Kamis, 01 September 2011

Upaya Pencegahan Pemerintah Tidak Menghentikan Aksi Solidaritas Hizbut Tahrir untuk Rakyat Suriah




Aksi HT Lebanon
Suara Pembebasan. Pemerintah Lebanon berusaha mencegah sebuah aksi protes menentang pemerintah Suriah yang diorganisir oleh Hizbut Tahrir di dekat perbatasan Suriah, Ahad, 21/08/2011. Namun, upaya pencegahan tersebut tidak berarti apa-apa, malah ribuan kaum Muslim berkumpul semakin mengeraskan seruan mereka.

Menurut sebuah sumber, aksi protes itu dicegah karena para demonstran telah merencanakan untuk melanjutkan aksinya ke perbatasan dengan Suriah di persimpangan Masna'.

Sumber itu mengatakan Tentara Lebanon dan personil Pasukan Keamanan Dalam Negeri menghentikan ribuan pengunjuk rasa di Bar Elias di sebelah timur Lebanon sekitar pukul 09.00 malam.

Atas sikap penguasa setempat tersebut, pihak Hizbut Tahrir Lebanon mengecam keras upaya pencegahan aksi solidaritas atas kaum Muslim Suriah, sekalipun aksi tersebut dijalankan dengan damai serta tidak adanya pelanggaran keamanan. Pihaknya mengungkaplkan bahwa upaya pencegahan ini hanya untuk membungkap suara kemenangan umat, dan tidak akan mendiamkan umat untuk terus bergerak.

Usai sholat tarawih, ribuan kaum Muslim dari berbagai titik tanpa gentar berbaris sembari meninggikan panji-panji royatul 'uqob, panjinya Rasulullah Saw untuk menunjukkan solidaritas mereka atas saudara Muslim di Suriah.

"Wahid, wahid, wahid," teriak ribuan orang. Gema takbir berulang kali membahana. Kaum Muslim meneriakkan yel-yel untuk mendukung rakyat Suriah menggulingkan rezim diktator Bashar Al-Assad.

Beberapa tokoh ulama, termasuk Dr. Ahmad al-Qashash, Jubir Hizbut Tahrir Lebanon berbicara untuk menyerukan kepada seluruh kaum Muslim termasuk ahlul quwwah untuk membebaskan negeri-negeri Syam termasuk Suriah dengan menegakkan Khilafah.

Selain itu, tampil para ulama lainnya, termasuk Syeikh Khalid Abdul Fataah, seorang ulama yang pernah ikut menjadi pembicara dalam Muktamar Ulama Nasional beberapa waktu lalu di Jakarta.

Demikianlah, umat tidak tidur, terus bergera untuk mengubah nasib mereka agar dapat hidup mulai di bawah naungan sistem Islam, di bawah naungan Khilafah. Pergolakkan yang diawali di Tunisia ini telah merembet ke negeri-negeri Muslim lainnya di mana satu persatu para penguasa zhalim telah diturunkan.

Umat kini tidak takut lagi di hadapa penguasa korup dan terus menuntut perubahan. Hal itu akan terus terjadi, hingga umat benar-benar kembali memiliki seorang pemimpin umat, amirul mukminin, Khalifah yang akan menerapkan syariah Islam dalam setiap sendi-sendi kehidupan. Insya Allah, semakin dekat. [GP]

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...