Rabu, 06 Juli 2011

Pentingnya Kesadaran dan Komitmen Perjuangan

Kalimat Tauhid
Suara Pembebasan. Oleh Farid Wadjdi. Alhamdulillahirabbil 'alamin, tidak henti-hentinya kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Hanya berkat pertolongan-Nya, acara Konferensi Rajab 1432 Hijriyah berlangsung dengan baik. Opini tentang kewajiban syariah dan khilafah pun kian menggema di seluruh Nusantara mulai Aceh hingga Papua. Dukungan pun semakin menguat dari masyarakat, para intelektual, tokoh, dan ulama. Perlu digarisbawahi, Konferensi Rajab ini adalah sekadar pilihan uslub (teknis) dalam thoriqah (metode) dakwah yang ditempuh oleh HizbutTahrir. Adapun substansinya adalah membangun kesadaran dan komitmen.

Dua hal ini—kesadaran dan komitmen—adalah perkara yang penting dalam perubahan masyarakat. Kesadaran akan membentuk opini umum yang akan menggiring dan menggerakkan masyarakat untuk menuntut perubahan dengan tegaknya khilafah. Sementara kornitmen untuk berpartisipasi dan berkorban akan menentukan keberhasilan perjuangan yang membutuhkan dukungan penuh dengan kerelaan berkorban pada jalan yang penuh tantangan dan ujian.

Sejak awal, materi-materi dari Konferensi Rajab 1432 H memang ditujukan ke arah sana. Materi pertama—Indonesia dalam cengkeraman kapitalisme global—memberikan pemahaman bahwa sesungguhnya Indonesia masih dijajah dan solusinya adalah syariah Islam. Dan hal ini mutlak membutuhkan keberadaan khilafah sebagai institusi politiknya.
Pada pemaparan yang ketiga, ada gambaran yang lebih rinci, bagaimana penerapan syariah Islam di bawah naungan khilafah akan mampu menciptakan kesejahteraan di tengah-tengah masyarakat.

Untuk itu secara rinci dipaparkan kebijakan politik negara dalam ekonomi (jaminan pemenuhan pokok tiap individu masyarakat oleh negara, kebijakan pasar, mata uang, distribusi, industri, sumber daya alam, perdagangan, pengelolaan pendapatan dan pengeluaran negara. Termasuk kebijakan pendidikan dan kesehatan gratis.

Dari sini diharapkan muncul pemahaman bahwa Islam memiliki solusi yang praktis dan memang mampu menyelesaikan persoalan manusia. Secara historis juga digambarkan bahwa syariah Islam memang benar-benar pernah diterapkan dan mampu menyejahterakan selama lebih kurang 13 abad. Hal ini untuk membantah tudingan bahwa syariat Islam hanya sekadar selogan kosong dan utopia.

Materi yang keempat adalah gambaran tentang negara adi daya khilafah masa depan. Secara potensi Allah SWT telah mempersiapkan umat Islam menjadi umat yang terbaik (khoiru ummah), menjadi negara terdepan dan adi daya dunia. Kira sebenarnya telah memiliki semua syarat untuk menjadi negara adi daya. Yang kita butuhkan hanyalah satu: yakni adanya daulah Khilafah Islam yang menyatukan potensi itu hingga menjadi kekuatan rill negara adi daya.

Berbeda dengan Barat (ideologi kapitalisme), kesejahteraan yang akan diciptakan oleh Ideologi Islam adalah kesejahteraan untuk seluruh umat manusia, bukan dengan cara mengeksploitasi dan merampok wilayah lain. Dan yang terpenting kesejahteraan itu penuh dengan nilai ruhiyah karena diperoleh dengan cara yang benar dan ditujukan untuk mendapat ridha Allah SWT.

Kesadaran-kesadaran di atas semakin diperkokoh dengan janji Allah SWT akan kemenangan Islam dan kembalinya Daulah Khilafah pada materi kelima. Di antara janji Allah SWT yang diberikan kepada umat Islam adalah istikhlaffial-ardh (menjadi penguasa di muka bumi).

Materi terakhir berupa Seruan Hangat dari Hizbut Tahrir Indonesia intinya mengajak umat Islam untuk berkomitmen memperjuangkan syariah dan khilafah ini. Bukan hanya sadar dalam pengertian sekadar tahu, tapi juga terlibat langsung dalam perjuangan ini dengan segala pengorbanannya. Sebab, kewajiban penegakan syariah Islam dan khilafah adalah masalah kewajiban syar'i yang merupakan konsekuensi keimanan seorang Muslim.

Seruan hangat ini juga menjelaskan bagaimana metode Hizbut Tahrir untuk mewujudkan kembali khilafah dengan cara mengikuti thariqoh (metode) Rasulullah SAW. Yakni aktifitas politik berupa pembinaan (tatsqif, membongkar makar penjajahan (kasyful khuththat), mengkoreksi penguasa (muhasabah lil hukkam), dan meminta pertolongan dari ahlul quwwah (thalabun nushrah). Semua ini dilakukan secara fikriyah (pemikiran), siyasiyah (politik) dan lomadiyoh (tanpa kekerasaan).

Inilah perjuangan yang mulia yang memiliki pahala yang benar dari Allah SWT. Secara khusus HT menyerukan ahlul quwwah (para jenderal dan perwira militer) untuk mendukung Hizbut Tahrir. "Jadilah Anda semua kaum Anshar abad ke-15 Hijrah sebagaimana kaum Anshar pada zarnan Rasulullah SAW! Sungguh, 'Arasy Ar Rahman telah bergetar karena kematian pemimpin Anshar, Saad bin Muadz ra, Baginda Rasulullah SAW. bersabda: ‘Arasy Ar Rahman bergetar karena kematian Saad bin Muadz (HR Bukhari dari Jabir ra).

Perjuangan tentu belum selesai dengan berakhirnya Konferensi Rajab. Untuk para aktifis, tidak ada lain, harus tetap sabar dan ikhlas serta sungguh-sungguh dalam berdakwah. Untuk umat, juga tidak ada lain kecuali harus secara sungguh-sungguh dan ikhlas mendukung dan berjuang bersama jamaah yang tegas hendak mewujudkan tegaknya syariah dan khilafah, yakni HizbutTahrir. Allahu Akbar. [GP]

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...