Senin, 05 September 2011

Taushiyah Idul Fitri Ustadz Abu: Kembalilah pada Fitrah Tauhid, Jangan Takut Dicap Radikal

Ustadz ABB
Suara Pembebasan. Tidak seperti umat Islam pada umumnya yang bisa merayakan Idul Fitri dengan mudik ke kampung halaman, shalat Id di tanah lapang atau bersilaturrahim dengan sanak famili, handai taulan, sahabat karib dan para tetangga.

Tahun ini adalah tahun kedua Ustadz Abu Bakar Ba’asyir menghabiskan masa Ramadhan dan Idul Fitri di dalam sel penjara. Bagi ulama sepuh yang juga amir Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT) ini, vonis zalim 15 tahun penjara yang diterima 16 Juni lalu sama sekali tak menyurutkan nyalinya untuk terus menyuarakan dakwah, tauhid dan jihad. Gaya khasnya pun tak berubah, yakni bicara apa adanya tanpa tedeng aling-aling.

Di penghujung Ramadhan 1432 H, voa-islam.com bersilaturahmi ke sel Bareskrim Mabes Polri, Jum’at (26/8/2011). Ditemui usai shalat Ashar, dengan senyum ramahnya Ustadz Abu mempersilakan jurnalis  duduk di samping kursi beliau.

Dampingi sang istri, Aisyah baradja yang akrab disapa Ummi Icun, Ustadz Abu menitipkan taushiyah Idul Fitri 1432 H kepada umat Islam, Berikut petikannya:

Idul Fitri itu, maknanya seseorang kembali kepada fitrah. Fitrah manusia itu tauhid. Dalam surat Al-A’raf ayat 172 Allah Ta’ala berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu Mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah Mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya Berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhan-mu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami Lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini,”.

Jadi setiap manusia itu lahir di atas fitrah tauhid. Semua manusia itu lahir dalam keadaan Islam, tapi kemudian menjadi Kristen atau Yahudi itu pengaruh dari ayah dan ibu serta lingkungannya.

Fitrah itu artinya kembali kepada tauhid yang murni. Sekarang, fitnah terbesar yang dihadapi rakyat Indonesia itu justru rusaknya tauhid, itulah yang harus dikembalikan. Jadi, di hari Idul Fitri ini kita harus kembali kepada tauhid yang murni menurut ketetapan Allah dan Rasul-Nya.

....Tauhid ini rusak karena doktrin atau ideologi-ideologi sesat nasionalis, sosialis, demokrasi dan Pancasila...

Tauhid ini rusak karena doktrin dien-dien atau ideologi-ideologi sesat nasionalis, sosialis, demokrasi, dan Pancasila. Itulah yang merusak tauhid. Akhirnya dalam mengamalkan Islam terjadi talbisul-haq bil-bathil, yaitu mencampuradukkan antara yang haq dengan yang bathil).

Tauhid yang murni itu begini sikapnya hanya Islam, titik! Kalau ada tawaran lain di luar Islam, katakan tidak! Apapun namanya mau demokrasi, Pancasila, katakan tidak! Cukup dengan Islam, titik !

Sikap inilah yang selama ini hilang. Dengan alasan demi persatuan, akhirnya menerima (paham di luar Islam, ed.) sehingga menjadi tidak karuan. Sampai ada istilah Muslim Pancasila, Muslim Demokrat, Muslim Sosialis, Muslim Nasionalis, dan seterusnya. Padahal Allah tidak menamakan Islam seperti itu, Allah hanya menamakan Muslim, titik! Oleh karena itu, tolak semua yang di luar itu Islam, tanpa ada pertimbangan apapun!

Jadi, sejak awal merdeka, salahnya umat Islam dalam masalah tauhid itu. Mereka mau menerima dien di luar Islam yang dicampur dengan Islam, akhirnya yang rusak Islamnya. Ibarat air, air jernih kalau dicampur dengan air kotor, maka yang rusak adalah air jernih. Air jernih menjadi kotor, bukan air kotor yang jadi jernih.

Sikap tauhid yang murni ini memang dibenci oleh Yahudi dan Nasrani, itulah yang dimaksud dalam Surat Al-Baqarah ayat 120:

"Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka.”

...Tauhid yang murni ini memang dibenci oleh Yahudi dan Nasrani. Oleh para thaghut, kebencian ini dibahasakan dengan istilah Radikal...

Nah, oleh para thaghut di Indonesia (kebencian ini) dibahasakan dengan istilah Radikal, kemudian diupayakan untuk mengatasinya dengan Deradikalisasi supaya mau talbisul-haq bil-bathil lagi. Deradikalisasi ini sudah diisyaratkan dalam Al Qur’an surat Al-Qalam ayat 8-9:

"Maka janganlah engkau patuhi orang-orang yang mendustakan (ayat- ayat Allah). Mereka menginginkan agar engkau bersikap lunak maka mereka bersikap lunak (pula).”

Deradikalisasi ini bahaya, mereka mau melunakkan kembali, padahal kalau urusan tauhid itu harus keras, tidak boleh lunak. Jadi yang dimaksud Rasulullah SAW dengan “asyidda’u ‘alal-kuffar” itu bukan keras secara fisik tetapi tauhid, ini yang harus ditekankan umat Islam.

Kalian (para thaghut, ed.) mau mengatakan apa saja silakan, biar saja walau karihal Kafirun, meskipun orang-orang kafir itu membenci. Tidak boleh urusan agama itu meminta ridhanya orang kafir! Jika kalian orang kafir) mau, silakan bersama kami. Tapi jika tidak, silakan pergi!

Dengan momen Idul Fitri ini, mudah-mudahan umat Islam bisa kembali kepada fitrah manusia yaitu tauhid. [GP]

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...