Rabu, 26 Oktober 2011

Membongkar kesesatan dan kekejaman Rezim Suriah

Rezim Suriah
Suara Pembebasan. Pengantar; Seorang pendeta Yahudi bernama Abdullah bin Saba’ berpura-pura masuk Islam untuk menghancurkan Islam dari daIam. Ia menampakkan dirinya sebagai seorang yang shalih dan hidup zuhud. Di tengah masyarakat Mesir, Kufah, dan Bashrah, ia menyebarkan pendapat sesat bahwa Ali bin Abi Thalib RA adalah orang yang diberi wasiat oleh Rasulullah SAW untuk menjadi khalifah sepeninggalnya. Ia juga memprovokasi masyarakat dengan menyebut Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah para penjahat yang bersekongkol merebut jabatan kekhalifahan dari Ali.

Dengan provokasi terus-menerus, banyak orang-orang bodoh di Mesir, Kufah, dan Basrah yang menjadi pengikutnya. Ia menggerakkan mereka untuk mengepung rumah khalifah Utsman di Madinah, sehingga berujung kepada pembunuhan khalifah Utsman oleh mereka. Kekacauan itu disusul dengan pengangkatan Ali sebagai khalifah. Namun gejolak belum padam, sehingga terjadi perang Jamal dan perang Shiffin, yang disusul dengan perundingan (tahkim) pihak Ali dan pihak Mu’awiyah di Daumatul Jandal pada tahun 36 H.

Dampak dari peristiwa itu, barisan Ali terpecah menjadi tiga golongan; mayoritas kaum muslimin yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kelompok sesat Khawarij, dan kelompok Syi’ah. Semula kelompok Syi’ah hanya mengganggap Ali lebih layak menjadi khalifah, dan mereka tidak mengkafirkan Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Namun dalam perkembangannya, sebagian kelompok Syi’ah bersikap ekstrim dengan mengkafirkan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan seluruh shahabat yang mereka tuding ‘bersekongkol mengkudeta’ Ali.

Dalam perkembangannya, kelompok Syi’ah terpecah menjadi 20 sekte; dua sekte Syi’ah Kaisaniyah, tiga sekte Syi’ah Zaidiyah, dan lima belas sekte Syi’ah Imamiyah. Kelompok Syi’ah menjadi induk semang bagi kelompok Nushairiyah adalah Syi’ah Imamiyah.

Syi’ah Imamiyah terpecah menjadi lima belas sekte akibat perbedaan pendapat yang sangat tajam di antara mereka sendiri. Mereka meyakini kekhilafahan adalah hak Ali bin Abi Thalib, lalu ia mewasiatkan kedudukan itu kepada anaknya, Hasan bin Ali. Hasan bin Ali mewasiatkan penggantinya adalah saudaranya, Husain bin Ali. Husain bin Ali lalu mewasiatkannya kepada anaknya, Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali. Ali Zainal Abidin mewasiatkan kepada anaknya, Muhammad Al-Baqir. Muhammad Al-Baqir lalu mewasiatkannya kepada anaknya, Ja’far Ash-Shadiq.

Setelah itu, mereka terpecah menjadi dua sekte karena berselisih tajam tentang keturunannya yang menggantikannya sebagai khalifah:

Satu sekte meyakini penggantinya adalah anaknya, Ismail. Mereka adalah kelompok Syi’ah Ismailiyah. Mereka terpecah lagi dalam banyak kelompok, namun pada saat ini yang eksis adalah tiga kelompok besar:
Ismailiyah Musta’liyah (kelompok Baharah)
Ismailiyah Nizariyah (kelompok Agha Khan)
Sekte Druz

Satu sekte meyakini penggantinya adalah Musa Al-Kazhim. Mereka adalah kelompok Syi’ah Itsna ‘Asyariyah atau juga disebut Syi’ah Ja’fariyah. Di Libanon, mereka disebut Mutawilah. Syi’ah Itsna ‘Asyariyah adalah kelompok terbesar dan terpenting dalam kelompok induk Syi’ah Imamiyah. Mayoritas Syi’ah di Iran, Irak, Pakistan, Lebanon, dan Jazirah Arab (Saudi Arabia, Bahrain, dan lain-lain) beraliran Syi’ah Itsna ‘Asyariyah. Dari aliran ini pula timbul banyak pecahan, yang salah satunya adalah Nushairiyah.

(Dr. Sulaiman Al-Halabi, Thaifah An-Nushairiyah Tarikhuha wa Aqa’iduha, Kuwait: Ad-Dar As-Salafiyah, cet. 2, 1404 H, hal. 21-26)

Syi’ah Ekstrim
Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi sukses memecah belah kaum muslimin menjadi dua golongan:ahlus sunnah wal jama’ah dan Syi’ah. Namun ia tidak berhenti di situ saja. Ia berusaha keras menyesatkan dan mengeluarkan pengikutnya, kelompok Syi’ah (Syi’ah Sabaiyyah), dari agama Islam. Maka ia menampakkan dirinya sebagai orang yang shalih, bertakwa, zuhud, berilmu, dan pembela Ahlul Bait. Ia mengajarkan kepada pengikutnya, bahwa Allah SWT menyatu dalam diri Ali bin Abi Thalib sehingga Ali memiliki unsur ketuhanan dan karenanya harus disembah. Hal ini sama persis dengan ajaran Paulus, pendeta Yahudi yang pura-pura masuk Kristen untuk menghancurkan Kristen dari dalam. Paulus mengajarkan kepada pengikut Kristen bahwa Allah SWT bersatu dengan diri Isa Al-Masih (mereka menyebutnya: Yesus Kristus) sehingga ia memiliki unsur ketuhanan dan harus disembah.

Orang-orang bodoh yang belum lurus keislamannya tertipu oleh ajaran palsu Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi. Syarik Al-Amiri berkata: “Dilaporkan kepada amirul mukminin Ali bin Abi Thalib bahwa di sini (kufah) di depan pintu masjid ada sebuah kaum yang mengakui engkau (Ali bin Abi Thalib) adalah tuhan sesembahan mereka.” Maka Ali memanggil mereka dan menanyai mereka, “Celaka kalian ini, apa yang kalian katakan?” Mereka menjawab, “Engkau adalah Tuhan kami, Pencipta kami, dan Pemberi rizki kami.” Ali menjawab, “Celaka kalian. Aku hanyalah seorang hamba seperti kalian. Aku makan sebagaimana kalian makan dan aku minum sebagaimana kalian minum. Jika aku menaati Allah, maka jika Allah berkeendak niscaya Dia memberiku balasan pahala. Dan jika aku mendurhakai Allah, maka aku khawatir jika Allah mengadzabku. Maka takutlah kalian kepada Allah dan kembalilah kepada kebenaran!” Ali memberi mereka waktu tiga hari untuk bertaubat. Namun mereka telah gelap hati dan memegang teguh kesesatannya. Setelah didakwahi selama tiga hari namun mereka tetap bertahan di atas keyakinan mereka, maka Ali memerintahkan penggaian parit-parit di depan masjid Kufah, lalu ia memerintahkan agar mereka dibakar hidup-hidup karena telah murtad. (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 12/309-310 hadits no. 6922)

Semboyan dan ajaran mereka lalu diikuti oleh banyak orang Yahudi dan orang Majusi Persia yang hendak merusak Islam dari dalam. Orang-orang Majusi menaruh dendam kesumat kepada Islam dan kaum muslimin karena kaum muslimin telah meruntuhkan kejayaan Imperium Persia yang berkuasa di muka bumi selama 12 abad lamanya. Kaum Yahudi menaruh dendam karena kaum muslimin telah mengalahkan Yahudi Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, Bani Quraizhah, Yahudi Khaibar, dan mengusir kaum Yahudi dari Jazirah Arab.

Cara terbaik bagi mereka untuk memuluskan program jahatnya adalah bergabung dengan kelompok Syi’ah dengan kedok membela Ahlul Bait. Mereka memasukkan akidah-akidah Yahudi, Majusi, Budha, dan musyrikin lainnya ke dalam kelompok mereka. Akibatnya, akidah mereka sangat berbeda dengan akidah kelompok Ahlus Sunnah dan Syi’ah moderat. Mereka lantas dikenal sebagai Syi’ah Ekstrim.

Imam Asy-Syahrastani menulis, “Al-Ghulat (kaum ekstrim) adalah nama untuk orang-orang yang bersikap ekstrim terhadap para imam mereka, sehingga mereka mengeluarkan para imam mereka dari batasan kemanusiaan dan mengangkat mereka kepada derajat ketuhanan.Terkadang mereka menyerupakan salah seorang imam dengan Tuhan Yang berhak disembah. Terkadang mereka juga menyerupakan Tuhan Yang berhak disembah dengan makhluk. Mereka berada di antara sikap terlalu berlebihan dan terlalu meremehkan. Syubhat-syubhat mereka timbul dari paham-paham hululiyyah (paham yang menyatakan Allah menitis pada semua makhluk-Nya; semua makhluk di alam semesta adalah wujud dari Allah), paham reinkarnasi, agama Yahudi dan Nashrani. Karena kaum Yahudi menyerupakan Al-Khaliq (Sang Pencipta) dengan makhluk, sedangkan Nashrani menyerupakan makhluk dengan Al-Khaliq. Syubhat-syubhat tersebut merambah pikiran orang-orang Syi’ah ekstrim, sehingga mereka memberlakukan sifat-sifat Tuhan untuk diri para imam mereka.” (Al-Milal wan Nihal (dicetak sebagai catatan kaki Al-Fishal fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal), 1/10).

Sejarawan dan sosiolog muslim, imam Ibnu Khaldun menulis: “Di antara kelompok Syi’ah terdapat beberapa kelompok yang disebut kelompok ekstrim. Mereka melampaui batas normal akal dan iman dengan meyakini ketuhanan para imam mereka. Baik dengan meyakini bahwa para imam mereka adalah manusia yang memiliki sifat-sifat Tuhan, maupun meyakini bahwa Tuhan bersemayam dalam jasad manusiawi mereka. Itulah pendapat hululiyah yang bersesuaian dengan keyakinan kaum Nashrani bahwa Tuhan bersemayam dalam jasad Isa bin Maryam.” (Muqaddimah Ibnu Khaldun, hlm. 832)

Seorang ulama besar kelompok Syi’ah Itsna Asyariyah, Asy-Syaikh Al-Mufid, menulis: “Kelompok ekstrim yang berpura-pura menampakkan keislaman adalah orang-orang yang menisbahkan Ali dan para imam anak keturunannya kepada derajat ketuhanan dan kenabian. Mereka menyematkan sifat-sifat keutamaan dalam urusan agama dan dunia kepada Ali dan para imam anak keturunannya sampai melampaui batas dan keluar dari tujuan sebenarnya. Maka mereka adalah kaum yang sesat dan kafir. Amirul Mukminin Ali ‘alaihis salam telah memvonis mereka kafir dan keluar dari Islam.” (Thaifah An-Nushairiyah, hlm. 30)

Awal Pembentukan Nushairiyah

Nushairiyah adalah gerakan Bathiniyah Syi’ah ekstrim yang muncul pada abad ketiga hijriyah. Nama Nushairiyah diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Nushair An-Numairi, yang memiliki kunyah (nama panggilan) Abu Syu’aib. Ia berasal dari Persia dan merupakan seorang penganut Syi’ah Itsna ‘Asyariyah. Ia hidup sezaman dengan tiga imam Syi’ah Itsna Asyariyah, yaitu imam kesepuluh Ali Al-Hadi (214-254 H), imam kesebelas Hasan Al-Askari (230-260 H), dan imam fiktif (imam Al-Mahdi Al-Muntazhar) Muhammad bin Hasan Al-Akari (255 H…). Menurut para pakar sekte Syi’ah, pada awalnya ia adalah maula (budak yang dimerdekakan) oleh imam kesebelas kaum Syi’ah, Al-Hasan Al-‘Askari. Namun Al-Hasan Al-‘Askari memiliki sikap yang keras Abu Syu’aib karena Abu Syu’aib memiliki banyak keyakinan dan ucapan kufur.

Abu Syu’aib terlibat perselisihan yang tajam dengan para pengikut Syi’ah Itsna ‘Atsariyah lainnya. Ia mengklaim dirinya sebagai al-bab (penghubung antara kaum syi’ah dengan imam mereka) bagi imam ke-11 Al-Hasan Al-Askari dan imam ke-12, Muhammad bin Hasan Al-Askari yang dijuluki Al-Mahdi Al-Muntazhar. Klaim ini ditolak oleh seluruh kelompok Syi’ah Itsna ‘Asyariyah lainnya. Karena menurut mereka, al-bab bagi imam ke-11 adalah empat orang, yaitu Utsman bin Sa’id Al-‘Amri, Muhammad bin Utsman bin Sa’id, Husain bin Ruh An-Naubakhti, dan Ali bin Muhammad As-Samiri. (Dr. Muhammad bin Ahmad Al-Khathib, Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Al-Islami: Aqaiduha wa Hukmul Islam fiiha, Oman: Maktabah Al-Aqsha, cet. 2, 1406 H, hlm. 322-323 dan Ath-Thusi, Kitab Al-Ghaibah, hlm. 241-242)

Akibat perselisihan ini, Ibnu Nushair kemudian memisahkan diri dan membentuk kelompok sendiri yang kelak disebut NUSHAIRIYAH. Ia memimpin kelompok Nushairiyah sampai ia meninggal, tahun 260 H (ada juga pakar sejarah yang menyatakan ia meninggal tahun 270 H).

Sebagaimana seluruh sekte Syi’ah ekstrim lainnya, Nushairiyah juga meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Ilah (Tuhan yang berhak disembah). Sumber-sumber Syi’ah sendiri menyebutkan bahwa Al-Hasan Al-‘Askari menulis surat peringatan kepada para pengikutnya yang isinya, “Sesungguhnya aku berlepas diri kepada Allah dari Ibnu Nushair An-Numairi dan Ibnu Baba Al-Qumi. Aku berlepas diri dari keduanya. Aku memperingatkanmu dan memperingatkan seluruh mawali (pengikut)ku dari keduanya. Aku memberitahukan kepada kalian bahwa aku melaknat kedua orang itu. Semoga laknat Allah ditimpakan kepada keduanya. Keduanya adalah tukang pembuat fitnah dan perusuh. Semoga Allah menyiksa keduanya, mengirimkan keduanya ke dalam fitnah, dan menjungkir balikkan keduanya di atas fitnah.” (As-Sayid Abdul Husain Mahdi Al-Askari Asyi’i, Al-‘Alawiyyun aw An-Nushairiyyah, hlm. 4)

Al-Hasan Al-‘Askari mengutuk Ibnu Nushair karena ia mengklaim dirinya sebagai nabi dan al-bab (pintu penghubung dengan imam Al-Mahdi Al-Muntazhar, imam ke-12 versi Syi’ah), mengklaim para imam ahlul bait adalah Ilah (tuhan yang berhak disembah), meyakini reinkarnasi, menghalalkan khamr dan homoseksual, dan pendapat-pendapat keji lainnya.

Seluruh literatur Syi’ah sendiri mengakui bahwa Ibnu Nushair An-Numairi telah mengkaim dirinya sebagai seorang nabi dan al-bab, meyakini ketuhanan Ali dan ahlul bait, meyakini reinkarnasi, menghalalkan homoseksual dan khamr, dan perbuatan bejat lainnya. Berita lengkap tentang Ibnu Nushair juga ditulis oleh ulama Syi’ah, As-Sayid Abdul Husain Mahdi Al-Askari Asy-Syi’i, dalam bukunya yang berjudul “Al-‘Alawiyyun aw An-Nushairiyah” dengan mengambil rujukan kepada sumber-sumber terpenting (para ulama besar) Syi’ah seperti Sa’ad Al-Qumi (dalam bukunya Al-Maqalat wal Firaq), An-Naubakhti (dalam bukunya Firaq Asy-Syi’ah), Abu Umar Al-Kasyi (dalam bukunya Rijalul Kasyi), Abu Ja’far Ath-Thusi (dalam bukunya Rijaluth Thusi dan Kitab al-Ghaibah), Al-Halabi (dalam bukunya Ar-Rijal), Ath-Thibrisyi (dalam bukunya Al-Ihtijaj), dan DR. Musthafa Asy-Syibi (dalam bukunya Ash-Shilah baina At-Tashawwuf wa at-Tasyayyu’).

Ulama besar Syi’ah Itsna Asyariyah abad 3 H, Sa’ad bin Abdullah Al-Qumi (mati tahun 301 H) menulis: “Telah menyimpang satu kelompok dari kelompok-kelompok (Syi’ah Itsna ‘Asyariyah—edt) yang mengatakan keimaman Ali bin Muhammad pada masa hidupnya. Kelompok yang menyimpang ini mengakui kenabian seorang laki-laki yang dikenal dengan panggilan Muhammad bin Nushair An-Numairi yang telah mengklaim dirinya sebagai nabi dan rasul. Ia mengklaim bahwa imam Ali bin Muhammad Al-Askari telah mengutusnya sebagai rasul. Ia meyakini reinkarnasi, bersikap ekstrim tentang diri Abul Hasan (Ali bin Abi Thalib–edt) dengan menyatakan Abul Hasan adalah Rabb (Tuhan Sang Pencipta, Pengatur alam, dan Pemberi rizki—edt). Ia menghalalkan menikahi wanita-wanita mahram dan memperbolehkan laki-laki menikahi laki-laki pada duburnya (homoseksual), dan menyatakn hal itu adalah bukti tawadhu’ (kerendahan hhati) dan penghinaan diri terhadap obyek seksual…” (Al-Maqalat wal Firaq, hlm. 100-101)

Ulama besar Syi’ah Itsna ‘Asyariyah yang lain, An-Naubakhti (mati tahun 310 H) dalam bukunya Firaq Asy-Syi’ah juga menyebutkan fakta yang sama. Ulama besar fiqih di kalangan Syi’ah Itsna ‘Asyariyah, Abu Ja’far Ath-Thusi, dalam bukunya Kitab Al-Ghaibah menjuluki Ibnu Nushair An-Numairi sebagai orang atheis, menyimpang, dan bodoh.

Penjelasan para ulama Syi’ah Itsna ‘Asyariyah pada abad-abad terdahulu ini ditegaskan kembali oleh seorang ulama besar Syi’ah Itsna ‘Atsariyah kontemporer, Muhammad Ridha Syamsudin. Ia diutus oleh Abdul Hadi Asy-Syairazi, pemimpin ulama besar Syi’ah Istna ‘asyariyah di kota ilmu mereka, Nejef, untuk mengunjungi dan meneliti keadaan kelompok Nushairiyah di Suriah, tahun 1376 H. Dalam laporan kunjungan tersebut, Muhammad Ridha Syamsudin menulis:

“Sesungguhnya kelompok Nushairiyah sampai hari ini masih memegang teguh pemikiran pemimpin mereka, Muhammad bin Nushair.” Ia menyebutkan bahwa kunjungannya disambut dengan hangat oleh kelompok Nushairiyah. Hanyasaja ia memperhatikan bahwa kelompok Nushairiyah sama sekali tidak peduli dengan kewajiban-kewajiban agama seperti shalat, shaum, haji, dan di wilayah mereka tidak ada masjid. Ia juga mendapati keyakinan reinkarnasi masih tersebar merata di antara mereka.

Kesaksian ulama besar Syi’ah Itsna Atsariyah ini merupakan bukti sangat otentik dan valid dari kalangan mereka sendiri. Kesaksian hasil kunjungan di tahun 1376 H itu dituangkannya dalam bukunya yang berjudul Al-‘Alawiyyun fi Suriyah, dan dimuat pula oleh ulama Syi’ah lainnya, As-Sayid Abdul Husain Asy-Syi’i dalam bukunya, Al-‘Alawiyyun aw An-Nushairiyyah.

Perlu dicatat, Ibnu Nushair bukanlah orang Syi’ah pertama yang mengklaim Ali bin Abi Thalib dan para imam anak keturunannya adalah Rabb, Ilah, dan mengetahui ilmu tentang hal-hal ghaib. Orang pertama yang melakukan hal itu adalah Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi, yang hidup di zaman Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Pengikutnya dikenal dengan sebutan Syi’ah Saba’iyah. Setelah itu muncul Bayan dengan kelompoknya, Syi’ah Bayaniyah, yang meyakini Allah bersatu dengan jasad Ali bin Abi Thalib, sehingga Ali mengetahui segala hal yang ghaib.

Setelah itu, muncul Abul Khathab dengan kelompok Syi’ah Khathabiyah yang mengklaim para imam adalah Tuhan-tuhan yang harus disembah. Imam Ja’far Ash-Shadiq berlepas diri dari Abul Khatab, mencelanya, dan mengusirnya. Setelah itu, kesesatan Abul Khatab justru semakin menjadi-jadi. Ia mengklaim dirinya adalah Tuhan. Ibnu Nushair An-Numair banyak mengambil pemikiran Khathabiyah sebagai pijakan akidah kelompoknya. (Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Al-Islami, hlm. 324 dan Al-Maqalat wal Firaq hlm. 63)

Khathabiyah adalah kelompok ekstrim Syi’ah pengikut Abul Khathab Al-Mukhallis Muhammad bin Abu Zainab Al-Kahili. Menurut kelompok Nushairiyah, ia adalah al-bab bagi imam ke-7 kelompok Syi’ah Itsna ‘Asyariyah, Musa al-Kazhim. Abu Khatab adalah tokoh panutan Nushairiyah, karena dari dirinyalah Nushairiyah mengambil pendapat bersatunya Allah dengan jasad Ali bin Abi Thalib dan para imam ahlul bait. Murid utama Abul Khatab adalah Mufadhal bin Umar Al-Ju’fi, tokoh yang menulis buku Al-Haft wa Al-Azhilah. Buku ini diyakini oleh kelompok Nushairiyah sebagai kitab ‘suci’ mereka.

Barangkali satu-satunya hal yang berubah hanyalah sikap Syi’ah Itsna Asyariyah tempo dulu dengan sikap kontemporer mereka terhadap sekte Nushairiyah. Imam kesebelas ahlul bait dan tokoh-tokoh ulama Syi’ah Itsna Atsariyah tempo dulu sepakat menghujat Nushairiyah. Namun, sekarang para tokoh Syi’ah Itsna Atsariyah telah merangkul dan mengakui sekte Nushairiyah sebagai bagian tak terpisahkan dari Syi’ah Itsna Atsariyah. Pemimpin ulama Syi’ah Itsna Atsariyah di kota ilmu, Nejef, Abdul Hadi Asy-Syairazi telah menegaskan hal itu dalam bukunya yang berjudul “Al-‘Alawiyyun Syi’atu Ahlil Bait.”

Realita kontemporer memang menjadi bukti tak terbantahkan atas persatuan Syi’ah Itsna ‘Asyariyah dan Nushairiyah. Sebagai sesama syi’ah ekstrim yang memiliki banyak akidah kufur (meyakini unsur ketuhanan pada diri Ali dan imam-imam ahlul bait, meyakini para imam memiliki pengetahuan tentang hal-hal yang ghaib, meyakini para imam berkuasa mengatur kehidupan seluruh makhluk, dst), amat wajar bila anak bernama Nushairiyah ini pulang kandang ke pangkuan induk semangnya, Syi’ah Itsna Atsariyah. Keberpihakan Syi’ah Nushairiyah yang membantu Syi’ah Itsna ‘Asyariyah dalam membantai kaum muslimin di Lebanon dan Suriah sudah bukan rahasia lagi. (Alwi As-Saqaf, An-Nushairiyah, hlm. 6)

Nama-nama Kelompok Nushairiyah

Kelompok Syi’ah ekstrim ini dikenal dengan beberapa nama, yaitu sebagai berikut.
Nushairiyah. Menurut pendapat yang paling kuat, nama ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Nushair An-Numairi. Nama ini adalah nama yang dibenci oleh para pengikut Nushairiyah. Mereka membela diri dengan menuduh penamaa ini berasal dari musuh-musuh mereka atas dasar kebencian. Namun fakta sejarah sejak zaman pendiri gerakan ini telah mengaitkan penamaannya dengan nama pendirinya. Bahkan, sekte-sekte ekstrim Syi’ah Itsna Asyariyah yang lain juga menyebut mereka dengan nama ini. Sehingga nama ini adalah nama mereka yang paling populer sampai saat ini.
‘Alawiyyun. Nama ini adalah nama yang paling disukai oleh para pengikut Nushairiyah, terutama demi meraih simpati dan kedekatan dengan sekte-sekte Syi’ah lainnya. Para pakar sejarah menyatakan mereka disebut ‘Alawiyyun karena menyembah Ali bin Abi Thalib dan para imam keturunannya. Mereka meyakini Ali adalah Ilah (Tuhan yang berhak disembah). Nama ini kembali dikukuhkan sebagai gelar kehormatan untuk mereka oleh penjajah Perancis saat menduduki Suriah pada Perang Dunia I, 1917 M. Gubernur Jendral Perancis di Suriah telah mengeluarkan surat keputusan resmi pada tahun 1920 M yang mengakui Al-Alawiyyun sebagai pengikut dan pembela kepentingan penjajahan Perancis. Dalam hal ini, kedudukan kelompok Nushairiyah bagi penjajah Perancis adalah seperti kedudukan agama Ahmadiyah-Qadiyaniyah bagi penjajah Inggris di India.
Numairiyah. Nama ini dinisbahkan kepada tokoh pendirinya, Muhammad bin Nushair An-Numairi.
Surak. Nama ini diberikan oleh penguasa Turki pada saat menguasai negeri-negeri Syam. Maknanya dalam bahasa Turki kuno adalah orang-orang buangan.
Syimaliyah dan Kalaziyah. Syimaliyah adalaha kelompok Nushairiyah yang meyakini bahwa setelah meninggalkan jasad manusiawinya, Ali bin Abi Thalib sebagai tuhan bersemayam di bulan. Adapun Kalaziyah adalah kelompok Nushairiyah yang meyakini bahwa setelah meninggalkan jasad manusiawinya, Ali bin Abi Thalib sebagai tuhan bersemayam di matahari. Oleh karenanya, kedua kelompok ini mengagungkan bulan dan matahari, dan melakukan sembahyang menghadapnya. (Al-‘Alawiyyun aw An-Nushairiyah, hal. 63)

Terdapat beberapa nama lokal untuk mereka, seperti Takhtajiyah, Hathabun di Anatholia Barat, dan ‘Ali Ilahiyat di kawasan Persia, Turkistan, dan Kurdistan. (Al-‘Alawiyyun aw An-Nushairiyyah, hlm. 31-32 dan Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Al-Islami, hal. 323)

Perkembangan Nushairiyah
Tokoh-tokoh yang paling berperan dalam menyebarkan sekte Nushairiyah sejak zaman pendirinya adalah sebagai berikut:

Abu Syu’aib Muhammad bin Nushair An-Numairi, pendiri gerakan ini. Ia mengklaim dirinya adalah nabi dan al-bab yang menghubungkan kaum Syi’ah dengan imam kesebelas mereka, Abul Hasan Al-Askari, dan terakhir mereka, Muhammad Al-Mahdi bin Abul Hasan Al-Askari. Ia meyakini Ali dan para imam keturunannya adalah Tuhan, meyakini reinkarnasi, menghalalkan homoseksual dan menikah dengan mahram. Ia mengambil kota Samira sebagai pusat gerakannya, sampai ia mati pada tahun 260 H (atau tahun 270 H menurut keterangan sebagian pakar sejarah).

Pemimpin dan propagandis kedua adalah Muhammad bin Jundab. Riwayat hidup dan propaganda serta seberapa besar perannya bagi perkembangan gerakan Nushairiyah masih terlalu rumit untuk diungkapkan. Namun kelompok Nushairiyah mengakuinya sebagai pemimpin kedua mereka.

Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad Al-Hanan Al-Janbalani adalah penerusnya yang menggantikannya sebagai al-bab. Ia tinggal di daerah Janbalan, Iran dan membentuk sebuah tarekat sufi Syi’ah bernama tarekat Janbalaniyah. Ia memimpin Nushairiyah sampai saat ia mati tahun 287 H.

Husain bin Ali bin Husain bin Hamdan Al-Khusaibi. Al-Jambalani merekrutnya sebagai murid utama saat ia menyebarkan pemikirannya di Mesir. Al-Khusaibi mengikuti gurunya ke Janbalan, mendalami ajaran sektenya, sampai diangkat sebagai pengganti gurunya. Ia lantas meninggalkan Iran dan pergi ke Iraq. Ia menyebarkan dakwahnya dan memimpin sektenya dengan Baghdad sebagai pusat gerakannya mempergunakan pengaruh kekuasaan Bani Buwaih. Saat itu kekuasaan daulah Abbasiyah dikendalikan oleh Bani Buwaih, sebuah marga Syi’ah ekstrim dari Persia. Sebagai penguasa beraliran Syi’ah ekstrim, Bani Buwaih mempergunakan kekuatan politik, ekonomi, dan militer untuk mendukung semua gerakan Syi’ah, termasuk Nushairiyah dan Syi’ah Isma’iliyyah. Tak heran apabila selama 113 tahun masa kekuasaan Bani Buwaih, 334-447 (945-1055 M), Nushairiyah mendapatkan keleluasaan untuk bergerak dan menyebar luaskan ajarannya. Oleh karenanya, kelompok Nushairiyah menganggap para penguasa Bani Buwaih adalah pemimpin suci mereka.

Al-Khushaibi lantas berkeliling ke berbagai wilayah dalam rangka menyebar luaskan jaringan sektenya. Pada akhirnya, ia mengambil kota Halb (Alepo) di Suriah sebagai pusat gerakannya. Hal itu karena gerakannya mendapat dukungan penuh dari penguasa daulah Hamdaniyah, Saifud Daulah Ali bin Hamdan Al-Hamdani. Al-Khushaibi adalah tokoh yang menyusun dan menuliskan dasar-dasar ajaran Nushairiyah. Kepada Saifud Daulah Al-Hamdani, ia menghadiahkan dua karyanya yang merupakan buku pegangan kelompok Nushairiyah, Al-Hidayah dan Al-Maidah.

Syaikh Isa Sa’ud, ulama besar Nushairiyah di propinsi Ladziqiyah, menulis dalam majalah Al-Amani edisi perdana dan kedua (1930 M) bahwa berkat dukungan Saifud Daulah, maka para komandan militer, pejabat pemerintahan, sastrawan, dan penulis berbondong-bondong mendukung Nushairiyah. Berkat Saifud Daulah pula, Nushairiyah mampu menyebarkan ajarannya ke Suriah, Mesir, Irak, dan negeri-negeri non-Arab lainnya. Pada saat yang sama, kepemimpinan daulah Abbasiyah di masa khalifah Al-Mustakfi billah semakin melemah. Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh penguasa Bani Buwaih di Irak, Ahwaz, dan Persia untuk menyebar luaskan paham Nushairiyah.

Hal yang penting untuk dicatat, pada saat itu ada seorang pejabat tinggi dalam daulah Abbasiyah yang menjadi simpatisan dan pendukung berat Nushairiyah. Ia adalah mentri Ibnu Furat yang beraliran Syi’ah. Nama lengkapnya adalah Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Musa (241-312 H). Ia hidup sezaman dengan empat tokoh utama pendiri dan propagandis Nushairiyah; Ibnu Nushair an-Numairi, Ibnu Jundab, Al-Janbalani, dan Al-Khushaibi. Ibnu Furat dijatuhi hukuman penjara sampai mati oleh khalifah Al-Mu’tadhid billah dan Al-Mu’tadir billah.

Al-Khushaibi dengan demikian adalah pemimpin Nushairiyah yang paling brilian dan sukses. Ia adalah penyusun dan pengembang buku-buku induk pegangan kelompok Nushairiyah. Oleh karenanya, ia dijuluki syaikh ad-din. Dalam menyebarkan propagandanya, ia dibantu oleh murid andalannya, Umar Thawil (260-358 H). Al-Khushaibi mati pada tahun 346 H. Kuburannya di sebelah utara kota Halb sampai saat ini masih diziarahi dan dianggap suci oleh kaum Nushairiyah.

Sepeninggal Al-Khushaibi, gerakan Nushairiyah memiliki dua pusat gerakan: (a) Pusat terbesar gerakan berada di Halb dengan tokohnya Muhammad bin Ali Al-Jaili. (b) Pusat gerakan di Baghdad dengan tokohnya Ali Al-Jasri.

Pusat gerakan Nushairiyah di Baghdad hancur bersamaan dengan dibumi hanguskannya kota Baghdad oleh pasukan Mongol pimpinan Hulakho Khan, tahun 656 H. Pusat gerakan Nushairiyah sepenuhnya berada di Halb, Suriah. Kepemimpinan Nushairiyah di Halb pada akhirnya dipegang oleh Abu Sa’id Al-Maimun Surur bin Qasim Ath-Thabrani adalah tokoh pelanjut gerakan ini. Ia lahir di kota Thabariyah, utara Palestina pada tahun 358 H. Ia berpindah ke Halb dan belajar langsung kepada Muhammad bin Ali Al-Jaili, sampai akhirnya menjadi penggantinya sebagai pemimpin Nushairiyah dan tarekat Janbalaniyah. Ia lalu memindahkan pusat gerakan dari Halb ke propinsi Ladzikiyah karena gencarnya serangan suku-suku muslim Kurdi dan Turki kepada mereka. Suku-suku Kurdi dan Turki berjihad untuk meIawan kekufuran kelompok Nushairiyah. Abu Sa’id Al-Maimun mati pada tahun 426 H. Kuburannya diziarahi dan disucikan oleh pengikutnya sampai hari ini.

Setelah itu kepemimpinan Nushairiyah silih berganti, sampai akhirnya dipegang oleh gubernur Hasan Makzun As-Sinjari An-Nushairi. Dengan pasukan Nushairiyah berkekuatan 50.000 prajurit, ditambah gabungan sekte Syi’ah Ismailiyah Aghan Khan, ia berhasil mengusir suku-suku Kurdi dan merebut gunung Nushairiyah dan Kalbiyah serta benteng Abu Qubais di propinsi Ladzikiyah. Peristiwa itu terjadi pada tahun 620 H Ia adalah pemimpin agama dan militer yang berhasil mengokohkan pegunungan Nushairiyah di propinsi Ladzikiyah sebagai pusat gerakan Nushairiyah. Ia mendesak suku Kurdi sampai ke wilayah ‘Acre, Lebanon. Pusat gerakannya berada di benteng Abu Qubais. Ia menyusun dan menulis ulang ajaran-ajaran Nushairiyah, sampai ia mati pada tahun 638 H. Kuburannya di kampung Kafr Susah dekat dataran tinggi Golan diziarahi dan disucikan oleh pengikutnya sampai hari ini.

Selama masa berlangsungnya perang Salib dan serangan bangsa Mongol, kelompok Nushairiyah meninggalkan daerah pegunungan propinsi Ladziqiyah dan berpindah ke daerah-daaerah pantai. Hal itu untuk membantu pergerakan tentara Salib Eropa dan tentara musyrik Mongol untuk menghancurkan pasukan Islam di Suriah, Lebanon, dan Palestina. Penulis Nushairiyah kontemporer, Muhammad Amin Ghalib Ath-Thawil menjelaskan bahwa pada saat itu, kelompok Nushariyah hidup membaur bersama pasukan Salib Eropa. Ia menulis dalam bukunya Tarikh Al-‘Alawiyyin, “Sehingga bangsa Alawi memiliki keutamaan khusus dan sifat-sifat istimewa yang menyerupai seluruh kelompok Arab dan Turki lainnya, seperti kelompok Masehi (Nashrani—edt), Yahudi, Romawi, dan lain-lain

Ketika pasukan Salib Eropa berhasi diusir dari bumi Syam oleh pasukan Islam, maka kelompok Nushairiyah kembali ke pegunungan dan melancarkan makar mereka secara sembunyi-sembunyi. Mereka baru kembali melancarkan serangan secara terang-terangan kepada umat Islam, saat tentara Mongol pimpinan Timur Lank (1336-1405 M) menyapu dunia Islam. Kelompok Nushairiyah bahu-membahu dengan Timur Lank yang beraliran Syi’ah ekstrim untuk menghancurkan kaum muslimin di Syam dan Iraq. Timur Lank melakukan perusakan, pembakaran, dan pembantaian keji terhadap kaum muslimin saat menaklukkan Damaskus dan Baghdad. Persekongkolan keji Nushairiyah dengan Timur Lank ini diakui sendiri oleh para tokoh dan penulis Nushairiyah, seperti Muhammad Amin Ghalib Ath-Thawil dalam bukunya Tarikh Al-‘Alawiyyin. Peristiwa ini juga dicatat oleh para sejarawan dan pakar perbandingan agama dan sekte, seperti Prof. DR. Muhammad Abu Zahrah dalam bukunya Al-Madzahib Al-Islamiyyah dan Amin Ar-Raihani dalam bukunya An-Nakbat: Khulashah Tarikh Suriyah mundzu al-‘ahd al-awwal li-thufan ila al-‘ahd al-jumhury bi-Lubnan.

Para pemimpin Islam telah berkali-kali mencoba mendakwahi dan mentarbiyah mereka agar kembali kepada kebenaran. Usaha pertama dilakukan oleh sultan Shalahudin Al-Ayubi (daulah Ayyubiyah) setelah berhasil mengalahkan pasukan Salib Eropa. Ia membangun masjid di setiap perkampungan Nushairiyah, mendakwahi mereka sampai mereka menampakkan kembali kepada Islam. Ia mewajibkan mereka untuk melaksanakan shalat, shaum Ramadhan, dan kewajiban-kewajiban Islam lainnya. Usaha kedua dilakukan oleh sultan Zhahir Baybars (daulah Mamalik) setelah berhasil mengalahkan tentara Mongol dari negeri Syam. Dan usaha ketiga dilakukan oleh sultan Salim Al-Utsmani (daulah Utsmaniyah) setelah mengalahkan mereka dalam jihad yang lama. Setiap kali kelompok Nushairiyah dikalahkan dalam jihad lalu didakwahi dan ditarbiyah, maka mereka menampakkan keislaman, mengerjakan shalat, shaum Ramadhan, mengharamkan homoseksual dan minuman keras, dan melaksanakan kewajiban-kewajiban Islam lainnya. Namun begitu para penguasa muslim yang kuat tersebut digantikan oleh para penguasa yang lemah, maka kelompok Nushairiyah kembali murtad. Mereka menghancurkan masjid-masjid dan menjadikannya sebagai tempat pembuangan sampah. Pengembara internasional, Ibnu Bathuthah, menjadi saksi hidup atas hal itu saat mengunjungi negeri Syam pada abad 9 H, sebagaimana ia tulis dalam ensiklopedi pengembaraannya, Tuhfatun Nazhar fi Gharaibil Amshar wa ‘Ajaibil Asfar.

Pada abad belakangan, gubernur Mesir yang berada di bawah kuasa Daulah Utsmaniyah, Ibrahim Basya bin Muhammad Ali Basya mengulangi kembali usaha dakwah dan tarbiyah terhadap kelompok Nushairiyah. Ia membangun masjid-masjid dan madrasah-madrasah, mengirim para dai sehingga mereka masuk Isam, mewajibkan mereka untuk melaksanakan shalat, shaum, meninggalkan homoseksual dan minuman keras, dan menaati syariat Islam lainnya. Pada saat lemah, mereka menampakkan keislaman. Namun saat kekuatan mereka berhasil dibangkitkan, mereka kembali murtad, membakar masjid-masjid dan madrasah-madrasah, dan melakukan kudeta militer pada tahun 1834 M di propinsi Ladzikiyah. Pemberontakan mereka bisa dipadamkan oleh Ibrahim Basya.

Usaha terakhir dilakukan oleh sultan Abdul Hamid II dari daulah Utsmaniyah dengan mengangkat Dhiya’ Basya untuk menjalankan program dakwah, tarbiyah, dan ishlah sebagaimana telah berkali-kali dilakukan oleh penguasa Islam terdahulu. Hasil dari semua usaha tersebut hanyalah pengulangan dari apa yang sudah terjadi. Begitu kekuatan daulah Utsmaniyah melemah, mereka kembali murtad dan memusuhi kaum muslimin. Terlebih, setelah itu daulah Ustmaniyah telah dikuasai oleh kelompok nasionalis-sekuleris Turki dan tengah teribat Perang Dunia I melawan penjajah saibis Inggris, Perancis, dan sekutu-sekutunya. Tak heran apabila kelompok Nushairiyah kembali bersekongkol dengan Perancis dan Inggris.

Kelompok Nushairiyah berulangkali melakukan penyerangan dan pemberontakan terhadap kekuasaan Islam. Di antara contohnya adalah pemberontakan besar Nushairiyah tahun 717 H di negeri Syam di bawah pimpinan seseorang yang mengaku sebagai Muhammad bin Hasan Al-Mahdi Al-Qaim bi-Amrillah.Mereka berhasil merebut propinsi Jabalah, membantai warganya, meruntuhkan masjid-masjid dan menjadikannya sebagai warung-warung minuman keras. Semboyan mereka adalah Laa Ilaaha Illa ‘Aliyy, wa laa hijaaba illa Muhammad, wa laa baab illa Salman (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Ali, tidak ada al-hijab (utusan Tuhan) selain Muhammad, dan tidak ada al-bab (perantara antara utusan Tuhan dengan manusia) selain Salman. Mereka mencaci maki shahabat Abu Bakar dan Umar, dan memaksa setiap muslim yang mereka tawan untuk bersaksi :”Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Ali, aku bersujud kepada Tuhanku Al-Mahdi Yang Menghidupkan lagi Mematikan…” (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, 14/83-84)

Pada saat penjajah Perancis menduduki Suriah tahun 1920 M, pimpinan dinas inteijen Perancis kapten Blondel berkumpul dengan para tokoh Nushairiyah di Ladzikiyah. Mereka sepakat untuk menjadikan propinsi Ladzikiyah (pusat gerakan Nushairiyah) sebagai negara merdeka dan memisahkan diri dari negara Suriah. Maka kelompok Nushairiyah memproklamasikan berdirinya negara Ladzikiyah, dengan Sulaiman Al-Mursyid (pemimpin besar Nushairiyah saat itu) sebagai presidennya. Atas saran dari Inggris, Sulaiman Al-Mursyid mengklaim dirinya adalah Ilah (Tuhan yang berhak disembah). Untuk tujuan itu, Perancis merancang jas kepresidenan yang di dalamnya dipasangi rangkaian elektronik dengan batu baterei dan sakelar yang berada di saku jasnya. Cukup dengan memencet sakelar dalam sakunya, maka memancarlah cahaya dari rangkaian listrik dalam jas itu. Pada saat itulah, seluruh pengikut Nushairiyah dan dinas intelijen Perancis bersujud kepada Sulaiman Al-Mursyid dengan membaca doa: “Anta Ilahii…Engkaulah Tuhan sesembahanku.”

Pada tahun 1938 M, presiden ‘Tuhan’ Nushairiyah, Sulaiman Al-Mursyid, meresmikan pengangkatan para hakim dan pembentukan angkatan bersenjata Nushairiyah untuk mempertahankan negara Nushairiyah Ladzikiyah. Ketika negara Suriah berhasil meraih kemerdekaan dan mengusir penjajah Perancis, pemerintah Suriah segera memadamkan pemberontakan Nushairiyah ini. Pasukan Suriah berhasil meruntuhkan negara Ladzikiyah dan Sulaiman Al-Mursyid tertangkap pada tahun 1946 M (1366 H). Ia dihukum mati. Kelompok Nushairiyah lalu mengangkat anaknya, Mujib Al-Mursyid. Sebagaimana bapaknya, Mujib Al-Mursyid juga mengaku sebagai Tuhan. Pada tahun 1951 M, dinas intelijen Suriah berhasil membunuh Mujib Al-Mursyid. Setiap kali menyembelih hewan, pengikut Nushairiyah membaca doa: ”Dengan nama Mujib Yang Maha Besar, dari tanganku untuk memotong leher Abu Bakar dan Umar.”

DR. Mujahid Al-Amin dalam bukunya, Al-‘Alawiyyun aw An-Nushairiyah, mencantumkan dokumen rahasia Nushairiyah yang secara resmi disiarkan oleh Departemen Luar Negeri Perancis dengan no. 3547 tertanggal 15 Juni 1936 M. Dokumen itu adalah surat resmi kelompok Nushairiyah Suriah kepada perdana mentri Perancis. Isinya adalah permohonan untuk mempertahankan pasukan Perancis di Suriah, ucapan selamat kepada para imigran Yahudi dari seluruh dunia yang masuk ke Palestina, dan provokasi untuk memerangi kaum muslimin. Surat itu ditanda tangani oleh para pemimpin Nushairiyah Suriah pada tahun 1936; Sulaiman Al-Asad, Muhammad Sulaiman Al-Ahmad, Mahmud Agha Hadid, Aziz Agha Hawasy, ‘Tuhan” Sulaiman Al-Mursyid, dan Muhammad Bek Junaid.

Para perang Arab-Israel 1967 M, kelompok Nushairiyah kembali bersekongkol dengan Yahudi dalam memerangi kaum muslimin. Kelompok Nushairiyah yang berhasil melakukan kudeta militer dan menjadi penguasa Suriah lewat kendaraan partai sosialis Baath menyerahkan dataran tinggi Golan secara cuma-cuma kepada negara Yahudi Israel. Dokumen rahasia tokoh-Nushairiyah seputar keganjilan dan konspirasi Nushairiyah Suriah-Yahudi Israel dalam perang 1967 M tersebut akhirnya bocor dan dipublikasikan oleh perdana mentri Yordania, Sa’ad Jum’ah, tahun itu juga dalam bukunya Mujtama’ul Karahiyah. Dalam dokumen Nushairiyah itu dijelaskan, bahwa Nushairiyah meyakini rasul dan al-bab mereka Abu Syu’aib Muhammad bin Nushair An-Numairi telah berinkarnasi dalam sosok seorang pemimpin yang buta salah satu matanya, muncul dari arah selatan, bergerak dan menaklukkan Damaskus, lalu bergerak ke utara untuk memberikan ketaatan kepada Tuhan si Buta salah satu matanya. Jika dua Tuhan yang buta salah satu matanya telah berstu, niscaya kekuasaannya akan bertahan selama 70 tahun. Menurut keyakinan para pemimpin Nushairiyah, Abu Syu’aib berinkarnasi dalam sosok Mose Dayan, si Jagal Yahudi itu. (Sa’ad Jum’ah, Mujtama’ Al-Karahiyah, hlm. 62-75)

Sepeninggal gubernur Hasan Makzun As-Sinjari, kelompok Nushairiyah terpecah dalam beberapa pusat pergerakan yang dipimpin oleh tokoh-tokoh yang digelari syaikh. Antara satu pusat ggerakan dengan pusat gerakan lainnya tidak terjalin hubungan. Hal itu bertahan selama ratusan tahun. Sampai akhirnya pada tahun 1966 M, Nushairiyah berhasil naik ke puncak kekuasaan tertinggi di Suriah. Menunggangi partai sosialis Baath, mereka melakukan kudeta militer dan sukses mengantarkan pemimpinnya, Hafez Al-Assad menjadi perdana mentri lalu sebagai presiden (22 Februari 1971-10 Juni 2000 M). Ia segera menjadi diktator bertangan besi yang menjadikan kelompok Nushairiyah yang hanya 10 % dari keseluruhan penduduk Suriah, sebagai pemegang kendali semua urusan (politik, ekonomi, militer, pendidikan, kebudayaan, keagamaan) di Suriah. Sejak saat itulah, pembantaian demi pembantaian keji mereka lancarkan terhadap mayoritas penduduk Suriah yang beragama Islam dari madzhab ahlus sunnah wal jama’ah. Untuk menutupi kemurtadan mereka, nama yang mereka angkat adalah ‘Partai Sosialis Baath’, “pembangunan dan kebebasan” dan slogan-slogan palsu lainnya. Kini, kekejaman rezim Bashar Al-Assad (10 Juni 2000-…) terus berlangsung, meneruskan dendam berabad-abad agama Nushairiyah terhadap Islam dan kaum muslimin.

(Selengkapnya lihat: Alwi As-Saqqaf, An-Nushairiyah, hlm. 12, Dr. Sulaiman Al-Halabi, Thaifah An-Nushairiyah, hlm. 39-42, Mamduh Al-Buhairi, Mausu’ah Firaq Asy-Syi’ah, hlm.114-115 dan Dr. Muhammad bin Ahmad Al-Khathib, Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami, hlm. 325-339)

Akidah, Ibadah, dan Akhlak Kelompok Nushairiyah
Seperti halnya sekte-sekte Syi’ah ekstrim lainnya, kelompok Nushairiyah mengajarkan kepada pengikutnya untuk bertindak secara maksimal dalam rangka menyembunyikan ajaran agamanya. Buku yang dianggap sebagai Kitab suci mereka, Al-Haft Asy-Syarif, sangat menekankan kewajiban menyembunyikan ajaran agamanya dari selain anggota Nushairiyah. Orang-orang yang membongkar rahasia ajaran mereka kepala publik selalu mereka bunuh dan buku karyanya dilenyapkan.

Di antaranya dialami oleh mantan pengikut Nushairiyah dari wilayah Adhanah, Turki, bernama Sulaiman Al-Adhani. Ia beralih masuk Kristen lewat aksi para misionaris Amerika. Ia membongkar ajaran Nushairiyah lewat bukunya ‘Al-Bakurah As-Sulaimaniyah’ dan buku ini sempat diterbitkan oleh misionaris Amerika di Beirut pada tahun 1863 M. Keluarganya yang masih mengikuti Nushairiyah memperdayanya untuk berkunjung ke kerabat dekatnya di propinsi kelahirannya, Ladzikiyah, Suriah. Setibanya di sana, mereka mengajaknya tinggal beberapa lama, lalu mereka membunuhnya dengan membakarnya hidup-hidup. Sejak saat itu bukunya hilang dari peredaran.

Hal serupa dialami oleh wartawan Salim Lauzi yang dibantai oleh Nushairiyah karena menulis reportase tentang pengaruh kekuasaan Nushairiyah di Tripoli, Lebanon dan sayap militernya yang dipimpin oleh Ali ‘Ied.

Kaum wanita di kalangan Nushairiyah tidak diperkenankan mengetahui ajaran kelompoknya, karena mereka dianggap lemah akal dan kawan setan. Adapun kaum laki-laki hanya diperbolehkan mengetahui ajaran kelompoknya jika telah berusia 19 tahun ke atas, dan lolos seleksi keanggotaan yang meliputi tiga jenjang. Perekrutan dan organisasi kelompok ini menyerupai sistem perekrutan dan organisasi kelompok Yahudi Freemasonry, iIuminity, dan lainnya.

Dari kitab suci mereka, Al-Haft Asy-Syarif, dan buku-buku karangan para ulama Syi’ah ekstrim Itsna ‘Asyariyah serta anggota dan mantan anggota Nushairiyah, bisa diketahui bahwa ajaran Nushairiyah adalah sebagai berikut.

Aqidah tentang Ketuhanan

Akidah Nushairiyah mengajarkan bahwa Ali bin Abi Thalib dan anak keturunannya (11 imam menurut golongan Syi’ah ekstrim) adalah Ilah (Tuhan yang berhak disembah). Allah Sang Pencipta menitis atau bersemayam pada diri makhluk, yaitu secara berturut-turut pada diri Habil, Syits, Sam, Ismail, Harun, Syam’un, dan Ali bin Abi Thalib.

Akidah Nushairiyah mengajarkan bahwa dalam setiap periode penitisan, Allah mengangkat seorang rasul sebagai perantara antara diri-Nya dengan manusia. Para rasul tersebut secara berturut-turut adalah Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad.

Akidah Nushairiyah mengajarkan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Ilah secara bathin, seorang imam secara dhahir, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak bisa mati dan tidak bisa dibunuh, tidak makan dan tidak minum.

Akidah Nushairiyah mengajarkan bahwa Ali sebagai Ilah telah menciptakan Muhammad sebagai Rasul yang menjadi penghubung antara Ali (Ilah) dengan seluruh makhluk. Muhammad di malam hari berhubungan dengan Ali, namun di siang hari terputus hubungan dengannya. Ali Tuhan Sang Pencipta menciptakan Muhammad, lalu Muhammad menciptakan Salman Al-Farisi, lalu Salman Al-Farisi menciptakan lima anak yatim yang mengatur kehidupan di langit, bumi, dan alam. Kelima anak yatim tersebut adalah:

Miqdad: menurut keyakinan mereka, ia adalah Rabbun naas, Tuhan pencipta manusia. Ia diberi kekuasaan untuk mengatur Guntur dan petir.

Abu Dzar Al-Ghifari: menurut keyakinan mereka, ia diberi kekuasaan mengatur pergerakan bintang-bintang dan planet-planet di angkasa.
Utsman bin Mazh’un: menurut keyakinan mereka, ia diberi kekuasaan mengatur lambung, suhu badan, kesehatan dan penyakit manusia.

Abdullah bin Rawahah: menurut keyakinan mereka, ia diberi kekuasaan mengatur pergerakan angin dan mencabut nyawa manusia.

Qunbur bin Kadan: menurut keyakinan mereka, ia diberi kekuasaan meniupkan nyawa ke dalam jasad janin.

Allah memiliki unsur isim (nama) dan makna, atau lahir dan batin. Unsur lahir adalah isim yang terdiri dari tiga huruf; alif, sin, dan mim. Tiga huruf tersebut dibaca dari belakang; mim, sin, dan alif. Mim artinya Muhammad bin Abdullah SAW disebut juga as-sayyid al-mim, sin artinya Salman Al-Farisi disebut juga al-bab, dan alif artinya Al-Miqdad bin Aswad disebut juga Rabbun Nas (Tuhan Pencipta, Pengatur, Pemberi rizki manusia). Maka Nushairiyah meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib selaku Tuhan telah menciptakan Muhammad bin Abdullah SAW, lalu Muhammad menciptakan Salman Al-Farisi, lalu Salman Al-Farisi menciptakan Al-Miqdad bin Aswad, dan Al-Miqdad menciptakan seluruh manusia. Maka mereka menyebut Al-Miqdad adalah rabbun nas. Adapun unsur bathin Allah terwujud dalam diri Ali bin Abi Thalib.

Dari penjelasan di atas, para ulama dan pakar sekte menjelaskan bahwa sesungguhnya ajaran kelompok Nushairiyah tentang ketuhanan merupakan adopsi dari ajaran berbagai agama dan sekte sesat yang berlainan, yaitu:

Paganisme, dalam wujud ajaran Nushairiyah yang mengagung-agungkan bintang, planet, dan benda-benda langit.
Nashrani, dalam wujud ajaran Nushairiyah yang menyatakan unsure ketuhanan dalam trinitas: Ali-Muhammad-Saman.
Syi’ah Itsna Asyariyah, dalam wujud ajaran Nushairiyah yang menyatakan para imam mereka berturut-turut adalah Ali dan kesebelas anak-turunannya sebagaimana keyakinan kelompok Syi’ah Itsna Asyariyah.
Majusi Mazdakisme, dalam wujud ajaran Nushairiyah yang mengajarkan menghalalkan semua larangan agama (menghalalkan khamr, zina, homoseksual, dan lesbian), menyatakan semua perintah agama telah gugur, dan memperingati hari raya Majusi, Nairuz.

(Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami, hlm. 341-354, An-Nushairiyah hlm. 14-30, Thaifah An-Nushairiyah hlm. 43-55, dan Mausu’ah Firaq Syi’ah, hlm. 116-119)

Akidah tentang Pahala dan Siksa

Kelompok Nushairiyah meyakini reinkernasi. Menurut akidah mereka, ketika seorang manusia telah mati maka ruhnya akan menitis pada jasad yang lain sesuai dengan jenis amalan yang ia kerjakan semasa hidupnya. Dengan demikian, mereka tidak meyakini pahala yang dibalas dengan kenikmatan surga dan dosa yang dibalas dengan siksa di neraka. Mereka tidak meyakini adanya kehidupan alam barzakh dan alam akhirat.

Di sisi lain, mereka meyakini bahwa ada alam ruh yang tinggi di langit, yang dihuni oleh makhluk-makhluk yang tinggi lagi mulia, yaitu bintang-bintang dan planet-planet. Mereka meyakini bintang-bintang dan planet-planet tersebut memancarkan limpahan cahaya secara terus-menerus pada ketujuh tingkatan langit sesuai tingkatannya masing-masing. Mereka meyakini ruh seorang mukmin (versi mereka) berinkernasi dalam wujud tingkatan-tingkatan yang berbeda di kalangan penghuni alam ruh di ketujuh langit. Mukmin sejati, menurut mereka, akan berinkernasi menjadi bintang yang cahayanya terang dan kuat.

Adapun ruh orang-orang kafir dan jahat (versi mereka) akan berinkernasi dalam wujud semua benda dan makhluk di alam raya ini selain wujud manusia. Mereka akan berinkernasi menjadi batu, pohon, air, garam, benda mati, hewan yang biasa disembelih dan dimakan maupun hewan yang tidak biasa disembelih dan dimakan. Bila berinkernasi dalam wujud hewan yang biasa dimakan maupun tidak, maka mereka akan mati, berinkernasi, mati, berinkernasi, dan terus-menerus mengalami proses inkernasi tersebut sebanyak seribu kali kematian dan seribu kali disembelih.

Mereka meyakini, proses inkernasi pada diri orang-orang jahat dan kafir akan terus berlangsung sampai akhirnya muncul imam ghaib yang terakhir, yaitu Muhammad bin Hasan Al-Askari yang merupakan imam ‘fiktif’ kedua belas dalam ajaran Syi’ah Itsna Asyariyah. Muhammad bin Hasan Al-Askari akan mengembalikan mereka kepada wujud manusia, lalu membunuhh mereka hingga darah mereka menggenangi lembah-lembah.

Tidak diragukan lagi, keyakinan reinkarnasi dan pengingkaran terhadap kehidupan alam barzakh, alam akhirat, surga, dan neraka adalah keyakinan kaum musyrik dan atheis yang bertentangan dengan rukun Iman. Islam datang untuk menghapus akidah sesat ini. Keyakinan reinkernasi tak lain hanyalah ajaran agama musyrik Yunani kuno, Hindu, dan Budha yang diadopsi oleh kelompok Nushairiyah.

(Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami, hal. 355-359, An-Nushairiyah hlm. 14-30, Thaifah An-Nushairiyah hlm. 43-55, dan Mausu’ah Firaq Syi’ah, hlm. 116-119)

Akidah tentang para shahabat Nabi SAW


Pertama: Kelompok Nushairiyah meyakini unsur trinitas dalam ketuhanan, yaitu :
‘Ain: Ali bin Abi Thalib adalah al-ma’na, yaitu Dzat Tuhan.
Mim: Muhammad bin Abdillah sebagai al-hijab, al-bab, nabi, dan juru bicara Dzat Tuhan.
Sin: Salman Al-Farisi adalah al-bab yang menciptakan kelima anak yatim yang menjadi pengatur seluruh alam semesta.

Kedua: Salman menurut keyakinan seluruh kelompok Syi’ah adalah shahabat yang setia membela Ali bin Abi Thalib melawan seluruh musuhnya, pada masa pemerintahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman RA. Kelompok Nushairiyah melebihi seluruh kelompok Syi’ah ekstrim lainnya, dengan meyakini Salman —bukan saja sebagai pembela setia Ali, melainkan— adalah pencipta langit, bumi, dan kelima anak yatim tersebut. Salman dalam keyakinan mereka adalah an-nafsu al-kulliyah (jiwa yang sempurna) yang merupakan pancaran cahaya dari al-‘aql (akal, yaitu Muhammad bin Abdillah). Keyakinan ini sama persis dengan keyakinan filsafat Plato, Yunani Kuno, yang menyatakan bahwa seluruh makhluk di alam semesta adalah pancaran dari satu dzat. Masing-masing makhluk memiliki tingkatan yang berbeda, dan tingkatan yang paling tinggi adalah akal.

Ketiga: Mereka meyakini bahwa Muhammad adalah bapak umat ini dan Salman adalah ibu umat ini. Dzat Tuhan (yaitu Ali bin Abi Thalib) mengajarkan kitab suci Al-Qur’an kepada Muhammad melalui perantaraan Al-Bab yaitu Salman, sebagai perwujudan malaikat Jibril. Mereka meyakini Salman adalah ruuhul quddus, Jibril, Al-Aziz Al-A’la (Yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi), nuurullah (cahaya Allah), sirrul wujud (rahasia seluruh makhluk), nurul aql (cahaya akal), kepadanya segala sesuatu dibangkitkan dan dikembalikan.

Keempat: Al-Bab yaitu Salman mengalami reinkernasi. Dalam setiap periode reinkernasi, ia menitis dalam jasad beragam manusia. Secara berturut-turut Salman menjelma dalam jasad; Jibril, Yabil, Ham, Dan, Abdullah, Rauzan, Salman Al-Farisi, Qais bin Waraqah, Rasyid Al-Hajri, Abdullah bin Ghalib Al-Kabuli, Yahya bin Ya’mar, Jabir bin Zaid Al-Ju’fi, Abul Khathab Muhammad bin Zainab Al-Kahili, Mufadhal bin Umar Al-Ju’fi, Muhammad bin Mufadhal, Umar bin Furat, dan Muhammad bin Numair An-Nushairi.

Kelima: Mereka meyakini empat orang shahabat (Miqdad, Abu Dzar, Utsman bin Mazh’un, dan Abdullah bin Rawahah) dan seorang pembantu Ali bin Abi Thalib (Qunbur bin Kadan) adalah ‘wakil-wakil Tuhan’ yang memiliki kekuasaan mengatur alam semesta.

Keenam: Mereka memiliki kesamaan akidah dengan seluruh kelompok Syi’ah ekstrim lainnya terhadap seluruh shahabat Nabi SAW yang lain. Yaitu membenci, memusuhi, mendengki, dan mencaci maki mereka. Terlebih terhadap shahabat Abu Bakar, Umar, dan Utsman RA. Menurut keyakinan mereka, para shahabat ini adalah iblis, musuh Ali, dilaknat Allah, dan setan.

Ketujuh: Mereka merayakan hari raya terbunuhnya Umar bin Khatab di tangan Abu Lu’luah Al-Majusi, setiap tahun pada tanggal 9 Rabi’ul Awwal. Perayaan tersebut mereka sebut ‘hari raya terbunuhnya Dallam laknat Allah atasnya’. Tak diragukan lagi, keyakinan ini adalah adopsi dari kebencian dan permusuhan bangsa Majusi Persia yang dinastinya diruntuhkan oleh pasukan Islam pada masa pemerintahan Umar.

Kelapan: Mereka memuji dan mengagung-agungkan tokoh Khawarij, Abdurrahman bin Muljim, yang telah membunuh Ali bin Abi Thalib. Dalam keyakinan mereka, Abdurrahman telah berjasa besar membebaskan Dzat Ketuhanan Ali dari jasad manusiawinya. Abdurrahman menurut mereka adalah manusia yang paling mulia. Tak diragukan lagi, keyakinan ini adalah adopsi dari akidah Nashrani yang mengagungkan penyaliban Yesus Kristus oleh kaum Yahudi.

Kesembilan: Jihad menurut kelompok Nushairiyah adalah membenci, mendengki, memusuhi, dan mencaci maki Abu Bakar, Umar, Utsman, dan sebagian besar shahabat yang lain. Juga melakukan hal yang sama kepada para ulama Islam, seperti imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad. Dalam keyakinan kelompok Nushairiyah, mereka adalah manusia-manusia yang memakan limpahan rizki Dzat Tuhan (Ali bin Abi Thalib) namun tidak mau menyembahnya. Dalam pandangan Nushairiyah, mereka adalah manusia-manusia najis yang menyesatkan manusia dan menghalang-halangi manusia dari membela ahlul bait.

(Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami, hlm. 360-365, An-Nushairiyah hlm. 39, Thaifah An-Nushairiyah hlm. 43-55 dan 95-105, dan Mausu’ah Firaq Syi’ah, hlm. 116-119)

Akidah tentang tingkatan-tingkatan makhluk
Kelompok Nushairiyah meyakini alam ini tediri dari dua bagian; alam bawah (al-‘alam al-sufla) dan alam atas (al-‘alam al-‘ulya). Masing-masing alam terdiri dari tujuh tingkatan. Kedua alam ini dihuni oleh orang-orang dari kelompok Nushairiyah semata, baik dari golongan orang pandai maupun golongan orang bodoh. Adapun orang-orang selain dari kelompok Nushairiyah, menurut keyakinan mereka, masih berinkernasi dalam wujud selain manusia; hewan, pohon, batu, benda mati, atau wanita —dalam pandangan mereka, wanita bukanlah manusia seutuhnya.

Alam atas dihuni oleh orang-orang mukmin, versi Nushairiyah, yang berhubungan langsung dengan al-bab dan lima anak yatim yang mengatur alam semesta. Seseorang dari tingkatan alam bawah akan naik tingkatan ke alam atas dalam tujuh peringkat, sesuai kadar ilmu dan amalnya. Berturut-turut, tingkatan tersebut dari yang paling bawah ke paling atas adalah sebagai berikut:
Al-Mumtahan
Al-Mukhlas
Al-Mukhtas
An-Najib
An-Naqib
Al-Yatim
Al-Bab.

Jika seorang pengikut Nushairiyah telah mencapai tingkatan, maka menurut keyakinan mereka, ia telah memasuki ‘alam tertinggi’ yaitu alam cahaya. Jasad kasarnya akan lebur menjadi cahaya, dan ia bisa melihat langsung al-hijab dan mengerti penciptaannya.

Alam bawah dihuni oleh para pengikut Nushairiyah yang berjuang setingkat demi setingkat untuk meraih kehidupan di alam atas. Mereka juga terdiri dari tujuh tingkatan, yang berturut-turut dari tingkatan terbawah hingga tingkatan teratas adalah sebagai berikut:
Al-Lahiq
Al-Mustami’
As-Saih
Al-Muqaddas
Ar-Ruhani
Al-Karub
Al-Muqarrab

(Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami, hlm. 366-368, An-Nushairiyah hlm. 14-16, Thaifah An-Nushairiyah hlm. 43-55)

Akidah tentang Khamr dan Wanita

Dalam ritual kelompok Nushairiyah, seorang pemuda yang direkrut sampai siap menjadi anggota kelompok ini haruslah memiliki kesetiaan kepada kelompok ini. Selain kerahasiaan, untuk memuluskan taktik itu, mereka memakai khamr dan wanita sebagai ‘umpan’. Seorang yang akan diangkat resmi menjadi anggota kelompok ini akan mengikuti pesta ritual yang dipenuhi dengan jamuan suci khamr dan wanita.

Mereka menganggap khamr adalah barang yang suci. Mereka menyebutnya sebagai Abdun Nuur (hamba cahaya), karena ia diperas dari pohon cahaya, yaitu anggur. Khamr, dalam keyakinan mereka, telah dihalalkan oleh Allah bagi mereka, karena mereka adalah wali-wali pilihan Allah. Mereka juga menyebut sebagian ritual ibadah mereka dengan istilah Qaddas, yaitu menganggap suci dan meminum khamr dengan berkat dari orang-orang yang telah mencapai tingkatan an-najib dan an-naqib.

Adapun wanita dalam keyakinan mereka adalah wujud reinkernasi dari orang yang tidak beriman (orang yang belum masuk ke dalam kelompok Nushairiyah). Kaum wanita tidak memiliki ruh yang sebenarnya, sehingga ketika badannya mati, jiwanya juga ikut mati. Nilai wanita tidak berbeda dengan nilai hewan, pohon, dan benda mati lainnya. Oleh sebab itu, mereka menghalalkan berzina dengan wanita sesama anggota kelompok, karena iman seorang wanita hanya akan sempurna bila kehormatannya dihalalkan kepada sesama ‘orang mukmin’.

Saat mereka telah mabuk kepayang, di dalam pesta yang dipenuhi dengan wanita-waniita menggiurkan, tentulah pesta seks akan menjadi menu ritual berikutnya. Tak heran apabila mereka juga menghalalkan zina, homoseksual, dan lesbian. Pada dasarnya, penghalalan khamr dan perzinaan adalah sebuah perusakan terhadap akal, jiwa, dan fisik orang-orang bodoh ini agar mereka bisa setia terhadap kelompoknya. Mereka adalah budak-budak hawa nafsu yang rendah, mengajak pengikutnya untuk menikmati surge Firdaus dunia dalam pesta seks dan minuman keras.

Jika dirunut dalam sejarah kelompok-kelompok Syiah ekstrim, bisa disimpulkan bahwa ajaran permisifisme yang menghalalkan khamr, zina, homoseksual, dan lesbian ini adalah kelanjutan dari keyakinan serupa yang dipergunakan oleh kelompok Qaramithah dan Hasyasyiyah untuk menjaring sebanyak mungkin pengikut setia, dengan menggelontorkan khamr dan wanita kepada mereka.

(Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami, hlm. 369-372, dan An-Nushairiyah hlm. 17-23, dan Thaifah An-Nushairiyah hlm. 43-55)

Prosesi Perekrutan Keanggotaan

Seorang yang hendak menjadi anggota kelompok Nushairiyah akan dipilih dan ditraining secara ketat, secara bertahap dan berjenjang, sedikit demi sedikit akan diberikan kepadanya ajaran kelompok Nushairiyah. Ketika ia telah melalui semua proses dengan penuh ketundukan dan kerelaan, pada akhirnya ia akan resmi menjadi anggota kelompok ini. Sebelum menjadi anggota resmi, mereka melewati tiga jenjang perekrutan yang berliku-liku dan penuh dengan kerahasiaan.

Fase al-jahl (fase kebodohan). Mereka mengambil seorang syaikh (pemimpin keagamaan) kelompok Nushairiyah sebagai ‘bapak ruhani’ atau ‘guru spiritual’. Mereka wajib menghormati dan tunduk patuh sepenuhnya kepada guru spiritual ini. Semua perintahnya wajib mereka kerjakan tanpa pertanyaan, dan semua larangannya wajib mereka jauhi tanpa keraguan sedikit pun. Inti ajaran dari jenjang ini adalah ketundukan dan kepasrahan total seorang ‘murid’ kepada ‘guru spiritual’, yang dilaksanakan dalam bentuk dua ritual suci.

Pertama, murid bersujud di atas sepatu ‘guru spiritual’ dan menciumi telapak kakinya.

Kedua, murid dengan kepasrahan total disodomi oleh para murid senior guru spiritual tersebut. Menurut keyakinan mereka, hal itu adalah bukti dari kerendah hatian dan tiadanya kesombongan kepada sesama saudara mukmin.

Dalam fase ini dilaksanakan dua ritual penting. Pertama, penyampaian ajaran rahasia pertama berupa pesta khamr dan seks bebas di awal malam, sehingga mereka tertidur daam keadaan mabuk dan campur baur antara lelaki dan perempuan. Kedua, di akhir malam, mereka dibangunkan untuk mengadakan ritual ‘pernikahan ruhani’ antara guru spiritual dan murid. Mereka menyerupakan penyampaian sebagian ajaran rahasia oleh guru spiritual kepada murid dengan proses persetubuhan antara suami dan istri. Masuknya ajaran rahasia ‘cahaya ilmu’ dari guru spiritual kepada murid diserupakan dengan masuknya sperma suami ke rahim istri. Ajaran guru spiritual adalah ‘ruh’ yang ditiupkan ke dalam ‘janin’, yaitu jiwa murid yang telah pasrah sepenuhnya kepadanya.

Fase at-ta’liq (fase pengarahan). Selama sembilan bulan setelahnya, murid akan terus-menerus mendapatkan bimbingan ruhani dari guru spiritual. Mereka meyakini ‘kelahiran hakiki’ dan ‘kehidupan hakiki’ adalah saat murid telah menerima ajaran rahasia dari guru spiritual selama sembilan bulan tersebut. Ajaran rahasia disampaikan sedikit demi sedikit, menurut kesiapan dan kemampuan murid. Setelah itu, murid akan mengalami masa ‘persusuan hakiki’ selama dua tahun penuh, dengan penyampaian ajaran rahasia dari guru spiritual.

Fase as-sama’ (fase mendengarkan). Setelah murid mengalami masa persiapan ruhani yang panjang dan berliku, dan menurut penelitian para guru spiritual telah dianggap layak, maka para guru spiritual akan mengadakan pertemuan khusus. Murid tersebut akan diantarkan kepada jenjang yang lebih tinggi, yaitu jenjang syaikh (guru spiritual) atau shahibul ‘ahd (pemilik perjanjian). Pada jenjang ini, sebagian besar ajaran rahasia Nushairiyah disampaikan kepadanya.

Para ulama dan tokoh Nushairiyah seperti syaikh Yusuf Al-Halabi dalam bukunya Munazharah Asy-Syaikh Yusuf Al-Halabi, Sa’ad Al-Qumi dalam bukunya Al-Maqalat wal Firaq, Sulaiman Al-Adhani dalam bukunya Al-Bakurah As-Sulaimaniyah dan Al-Husaini Abdullah dalam bukunya Al-Judzur At-Tarikhiyah lil-‘Alawiyyah An-Nushairiyah telah menguraikan secara panjang lebar prosesi dan ritual Nushairiyah dalam setiap pertemuan rahasia untuk para murid sampai mereka resmi menjadi anggota kelompok. Semua prosesi, ritual, kerahasiaan, dan kesesatannya menyerupai ajaran kelompok-kelompok rahasia YAhudi seperti Freemasonry, Illuminati, dan lain-lain.

(Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami, hlm. 373-384, An-Nushairiyah hlm. 17-22, dan Mausu’ah Firaq Syi’ah, hlm. 115-116)

Ibadah-ibadah dan hari raya kelompok Nushairiyah

Sebagaimana halnya kelompok-kelompok Bathiniyah yang lain, Nushairiyah meyakini bahwa perintah-perintah agama hanya berlaku untuk kaum awam yang bodoh. Adapun para syaikh dan shahibul ‘ahd yang telah mencapai taraf ma’rifah terbebas dari semua perintah dan larangan agama.

Kelompok Nushairiyah tidak mengenal wudhu, tayamum, dan mandi wajib. Mereka tidak melaksanakan thaharah (kesucian) sebelum melaksanakan ritual-ritual kelompok mereka.

Kelompok Nushairiyah tidak melaksanakan shalat lima waktu, shaum Ramadhan, zakat, haji dan umrah ke tanah suci Makkah. Mereka menganggap haji ke baitullah di Makkah adalah kekafiran dan penyembahan berhala. Mereka tidak membangun masjid-masjid. Ritual ibadah mereka diadakan di rumah-rumah atau tempat-tempat pertemuan khusus. Ritual ibadah mereka adalah para syaikh dan shahibul ‘ahd membacakan kisah-kisah khurafat dari para pendiri kelompok ini. Lalu dilanjutkan dengan pesta khamr dan pesta seks. Ritual ibadah mereka menyerupai ritual ibadah agama Kristen dan kaum musyrik.

Mereka melaksanakan ibadah yang mereka sebut shalat, namun tata cara dan jumlah raka’atnya berbeda dengan shalat lima waktu kaum muslimin. ‘Shalat’ kelompok Nushairiyah tidak disertai ruku’, sujud, duduk di antara dua sujud, dan duduk tasyahud. ‘Shalat’ mereka hanya berdiri disertai pembacaan kisah-kisah khurafat riwayat dari para tokoh pendiri kelompok mereka. ‘Shalat’ Dhuhur mereka terdiri dari 8 rakaat, ‘shalat’ Ashar mereka terdiri dari 4 rakaat, ‘shalat’ Magrib mereka terdiri dari 5 raka’at, ‘shalat’ ISya’ mereka terdiri dari 4 raka’at, dan ‘shalat’ Shubuh mereka terdiri dari 2 raka’at.

Kelompok Nushairiyah merayakan banyak hari raya, yang merupakan adopsi dari berbagai agama; Islam, Yahudi, Nashrani, Majusi, Yunani kuno, dan lain-lain. Hari raya terpenting mereka adalah:

Hari raya Ghadir atau Ghadir Khum, merupakan hari raya seluruh kelompok Syi’ah, jatuh pada tanggal 18 Dzulhijah. Menurut mereka pada hari tersebut sepulang dari haji Wada’, di daerah Ghadir (3 km dari Juhfah) yang ditumbuhi banyak pohon Khum, Rasulullah SAW mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai saudaranya, sebagaimana persaudaraan nabi Musa dan Harun. Seluruh kelompok Syi’ah merayakan malam Ghadir dan melaksanakan shalat dua raka’at pada keesokan harinya. Adapun kelompok Nushairiyah meyakini bahwa pada hari itu, Nabi SAW membaiat Ali sebagai khalifah sepeninggalnya.

Hari raya Idul Fithri, jatuh pada tanggal 1 Syawwal. Perbedaannya, kelompok Nushairiyah tidak melaksanakan shaum Ramadhan sebulan penuh sebagaimana kaum muslimin. Maka perayaan hari Idul Fithri ala Nushairiyah tentu saja memiliki tatacara dan makna yang berbeda dengan perayaan kaum muslimin.

Hari raya Idul Adha. Kaum muslimin merayakannya pada tanggal 10 Dzulhijah, namun kelompok Nushairiyah merayakannya pada tanggal 12 Dzulhijah. Lebih dari itu, mereka tidak mengakui ibadah haji.

Hari raya ‘Asyura, jatuh pada tanggal 10 Muharram, dirayakan oleh seluruh kelompok Syi’ah sebagai peringatan atas terbantainya Husain bin Ali di padang Karbala’. Perbedaannya, kelompok Nushairiyah meyakini Husain belum terbunuh, hanya bersembunyi sebagaimana halnya Isa bin Maryam bersembunyi.

Hari raya Ghadir Tsani, jatuh pada tanggal 9 Rabi’ul awwal. Mereka meyakini pada hari tersebut Nabi SAW mengumpulkan keluarganya (Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain), menyelimuti mereka dengan selimutnya dan menantang mubahalah (sumpah mati bagi pihak yang salah) rombongan utusan Kristen dari Najran. Kelompok Nushairiyah memperingatinya dengan melaksanakan shalat khusus lima waktu untuk kelima orang yang bermubahalah tersebut.

Hari raya Nairuz, jatuh pada tanggal 1 Rabi’ul Awwal, merupakan hari raya tahun baru bangsa Majusi Persia.

Hari raya Mahrajan, jatuh pada awal musim gugur, merupakan hari raya bangsa Majusi Persia.

Hari raya Pantekosta. Pantekosta (dari Bahasa Yunani kuno: pentekostē yang berarti kelima-puluh) adalah hari raya Kristiani yang memperingati peristiwa dicurahkannya Roh Kudus kepada para rasul di Yerusalem, lima puluh hari setelah kebangkitan Yesus Kristus. Pada hari Pentakosta, Roh Kudus dicurahkan sesuai dengan yang dijanjikan Yesus sesudah kenaikannya ke surga. Menurut Alkitab, murid-murid Yesus berhasil mempertobatkan tiga ribu jiwa pada hari tersebut dan hal inilah yang disebut dengan gereja mula-mula. Sebelumnya Pentakosta adalah hari raya besar orang yahudi yang kemudian diadopsi oleh gereja barat dan gereja timur. Pada hari ini, orang-orang Yahudi datang dari segala penjuru dunia ke Yerusalem untuk merayakan festival panen raya.
Hari raya pembaptisan.
Hari raya Natal.
Hari raya Paskah.

(An-Nushairiyah, hlm. 33-38, Thaifah An-Nushairiyah hlm. 56-74, dan Mausu’ah Firaq Syi’ah, hlm. 119-120)

Referensi:
1. Dr. Muhammad bin Ahmad Al-Khathib, Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami: ‘Aqaiduha wa Hukmul Islam Fiha, Amman: Maktabah Al-Aqsha, cet. 2, 1406 H/1986 M.
2. Dr. Sulaiman Al-Halabi, Thaifah An-Nushairiyah: Tarikhuha wa ‘Aqaiduha, Kuwait: Ad-Dar As-Salafiyah, cet. 2, 1404 H/1984 M.
3. Mamduh Al-Harbi, Mausu’ah Firaq Asy-Syi’ah, www.saaid.net
4. Alwi As-Saqqaf, An-Nushairiyah, www.dorar.net [GP]

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...