Selasa, 18 Oktober 2011

Nasib Sarjana di Negeri Pengangguran, Parodi Paradoks

SARJANA
Suara Pembebasan. Sebuah perusahaan besar bertaraf nasional membuka peluang kerja bagi sarjana-sarjana muda yang baru lulus/ memiliki pengalaman kerja, yang dibutuhkan adalah bidang administrasi HRD. Penulis sebenarnya berniat untuk bekerja di perusahaan tersebut karena “Perintah Orang tua dan penasaran dengan HRD,lamaran itu sudah dikirim 1 bulan yang lalu dan baru hari sabtu ini tanggal 8 oktbr, penulis dipanggil untuk tes tertulis. dari sekian lamaran (500an lamaran sejak tgl 6 oktbr) hanya 25 orang yang disuruh tes tertulis. penulis juga bingung, kog lamarannya masih disimpan padahal sudah 1 bulan yang lalu.

Tes hari pertama adalah psikotes.. penulis juga kaget tesnya, karna baru pertama kali tes psikotes itu, ada hitungan2 ribet dah.. jadi penulis memang sudah sejak awal berkomitmen, kalau diterima,yah syukur kalau nggak yah sudahlah. Rezeki ditangan Allah swt dan terlaksana perintah orang tua. kemudian setelah ujian selesai, 2 jam kemudian di hari yang sama, dihubungi oleh perusahan tersebut untuk interview hari senin. Penulis heran padahal tes psikotesnya “hasilnya jelek bangat”. Tetapi tidak tau kenapa terpilih.

Penulis kemudian mencari informasi apa saja yang akan ditanyakan untuk “Interview” ini. Penulis mendapat sumber dari seorang adik kelas, kalau pertanyaanya, kepribadian, kelemahan/kekurangan, biodata. Lalu penulis membaca “CV” yang dibuat, membaca ttg perusahaan tersebut.

Hari ini, tepat tanggal 10 oktbr, ternyata ada 9 orang yang lolos untuk tes tahap selanjutnya yaitu interview. Jangan ditanya, siapa saja pesertanya, yang jelas mereka punya pengalaman kerja, yang pernah mengikuti beberapa kali interview, dan ini pengalaman pertama penulis.

Setelah beberapa jam dipanggil, penulis mendapat urutan ke 7 dari 9 orang peserta. penulis sudah bertanya-tanya ke peserta yang lain apa saja yang ditanyakan.. lalu tibalah saatnya penulis memasukin ruangan…

Seorang manager HRD, non muslim, bermata “cipit”alias cina menunggu diruangan, penulis masuk tanpa bersalaman (aduh kelupaan). Hal yang diawal bertanyaa tentang nama, lulusan,kenapa tidak mimilih kerja di jawa secara lulusan luar (jawa), penulis jawab sesuai pertanyaan, pertanyaan berlanjut kepada “ORGANISASI”, organisasi yang pernah diikuti lembaga formal atau tidak? penulis menjawab sesuai di CV dan yg terakhir adalah komunitas gaul sehat.lalu pertanyaanya : “apa yang disoroti komunitas tersebut?“ penulis menjawab : “Pergaulan mahasiswa”.. lalu pertanyaan : “memang ada apa dengan pergaulan mahasiswa?” lalu penulis menjawab tentang kondisi pergaulan mahasiswa sekarang. lalu pertanyaan selanjutnya : “saya membaca di internet ternyata dijabotabek, 50 % banyak perempuan tidak perawan” penulis mengangguk-angguk . Kemudian beliau memberikan opini : “saya melihat mahasiswa sekarang tidak lagi seperti dulu, banyak yang tawuran, kemudian..demo, apakah ini terjadi karena mahasiswa ditunggangi partai politik tertentu?” beliau kemudian memaparkan fakta-fakta mahasiswa demo yang itu menurutnya tidak intelektual.

Tentu demo dimaksudkan yang anarkis atau damai. Suara mereka akan percuma karena tidak sampai ke pejabatnya. Beliau berfikir tidak ada gunanya. Lalu penulis bertanya : “apabila dengan diskusi politik bagaimana pak?” beliau menjawab : “itu lebih baik, diskusi ,seminar, menghadiri orang-orang yang punya kebijakan tersebut, itu lebih intelektual dari pada demo.” Penulis lalu berfikir bagaimana yah “aksi” mahasiswa yg tidak anarkis itu diterima beliau, penulis tidak ingin melewatkan kesempatan ini, walaupun pada akhirnya penulis ditolak secara pekerjaan, lalu penulis berkata setelah beliau selesai bicara : “menurut saya, adanya mahasiswa idealis, yang melakukan aksi (demo ini) yang tidak anarkis agar opini yang mereka sampaikan bisa sampai ke masyarakat, karena bisa jadi aksi mereka diliput media tv dan media cetak. Setelah itu, beliau terdiam dan mengalihkan topik yang lain. Jika dilihat waktunya, interview ini dibandingkan teman-teman yang lain, interview ini lebih lama dan berbeda dengan yang lain hanya ditanya kuliah dan pengalaman kerja. Pertanyaan lebih banyak : mahasiswa, politik,organisasi.

Mungkin inilah perbedaan jika pertemuan dua orang manusia yang “melek” bangat dengan “politik&fakta yang ada” walaupun berbeda keyakinan, ras & suku. Penulis merasa jawaban penulis tidak memuaskan karena penulis berhadapan dengan orang yang berbeda keyakinan. “Bahasa Islam belum bisa disampaikan & solusinya”.

Ini adalah kisah interview pertamaku,yang ternyata lebih mengasyikan dari pada interview yang ditanya :kepribadian& Kuliah . Setelah interview ini ,ada beberapa tes yang penulis ikutin. Penulis yakin Rezeki di tangan Allah swt, Jika dengan interview tadi, penulis ditolak yah tidak apa2. Semoga Allah swt berikan terbaik. Penulis juga tak ingin mahasiswa begitu jelek dimata beliau walaupun berbeda keyakinan. [GP]

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...