Jumat, 01 Juli 2011

Puncak Gempita Konferensi Rajab 1432 H

Konferensi Rajab 1432 H
GEMA Pembebasan. “Hidup sejahtera di bawah naungan khilafah,” dengan senandung khas logat Arab-Aceh Gayolues, para penari saman yang terus bergerak cepat dan serentak mengikuti irama musik yang harmonis. Tarian yang seolah digerakan oleh satu tubuh karya ulama Aceh Syaikh Saman itu mengawali acara Konferensi Rajab 1432 H, Rabu (29/6) pagi di Stadion Lebak Bulus, Jakarta.

Perhelatan kolosal yang dihadiri tidak kurang dari 20.000 kaum Muslim warga Jabodetabek dan sekitarnya ini merupakan acara puncak dari acara serupa yang digelar sejak 2 Juni lalu di 29 kota besar di Indonesia. Di akhir tariannya yang memukau, para penari pun memekik, “tegakkan khilafah!” Kemudian disambut takbir peserta.

Sejurus kemudian, secara atraktif enam orang memainkan tarian khas Banten, rampak bedug. Di saat para peserta menikmati tarian yang kompak menabuh bedug, terbanglah sebuah balon gas Zeplin berputar-putar di atas stadion. Bedug pun berhenti bertalu, pembawa acara meneriakkan takbir sembari menunjuk ke arah Zeplin.

Puluhan ribu mata pun tertuju pada Zeplin putih yang bertuliskan Sukseskan Konferensi Rajab 1432 H: Hidup Sejahtera di Bawah Naungan Khilafah. Dengan kompak para pemilik mata ini pun memekikkan “khilafah” berulang-ulang. Lalu, tampillah dua pemuda membacakan Ayat Suci Alquran dan terjemah. Tak lama berselang, acara Konferensi Rajab 1432 H pun dimulai.

Sambutan Jubir

Dalam sambutannya, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto menyatakan bahwa Isra Mi’raj sangat monumental dan berpengaruh pada perjalanan umat Rasulullah saw. “Tapi kita tidak boleh lupa 90 tahun lalu telah terjadi peristiwa besar, yakni runtuhnya khilafah Islam!” Ismail mengingatkan.

Ismail pun menegaskan bahwa penyelenggaraan KR ini bukan untuk meratapi momen menyedihkan tersebut. “Tapi kita berdiri di sini untuk mengokohkan perjuangan penegakan khilafah, tidak boleh berhenti atau mundur sedikit pun. Allahu Akbar!” pekiknya dan disambut takbir peserta.

Ia pun menegaskan bahwa penyelenggaraan KR di 29 kota besar untuk menunjukkan besarnya dukungan penegakkan syariah dan khilafah. “Ini bukanlah cara unjuk kekuatan, tapi penting untuk disampaikan bahwa dukungan itu ada di mana-mana, di berbagai tempat KR ini dilaksanakan,” argumennya.

Ia pun mengajak seluruh pejuang syariah dan khilafah untuk memaksimalkan usaha dan meningkatkan kesabaran. “Yakinlah di ujung kegelapan lorong peradaban jahiliyah ada secercah cahaya, itulah cahaya Islam. Allahu Akbar!” pekiknya dan kembali disambut takbir hadirin.

Kemudian tampillah Ketua Umum HTI Muhammad Rahmat Kurnia, memaparkan berbagai masalah yang silih berganti mendera negeri ini. “Kita butuh solusi!” pekik Rahmat yang juga sebagai Ketua Faaliyah DPP HTI itu.

Lalu, sekelompok pemuda pun berlari membentangkan kain hitam melingkari bola dunia yang juga ditutupi kain hitam. Mereka memainkan teatrikal sengsara tanpa khilafah. Sebagian pemuda lainnya berperan sebagai orang miskin, koruptor dan berbagai bentuk penyakit sosial lainnya, untuk menggambarkan bahwa itu semua sebagai buah diterapkannya sistem kufur kapitalisme dan isme-isme lainnya yang tidak islami.

Berikutnya, Ketua Lajnah Siyasiyah Harits Abu Ulya memaparkan penyebab kaum Muslim tidak juga bangkit dari keterpurukan. Kaum Muslim tidak juga menurunkan para penguasa yang lebih loyal kepada kepentingan penjajah daripada kepentingan rakyat. Tetapi rakyat seolah tersihir karena tidak memahami fakta dan tidak mengetahui solusinya.

Menurut Abu Ulya, hal itu terjadi karena dua faktor: gencarnya serangan musuh Islam dan lemahnya umat Islam memahami ajaran Islam. “Hari ini jangankan untuk memahami atau mengamalkan ajaran Islam, untuk belajar saja sudah tidak mampu,” ungkapnya. Maka pembinaan dari para pejuang syariah dan khilafah pun menjadi sangat vital.

Untuk memompa semangat para pejuang syariah dan khilafah agar tidak berputus asa menghadapi kenyataan getir itu. Nasyid Janji Allah pun dikumandangkan.

La ilaha ilallahu al khilafah fardullah (tiada Tuhan selain Allah, khilafah kewajiban dari Allah)/

La ilaha ilallah al khilafah waduwllah (tiada Tuhan selain Allah, khilafah janji Allah)/

La ilaha ilallah nastajib dakwatallah (tiada Tuhan selain Allah, kita sambut seruan Allah).

Setelah terdengar duo pembawa acara Kang Hari Moekti dan Kyai Yasin Muthahar turut bersenandung, gemuruh suara ribuan peserta yang turut menyanyikan nasyid tersebut berulang-ulang membahana, hingga tidak sedikit yang mengucurkan air mata. Mata pun kembali tertuju kepada Zeplin yang terbang kembali, kali ini bertuliskan Khilafah Sejahterakan Dunia, dan lantunan pun semakin keras.

Tinggal Selangkah

Dalam suasana yang semakin kondusif untuk mendapat pencerahan itu, tampillah Ketua Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI Hafidz Abdurrahman dan Ketua DPP HTI Anwar Iman. Kemudian disusul Ketua DPP HTI Farid Wadjdi dan aktivis senior HTI Tun Kelana Jaya. Mereka menjelaskan potensi negeri-negeri umat Islam yang besar dan akan menjadi kekuatan yang dapat menandingi bahkan mengungguli Amerika dan penjajah lainnya,bila disatukan dalam khilafah.

Atraksi pun digelar kembali, kali ini dua pemuda di dua ujung atap stadion melakukan aksi meluncur ke panggung (flaying fox), yang satu membawa bendera dua kalimat syahadat berwarna hitam (arrayah) dan lainnya membawa bendera yang sama berwarna putih (alliwa). Kemudian arrayah dan alliwa tersebut diambil tokoh masyarakat dan diserahkan kepada DPP HTI, sebagai simbol dukungan umat atas perjuangan penegakkan kembali syariah dan khilafah.

Zeplin kembali berputar-putar di langit stadion. Kali ini bertuliskan Indonesia Menuju Khilafah. Teatrikal yang menggambarkan pembinaan masyarakat oleh Hizbut Tahrir pun kembali digelar. Untuk menunjukkan masyarakat terbina dan sudah siap turut berjuang, beberapa pemuda mendekati dan menghadap para pimpinan DPP HTI yang duduk di atas panggung, lalu membentangkan spanduk bertuliskan Tegaknya Khilafah Tinggal Selangkah.

Melihat gambaran pembinaan yang mengharukan itu, serentak peserta kembali memekikkan “khilafah” berulang-ulang.

Ali Murtadha, DPP HTI, naik ke podium. Ia menyampaikan berbagai dalil bahwa khilafah itu kebutuhan dunia yang sangat mendesak dan merupakan janji Allah yang pasti akan tegak. “Maka kita harus menyambut janji Allah itu dengan memperjuangkannya!” tegas Ali. Lalu tim nasyid pun menyanyikan lagu yang berjudul Sambutlah Khilafah.

Seruan Hangat

Sebagai orasi penutup, Ketua DPP HTI Rokhmat S Labib menyampaikan Seruan Hangat Hizbut Tahrir. Rokhmat mengajak kaum Muslimin untuk menunaikan kewajiban penegakkan syariah dan khilafah.

Teatrikal digelar kembali. Kain hitam kembali dibawa sekelompok pemuda berlari mengitari bola dunia yang diselimuti kain hitam itu. Namun, muncul sekelompok pemuda lainnya membentangkan arrayah dan alliwa raksasa di salah satu lintasan orbit para pembawa kain hitam. Sedangkan sebagian pemuda lainnya membawa arrayah dan alliwa kecil-kecil menggiring pembawa kain hitam masuk ke kolong bendera raksasa.

Para pembawa kain hitam pun masuk ke kolong arrayah dan alliwa. Dan ketika keluar, kain hitam berganti kain kuning, pertanda keemasan Islam berkilau kembali. Mereka terus mengitari bola dunia, kain hitam pun tersingkap. Nampaklah kilauan emas bola dunia yang bercincin dua kalimat syahadat.

Dalam satu komando, puluhan ribu peserta yang sedari tadi bertopi hitam dan mengacungkan kertas hitam, langsung membalikan topi dan kertasnya menjadi kuning emas. Pekik takbir pun menggema, gemuruh “khilafah, khilafah, khilafah” menggema kembali.

“Ini menggambarkan perubahan yang insya Allah segera terjadi, perubahan dari sistem jahiliyah menuju khilafah!” pekik Hari Moekti. “Siapkah Anda mendukung perjuangan ini!” pekik Kyai Yasin tidak kalah kerasnya. “Siaaap!” gemuruh puluhan ribu peserta.

Seruan hangat HTI pun disambut takbir hadirin. Pimpinan Majlis Dzikir Imdadul Hadadiy Jakarta Timur Habib Khalilullah Bin Abu Bakar Al Habsyi Al Hassani yang mewakili para ulama; Ir. Nasrullah dari Lapan Batan mewakili kaum intelektual; Ahmad Jaelani dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mewakili mahasiswa; Erik Sitepu pengusaha sukses dari Riau mewakili para pengusaha dan Pakar Kristologi Hj Irena Handono mewakili Muslimah. Mereka menyatakan siap berjuang bersama menegakkan syariah dan khilafah.

Kemudian acara ditutup oleh KH Zainuddin Qh. Air mata peserta pun bercucuran terlarut dalam khusyunya doa yang dipimpin oleh pimpinan Ponpes Al Husna, Cikampek, Jawa Barat itu.

Namun usai berdoa dan baru saja peserta hendak berdiri meninggalkan tempat duduk, Kyai Yasin berteriak lantang, “Apa yang ada di benak saudara-saudara!” Serta merta, gemuruh suara peserta menggema kembali: “khilafah, khilafah, khilafah”. [GP]

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...