinan telah jauh menurun dengan menurunkan angka-angka yang sebenarnya adalah kebohongan statistika.

Sistem yang membuat hak-hak rakyat diperjual-belikan kepada swasta. Emas, tembaga, perak dan minyak bumi hanya menjadi milik pribadi pihak swasta dan juga asing. Bahkan, saat ini Negara tak mampu menekan PT Freeport Indonesia dalam mengambil haknya yang sekedar 3,75%. Lihatlah, Negara kalah dengan asing dan tak mampu mengambil haknya yang padahal itu masih jauh dari harapan. Negara pula terpaksa membiarkan PT Pertamina berjuang sendirian menghadapi perusahaan-perusahaan asing yang mengelola kekayaan Negara. Bahkan, Pemerintah sepertinya lebih menyukai perusahaan-perusahaan asing dan swasta yang tak lain adalah pemilik modal sekaligus penyokong dana politik.

Sistem ini pula yang telah menunjukan ketidak-adilan. Kita melihat bagaimana seorang nenek yang hanya mencuri 3 buah kakao divonis 3 bulan penjara, sementara itu para narapidana korupsi hanya dituntut hukuman yang ringan. Padahal negara ini hamper bangkrut pula gara-gara mereka. Ketidak-adilan pun terlihat dalam kebiasaan para pejabat yang bermewah-mewahan tatkala rakyat pada hidup dalam kesusahan. Dan ternyata pintu-pintu hati mereka tak pernah merasakan penderitaan nyata rakyat. Padahal, saya yakin benar, mereka melihat anak-anak jalanan bermain-main dengan gitarnya, tak terurus dan dalam kondisi yang memprihatinkan.

Sistem saat ini pula memaksa pendidikan berharga mahal dan tak terjangkau. Semakin baik kualitasnya, maka semakin mahal harga yang harus didapatkan. Sehingga, kita dapat menyaksikan bagaimana di beberapa sekolah, bangunannya tak layak guna dan akhirnya menjadikan muridnya sebagai korban dari kebiadaban itu. Pendidikan sekuler saat ini pula yang telah menggugurkan kembalinya para mujahid-mujahid muda yang dapat memimpin kegemilangan dengan islam. Karena, secara nyata sistem ini telah memisahkan agama dengan kehidupan.

Masa Depan Milik Islam
Sahabat-sahabat yang sadar dengan perubahan. Kita tidak pernah sendirian berjuang dalam menuju kebangkitan ini. Pernah ada 5.000 orang yang berdeklarasi bersama untuk menuntaskan masalah bangsa ini menemui titik intinya. Perjuangan ini bakal menemui jalan pahit, terjal sekaligus penuh kesulitan. Dan perjuangan itu tidak lain adalah usaha membangunkan kembali raksasa yang tertidur. Islam harus dibangunkan kembali, dari tragedi-tragedi dan usaha untuk menguburkannya.

Untuk menghadapi perjuangan yang pahit itu kita harus mempersiapkan diri-diri kita. Karena sesungguhnya, hakikat keimanan kita kepada Allah harus berada pada titik kesadaran penuh yang pada akhirnya menyadarkan betapa pentingnya kita untuk kebangkitan ini.

Mahasiswa islam, bangkitlah! Temui pribadi-pribadi anda dengan layak menjadi mahasiswa yang membawa arus perubahan. Harapan ini berada sejalur dengan perjuangan kita. Hari ini, kita tak sekedar mengganti rezim, tetapi mengusangkan sistem yang ada. Sangat ironis bila kita terus mengatakan sumpah setia kepada sistem dan kekuasaan ini.

Dan mari kita lihat kembali isi teks sumpah mahasiswa itu. Agar kita ingat letak dasar perjuangan kita menuju masa depan islam yang gemilang. “…Oleh karena itu, setelah kami melihat, mencermati dan menganalisa fakta kerusakan yang ada serta merumuskan kondisi ideal, maka demi Allah, Zat yang jiwa kami berada dalam genggaman-Nya, kami mahasiswa Indonesia bersumpah :
1. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa sistem sekuler, baik berbentuk kapitalis-demokrasi maupun sosialis-komunis adalah menjadi sumber penderitaan rakyat dan sangat membahayakan eksistensi Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.

2. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa kedaulatan sepenuhnya harus dikembalikan kepada Allah SWT – Sang Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan – untuk menentukan masa depan Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.

3. Dengan sepenuh jiwa, kami akan terus berjuang tanpa lelah untuk tegaknya syari’ah Islam dalam naungan Negara Khilafah Islamiyah sebagai solusi tuntas problematika masyarakat Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.

4. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan kepada semua pihak bahwa perjuangan yang kami lakukan adalah dengan seruan dan tantangan intelektual tanpa kekerasan.

5. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan bahwa perjuangan yang kami lakukan bukanlah sebatas tuntutan sejarah tetapi adalah konsekuensi iman yang mendalam kepada Allah SWT.”

Kini, saya bertanya kepada mahasiswa muslim, siapkah anda menjadi mortar-mortir perjuangan untuk menuju masa depan milik islam sesungguhnya? Ingatlah, Sesungguhnya kita akan berakhir kepada dua muara yaitu Surga dan Neraka. Dan kedua tempat itu, telah memilih siapa saja yang berhak menempatinya. Wallahu ‘alam bisshowwab.

Rizqi Awal

BE Koordinator Nasional BKLDK
[GP]

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...