Senin, 12 September 2011

Serangan WTC 9/11 Sebagai Legitimasi Penjajahan Amerika

Gedung WTC
Suara Pembebasan. Oleh Farid Wadjdi. Serangan terhadap gedung WTC di kota New York telah 10 tahun berlalu. Namun, peristiwa 11 September 2001 (911) masih berdampak hingga kini dan mungkin beberapa tahun ke depan. Pasalnya 911 menjadi dasar bagi AS untuk melancarkan perang globalnya, Global War on Terorists (GWOT), perang melawan terorisme. Tidak lama setelah tragedi WTC, Goerge W. Bush mengultimatum dunia: either you are with us or with terorist. Dunia dihadapkan ‘hanya’ pada dua pilihan ‘ikut AS’ atau masuk dalam kubu teroris yang artinya siap untuk digempur sang Polisi Dunia.

Sejak gendrang perang itu dikobarkan Bush yang ia sebut sebagai ‘Crusade’ (perang salib) korbanpun mulai berjatuhan dan terus bertambah hingga kini. Dan ironisnya, target perang AS sangat focus; umat Islam dan negeri Islam. Atas dasar perang melawan terorisme AS menyerbu Afghanistan dan Irak. Ratusan ribu rakyat sipil terbunuh. Di Irak saja hampir 1 juta orang terbunuh. Afghnistan tidak jauh beda. Serangan Amerika telah membunuh lebih dari 3000 muslim .

Umat Islam pun menjadi sasaran perang. Kalau nama anda berbau ‘arab’ berbau Islam, siap saja menghadapi berbagai kesulitan di negara-negara Barat, mulai dari masuk Bandara hingga diskriminasi dalam pekerjaan. Tidak hanya itu, sebagian besar kelompok yang dimasukkan dalam terorisme adalah kelompok Islam.

Namun, perang melawan terorisme ala AS ini mulai banyak dipertanyakan legitimasinya. Justru pertanyaaan yang maling mendasar adalah peristiwa 911 yang dijadikan alasan oleh AS dalam GWOT-nya. Sebab banyak misteri disekitar 911. What really happened (apa sebenarnya yang terjadi)? Berbagai tulisan, talk show, sampai film bermunculan mempertanyakan siapa sebenarnya pelaku 911.

Washington Post yang membuat serial 10 Days in September: Inside the War Cabinet mulai Ahad (27/01/02) dan Vision TV Kanada lewat program Insight MediaFile. Lewat siaran yang ditayangkan Vision TV Senin (28/01/02), Barrie Zwicker, kritikus media di Kanada, antara lain berkomentar bahwa CIA, Pentagon, dan Gedung Putih boleh jadi terlibat dalam aksi teror 11 September 2001 yang telah meruntuhkan Gedung World Trade Center (WTC) dan merusak Pentagon.

Di awal kupasannya, Barrie Zwicker menyatakan keprihatinannya, mengapa tidak ada media yang mempertanyakan secara kritis tentang apa yang sebenarnya terjadi pada 11 September itu. Zwicker mempertanyakan mengapa sekian lama tak ada reaksi? Mengapa pesawat tempur dan kuadron udara tidak melakukan operasi intersepsi untuk menghadang aksi pembajakan? Mengapa Pentagon diam untuk masa sekian lama? Dalam buku The Cell Inside 9/11 Plot, And Why the FBI and CIA Failed to Stop It (2002), diungkap bagaimana peringatan dini yang banyak disampaikan oleh sejumlah pihak diabaikan oleh Gedung Putih.

Era Muslim (26/06/2006) melaporkan bahwa pada bulan Juni 2006, sekitar 1.200 orang berkumpul di sebuah hotel di Los Angeles sepanjang akhir pekan kemarin. Mereka mengenakan T-Shirt bertuliskan ‘What Really Happened?’ sebuah pertanyaan yang ditujukan untuk peristiwa 11 September. Mereka yang hadir dalam pertemuan itu berasal dari berbagai kalangan, mulai dari ahli fisika, ahli filsafat dan pakar terorisme yang secara terbuka mencela dan tidak percaya terhadap keterangan versi pemerintah tentang peristiwa 11 September. Dalam pertemuan tersebut, diputar DVD berjudul ’9/11; The Great Illusion.’

Oleh sejumlah kritikus teori-teori yang hanya muncul di media-media terbatas baik internet, talk-show radio dan pers-pers alternatif ini, dicemooh, dianggap liar dan berlebihan. Namun polling pendapat yang dilakukan Zogby pada tahun 2004 mengindikasikan bahwa 49 persen mereka yang tinggal di New York meyakini bahwa para pemimpin AS sebenarnya sudah mengetahui rencana serangan itu dan gagal melakukan tindak pencegahan.

Siapa yang Diuntungkan?
Berbagai fakta-fakta konspirasi sudah di buat. Perdebatan tentang siapa dalang 911 pun masih terus bergulir. Mungkin pertanyaan sederhana siapa yang paling diuntungkan dengan peristiwa ini, bisa menjadi petunjuk. Tentu saja harus disesalkan jatuhnya sekitar 3000 korban jiwa dalam serangan WTC, namun dilihat dari siapa yang paling diuntungkan dalam 911 ini, tampaknya AS. Tidak sedikit yang menyamakan serangan 911 ini dengan serangan Pearl Harbour yang menjadi alasan bagi AS untuk terlibat dalam perang dunia ke II. Sementaran 911 menjadi alasan bagi AS untuk mengobarkan perang melawan terorisme.

Pendapat ini bahkan muncul dari kalangan militer AS sendiri. Koran Tempo (6/06/2002) memberitakan Letnan Kolonel Steve Butler diskors dari tugasnya karena mengkritik Presiden George W. Bush, panglima tertinggi angkatan bersenjata AS,secara terbuka di koran Monterey County Herald. Menurut dia, Bush sengaja membiarkan terjadinya serangan 11 September 2001. Ia berpikir, Bush membutuhkan serangan itu sebagai pembenaran proyek perang terhadap teroris. “Tentu saja Bush tahu tentang serangan terhadap Amerika yang akan terjadi. Dia tidak memberikan peringatan kepada rakyat Amerika karena ia membutuhkan tindakan terorisme ini. Ayahnya memiliki Saddam dan dia membutuhkan Usamah,” tulis Butler dalam suratnya.

Bukti bahwa perang ini adalah untuk kepentingan AS sendiri tampak dari banyaknya kebohongan yang dilakukan pemerintah Bush. Eramuslim (11/9/2006) melaporkan Dalam rangka peringatan lima tahun serangan 11 September, Kongres Amerika mengeluarkan laporan yang menyanggah klaim-klaim yang digunakan pemerintah Bush tentang hubungan antara mantan Presiden Irak Sadam Husain dengan aksi serangan tersebut, yang dijadikan dalih oleh Bush untuk melakukan agresi militer ke Irak.Laporan Kongres AS, selain menyanggah penegasan-penegasan terkait dengan kemampuan pemerintah Irak saat itu terhadap produksi senjata pemusnah massal, juga membantah semua penegasan terkait dengan kesimpulan dinas intelijen pemerintah Bush mengenai Irak tahun 2002.

Menurut laporan ini, pemerintah Irak saat itu tidak mungkin mengembangkan program nuklir dan juga tidak mungkin membangun laboratorium bergerak (mobile) untuk pengembangan senjara biologi. Laporan ini menilai informasi-informasi yang diberikan oleh kelompok oposisi Irak “al-muktamar al-wathani al-Iraqi” yang dipimpin Ahmad Shalabi adalah sebuah kesalahan besar.Alat Intervensi Memang perang ini kemudian menjadi alat intervensi bahkan pendudukan AS terhadap negara lain.

Atas perang melawan terorisme AS menyerbu Afghanistan dan Irak. Negara ini juga menggunakan dalih teroris untuk menekan kelompok atau negara yang tidak sejalan dengan kepentingannya. Iran, Korea Utara, Suria, Libya yang cenderung bersebrangan dengan AS diberi julukan poros setan yang melindungi terorisme. Hamas dituduh teroris karena menentang kebijakan AS di Palestina. Berbagai bentuk kerjasamapun dilakukan oleh AS dengan negara-negara lain atas nama perang melawan terorisme.

Ujung dari intervensi AS tentu saja kepentingan ekonomi. Dengan menduduki Irak, AS meraih keuntungan dari minyak Irak yang dieksploitasi tanpa diketahui jumlahnya. Bukti atas dugaan bahwa minyak merupakan salah satu faktor terpenting nampak sejak awal invasi. James A. Paul dari Global Policy Forum menyatakan ”AS-Inggris menginvasi Irak pada 20 Maret 2003, dan dengan cepat menata ulang ladang dan sumur minyak.

Saat pasukan koalisi memasuki Baghdad, mereka membuat lingkaran protektif di sekeliling kementerian minyak, dan membiarkan institusi lainnya tak terjaga, membiarkan penduduk dan pembakara kantor kementerian lainnya, rumah sakit, dan lembaga-lembaga kultural”.

Dalam laporan yang dibuat Baker-Hamilton pada 2006 dinyatakan bahwa peraturan perminyakan yang baru sangat diperlukan demi investasi asing di Irak. Hasilnya adalah PSA (Product Service Agreement-kesepakatan layanan produksi), yang pada dasarnya merupakan lisensi untuk perampokan. Lewat peraturan perminyakan baru yang dikeluarkan pada februari 2007 , perusahaan asing dibolehkan memiliki kontrak jangka panjang dan membuat payung hukum untuk melindunginya. Cadangan minyak Irak kemudian akan digarap oleh perusahaan multinasional berdasarkan kontrak yang berlaku selama 30 tahun.

Ironisnya, perusahaan multinasional tersebut tidak dapat dituntut ke pengadilan berdasarkan hukum Irak kalau terjadi sengketa atau dibawa ke Badan Pemeriksa Keuangan. Tidak heran jika Hasan Jumat Awwad al Asadi pemimpin serikat pekerja minyak Irak, mengatakan: "Sejarah tidak akan pernah memaafkan mereka yang telah mempermainkan kesejahteraan dan takdir rakyat”.

Stigmatisasi Negatif Islam Kepentingan lain dalam perang melawan terorisme adalah menjadi media untuk melakukan stigmatisasi negatif Islam. Ajaran Islam yang bertentangan dengan kepentingan penjajahan Barat seperti penerapan syariah Islam oleh negara dan perintah jihad dikaitkan sebagai ide para teroris.

Kelompok-kelompok jihad yang pada dasarnya melakukan perlawanan terhadap penjajahan AS , Inggris dan Israel dituduh sebagai kelompok terorisme. dalam pidato Bush Kamis (6/10/2005) di depan undangan National Endowment of Democracy dan di hadapan The Ronald Reagan Presidential Library dalam kesempatan lain. Untuk pertama kalinya, Bush menyebutkan secara jelas ideologi Islam di balik aksi-aksi terorisme dunia internasional yang menjadi musuh nyata Amerika Serikat saat ini. Selama ini penyebutan Islam sangat dihindari oleh Bush saat berbicara tentang terorisme. Namun, dalam pidato Bush kemarin, kata-kata Islam sangat jelas dia ucapkan. Tentu saja dengan tambahan kata ‘radikal’, ‘fasis’, ‘jihad’.

Bush juga menyebutkan tujuan dari ideologi Islam ini, yakni mendirikan pemerintahan Islam global yang disebut oleh Bush dengan istilah ‘Imperium Islam’ dari Maroko sampai Indonesia, yang akan menyatukan umat Islam di seluruh dunia dan menggantikan pemerintahan moderat di negeri-negeri Islam. Pidato Bush ini mengarah pada institusi politik Islam—Khilafah Islam—yang memang bersifat global dan menjadikan hukum Islam sebagai sumber hukumnya.

Pidato Bush semakin memberikan gambaran yang jelas kepada umat Islam, bahwa target sebenarnya dari perang melawan terorisme adalah Islam dan umat Islam. Karena itu, dalam pidatonya di atas, Bush banyak melakukan kebohongan dan propaganda jahat terhadap ideologi Islam, Khilafah Islam, dan jihad.

Masalah Sebenarnya
Banyak pihak yang sudah mengungkapkan yang saat sekarang ini terjadi lebih merupakan reaksi perlawanan terhadap penindasan dan dominasi AS di dunia internasional, terutama Dunia Islam. Roger Garaudi, salah seorang intelektual Barat yang dikenal kritis, melihat faktor utama pendorong munculnya fundamentalisme Islam adalah kolonialisme Barat, dekedansi Barat, dan munculnya fundamentalisme Zionis Israel. Pendudukan Israel di Palestina sebagai faktor penyebab juga diungkap oleh Yvonne Haddad, Profesor Sejarah Islam Universitas Massachusetts.

Kondisi ini diperparah dengan kebijakan Bush Junior yang terkesan sangat merugikan kaum Muslim. Invasi dan pendudukan AS ke Afganistan dan Irak tentu saja sangat menyakitkan kaum Muslim. Apalagi serangan itu dilandasi oleh kebohongan tentang senjata pemusnah massal Irak yang belum terbukti ada hingga kini. Tidak mengherankan kalau saat ini, serangan terhadap pasukan AS di Irak semakin sering terjadi. Tentu saja bukan hanya oleh kelompok loyalis Saddam, tetapi juga oleh banyak kelompok Islam yang menentang penjajahan AS di Irak.

Akar terorisme ini yang sering atau sengaja dilupakan oleh AS dan sekutunya. Bisa disebut, selama masalah penjajahan negeri Islam ini tidak diselesaikan, sampai kapan pun perlawanan terhadap AS, termasuk dalam bentuk kekerasan, akan terus terjadi. Oleh karena itu, kalau dunia memang sungguh-sungguh ingin menghentikan tindakan kekerasan AS harus menghentikan penjajahannya terhadap dunia Islam. [GP]

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...