Jumat, 08 Juli 2011

Kezaliman Vonis untuk Abu Bakar Ba'asyir

Ustadz ABB
Suara Pembebasan. Oleh Fatih Mujahid. Banyak orang menduga, Ustadz Abu Bakar Baasyir (ABB) pasti akan dinyatakan bersalah oleh pengadilan meski tanpa bukti yang kuat. Dugaan itu tak meleset. Pimpinan Pondok Pesantren Ngruki, Surakarta, itu dijatuhi hukuman penjara 15 tahun.

Vonis ini sama persis dengan prediksi yang dikemukakan oleh pengamat teroris internasional dari Internasional Crisis Group (ICG), Sidney Jones dalam acara diskusi di televisi swasta, Kamis (16/6) pagi, beberapa jam sebelum dibacakan di persidangan.

"Berdasarkan keterangan saksi maupun bukti-bukti yang ada, majelis hakim akan memvonis Ba'asyir sekitar 15 tahun penjara," katanya. Saat itu ia bilang, vonis bagi Baasyir lebih ringan dari tuntutan jaksa yang menuntut penjara seumur hidup. "Biasanya hakim akan memvonis lebih ringan dari tuntutan jaksa dan ada pertimbangan umur," kata Sidney.

Bagi Baasyir, seumur hidup atau 15 tahun sama. Putusan itu dinilainya zalim, ini tidak dapat diterima. Ia menyatakan, putusan itu adalah putusan thaghut dan tidak bersandar pada syariat Allah. Lebih dari itu, Baasyir tidak bisa menerima penyamaan i'dad (pelatihan) dengan tindakan terorisme.

Namun palu telah diketuk oleh Hakim Ketua Herry Swantoro, Kamis (16/6) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Kuasa hukum Baasyir pun tak bisa menerima alasan putusan itu. Soal-nya, hakim tampak sekali mengabaikan fakta dan bukti di persidangan. "Hakim mengabaikan bukti-bukti yang menjelaskan bahwa Ustadz Abu tidak bersalah," ujar Achmad Michdan, kuasa hukum ABB. Makanya, mereka langsung mengajukan banding.

Alasan hakim memvonis 15 tahun penjara lantaran Baasyir dituduh merencanakan dan menggerakkan orang lain untuk mengumpulkan dana, baik secara pribadi maupun selaku Amir Jamaah Ansharut Tauhid terkait pelatihan militer di Pegunungan Jelin Jantho di Aceh Februari 2010.

Menurut hakim, dana yang dikumpulkan Baasyir berasal dari Syarif Usman sebesar Rp 200 juta dan Hariyadi Nasution sebesar Rp 150 juta. Padahal, fakta tersebut sudah dibantah oleh Baasyir di persidangan. Uang sebesar Rp 300 juta tersebut telah disumbangkan untuk Mer-C guna membantu pembangunan Rumah Sakit di Palestina. Kwitansinya pun masih ada.

Di persidangan jaksa penuntut umum (JPU) mengajukan dakwaan berlapis. Dakwaan primernya Pasal 9 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme. Pasal ini tidak terbukti. Artinya Baasyir tidak terlibat dalam tindak pidana terorisme.

Selain itu jaksa mendakwa¬nya dengan dakwaan subsider Pasal 14 juncto Pasal 7, Pasal 14 juncto Pasal 11, Pasal 15 juncto Pasal 9, Pasal 15 juncto Pasal 7, Pasal 15 juncto Pasal 11, dan terakhir Pasal 13 huruf a Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003.

Yang terbukti adalah bahwa Baasyir menerima uang dari para terdakwa lainnya. Hanya itu saja. Menurut kuasa hukum, majelis tak memperhitungkan buat apa dana itu karena dakwaan primernya yakni tindak pidana terorismenya sendiri tak terbukti.

Inilah yang dianggap oleh tim kuasa hukum. Pengabaian bukti-bukti dan keanehan saat jalannya persidangan mengindikasikan tuntutan terhadap Baasyir mengada-ada dan sudah
dipesan sebelumnya. Kuasa hukum Mahendradatta mengatakan adanya pengaturan untuk menghadirkan saksi melalui teleconference yang merupakan sebuah permainan dalam persidangan.

Makanya, ia menjelaskan bahwa hasil dari persidangan kasus Baasyir ini sudah.bisa ditebak. "Seolah hakim ingin mengatakan, apapun yang kamu lakukan bahkan jungkir balik sekali pun hasilnya tetap Baasyir tetap bersalah," ujarnya.

Menurutnya, hakim menco¬reng sendiri kehormatan persi¬dangan. Saksi yang seharusnya menjadi kunci persidangan malah tidak dihadirkan. Padahal peng¬akuan Khairul Ghazali yang selama ini berada di bawah tekanan Densus 88 menggambarkan dengan jelas bahwa persidangan itu penuh rekayasa. Dalam pengakuan terakhirnya melalui surat, ia menyatakan bertobat dan mencabut semua yang telah disampaikan di BAP karena pengakuan itu semuanya rekayasa.

"Seharusnya hakimlah yang menghadirkan saksi kunci Khairul Ghazali dalam persidangan. E malah mereka menyalahkan pengacara kenapa tidak menghadirkan. Inilah anehnya, padahal hakim sendiri tahu kalau Khairul Ghazali ditahan dalam penjara," jelasnya kepada Media Umat.

Walau harapan banding hasilnya kecil, tapi kuasa hukum tak menyerah. Mereka akan terus melakukan upaya hukum hingga kasasi. "Insya Allah, masih ada hakim yang amanah. Kita akan melawan terus secara hukum, dan hanya itu saja yang bisa dilakukan,"terangnya.

Kebohongan SMS Ancaman

Sebelum pembacaan vonis Baasyir, beredar pesan singkat (SMS) ancaman bersifat teror yang menyatakan akan terjadi peledakan bom beberapa titik di Jakarta jika Baasyir divonis bersalah. Ada juga kabar mengenai SMS ancaman terhadap lima hakim yang memimpin sidang. Kabar adanya ancaman itu disampaikan oleh Kapolda Metro Jaya Irjen Sutarman. Namun Kahumas Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan membantah mendapatkan SMS ancaman sebagaimana omongan Kapolda. Nyatanya, hingga selesainya persidangan hal ini tidak terbukti sama sekali.

Lagi-lagi hal ini hanya ingin menyudutkan sosok Abu Bakar Baasyir. Kejadian seperti ini pun juga pernah terjadi, selagi proses persidangan Baasyir berlangsung. Peristiwa bom buku juga sempat menjadi perhatian publik. Dengan alasan yang tidak mendasar beberapa pihak mengaitkan kejadian tersebut kepada Baasyir.

Persidangan atau Perang
Yang menarik, persidangan itu diamankan oleh 3.000 personel keamanan, baik TNI dan POLRI. Satu kilometer dari lokasi persidangan tim keamanan, baik menggunakan seragam dan yang berpakaian preman sangat tampak di beberapa lokasi di sekitar pengadilan. Tidak ketinggalan juga kepolisian melengkapi diri dengan kendaraan taktis lapis baja dan penembak jitu (sniper). Persiapan persidangan lebih mirip dikatakan sebagai persiapan perang.

Sedangkan para pendukung Baasyir hanya bisa memadati halaman pengadilan dan menyaksikan jalannya persidangan melalui televisi yang disediakan oleh pengadilan. Para pendukung yang kebanyakan dari Jamaah Ansahrul Tauhid (JAT) dan beberapa ormas islam dengan tertib mengikuti persidangan dan berorasi mengecam persidangan ini.

Begitu juga setelah persidangan berakhir dengan vonis 15 tahuin penjara untuk Abu Bakar Baasyir, mereka dengan tertib membubarkan diri walau memang banyak pendukung Abu Bakar Baasyir yang kecewa dengan hasil persidangan. Terlihat beberapa di antaranya melampiaskan kekecewaan mereka dengan berorasi di depan pengadilan dan mengecam vonis tersebut sebagai “pesanan para kafirun”. Sebagian tampak sedih berurai air mata menyaksikan kezaliman yang menimpa ustadz 72 tahun itu. [GP]

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...