Jumat, 08 Juli 2011

Festival Kolosal Menyongsong Fajar Khilafah Digelar di Kota Gaza

Teatrikal Syabab Palestina
Suara Pembebasan. Dalam mengenang 90 tahun penghancuran Khilafah, dan di tengah gelora takbir serta seruan “Umat menginginkan Khilafah Islam“, Hizbut Tahrir di Palestina menggelar sebuah festival kolosal di kota Gaza pada hari Selasa (5/7/2011). Festival yang dihadiri oleh ribuan massa ini mengambil tema: “Menyongsong Fajar Khilafah“. Kegiatan kolosal seperti ini sudah biasa digelar Hizbut Tahrir setiap tahun dalam rangka mengenang penghancuran Daulah Khilafah guna mengingatkan kaum Muslim akan kewajiban menegakkannya. Festival ini dibuka dengan pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an. Kemudian setelah itu diikuti oleh rangkaian sesi kegiatan festival.

Pemaparan Pernyataan
Sesi pertama festivak setelah pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an adalah pemaparan pernyataan yang berisi perkataan-perkataan para pemikir dan penguasa negara-negara Barat tentang permusuhan mereka yang terang-terangan terhadap Islam dan Khilafah, serta provokasi mereka terhadap Hizbut Tahrir.

Testimoni Berjudul: Khilafah Penjaga Agama dan Perlindungan Kaum Muslim
Kemudian, Al-Ustadz Hisyam Manshur naik ke atas podium menyampaikan testimoni berjudul: “Khilafah Penjaga Agama dan Perlindungan Kaum Muslim“. Dalam testimoninya ini, Al-Ustadz Hisyam Manshur berbicara dengan kata-kata yang kuat tentang realitas Khilafah dan para khalifah, dalam perspektif hadits Rasulullah Saw.: “Imam (pemimpin) tidak lain adalah perisai, di mana di belakangnya (umat) berperang, dan kepadanya (umat) berlingdung.” Dan tidak lupa beliau memaparkan contoh-contoh sejarah kaum Muslim dan perjalanan hidup (sirah) para khalifah. Kemudian beliua juga memaparkan perkataan sebagian ulama tentang penting dan wajibnya menegakkan Khilafah.

Dalam kesempatan ini, Al-Ustadz Hisyam Manshur menolak seruan pada negara sipil. Beliau mengatakan: Tidakkah aneh dan menyedihkan bahwa setelah semua ini masih ada di antara kaum Muslim-bahkan di antaranya dikenal ulama yang berilmu tinggi-yang menuntut berdirinya negara sipil demokratis, yang memberikan otoritas penuh pada rakyat untuk membuat hukum, bukan pada Allah SWT. Padahal Allah SWT berfirman: “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan siapakah yang lebih baik daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS. Al-Maidah [5] : 50).

Beliau juga menilai bahwa munculnya beberapa pernyataan yang mengklaim bahwa Khilafah itu utopis adalah tidak lain karena kebodohannya terhadap dalil-dalil hukum Islam yang menetapkan bahwa menegakkan Khilafah hukumnya wajib, sehingga wajib diamalkan sebagaimana kewajiban-kewajiban syariah lainnya.

Melantunkan Sajak
Dr. Hisyam al-Aswad melantunkan sajak yang begitu menyentuh dengan judul: “Khilafah … Fajar Yang Pasti Datang“. Dalam sajak ini berisi bait-bait yang diantaranya meneyeru tentara kaum Muslim akan pentingnya bergerak dan bergabung dengan barisan umat. Selanjutnya mencabut rezim-rezim thaghut dan mendeklarasikan baiah untuk satu orang Khalifah bagi seluruh umat Islam.

Testimoni Berjudul: Menyongsong Fajar Khilafah
Testimoni yang disampaikan Dr. Hassan Hamudah ini membongkar kebusukan para penguasa di kawasan Timur Tengah. Palestina dan masalahnya adalah salah salah satu masalah yang dibongkarnya, serta membongkar sikap dan tindakan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang baru-baru ini mengakui entitas Yahudi di atas tanah Palestina yang diberkati.

Kemudian Dr. Hassan Hamudah memaparkan seruan untuk kebebasan dan demokrasi yang diusung oleh beberapa kaum Muslim. Beliau memperingatkan bahwa umat jangan mengusung slogan-slogan ini sebagai bagian dari akidah, dan tidak menggunkannya sebagaimana di Barat, yakni mengusung slogan-slogan kebebasan untuk melawan kolonialisme dan ketidakadilan para penguasa; dan mengusung slogan-slogan hak asasi manusia untuk bebas dari ketidakadilan, pembunuhan, pengusiran, dominasi, perampokan sumber daya alam, dan pembelengguan manusia di negeri-negeri kaum Muslim. Bahkan ketika sebagian mereka menuntut demokrasi, mereka mengatakan bahwa mereka tidak bermaksud untuk memberikan otoritas membuat konstitusi pada rakyat, namun yang mereka inginkan adalah membebaskan umat dari penindasan dan kediktatoran sebagaimana yang mereka gambarkan.

Beliau menjelaskan bahwa dua-pertiga dari sejumlah negeri-negeri kaum Muslim mendukung usaha penyatuan kaum Muslim dalam satu negara, atau satu Khilafah. Sebagaimana hal itu terungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh University of Maryland. Sementara jutaan orang berbaris di Tahrir Square untuk mendirikan shalat, mengaitkan berbagai aksi revolusi dengan shalat Jum’at, dan masjid-masjid menjadi tempat-tempat untuk pengobatan. Semua ini dan fakta-fakta lainnya menegaskan bahwa umat mengingkan penerapan syariah Islam.

Dalam testimoninya ini berliau memperingatkan akan upaya-upaya Barat untuk menunggangi revolusi, bahkan Barat telah mengalokasi dana sebesar empat puluh miliar dolar untuk mempromosikan nilai-nilainya. Beliau memperingatkan dalam testimoninya akan “usaha mengawinkan Islam dengan demokrasi. Ini merupakan pertempuran yang tanpa henti dilancarkan oleh Barat. Negara-negara Barat telah melakukan ini sejak lama dengan memanfaatkan gerakan-gerakan yang disebut Islam moderat. Model Islam moderat inilah yang disenangi Barat. Sehingga Barat mengarahkan para aktivis Islam agar menjadi moderat dengan melibatkan mereka dalam politik praktis, dalam kerangka demokrasi sekuler, dan menjalin hubungan persahabatan dengan Amerika Serikat dan Barat.”

Testimoni Kantor Media Hizbut Tahrir di Palestina

Testimoni Kantor Media Hizbut Tahrir di Palestina ini disampaikan oleh Al-Ustadz Ibarahim asy-Syarif. Dalam testimoninya ini beliau menyampaikan gambaran singkat tentang beberapa upaya Hizbut Tahrir dalam mendukung revolusi untuk menggulingkan para penguasa mereka, dan mengarahkan agar beraktivitas untuk mendirikan Khilafah.

Aksi Teatrikal
Teatrikal ini mendemokan apa yang telah dilakukan oleh Inggris dan Perancis, yang memecah negeri-negeri kaum Muslim menjadi negeri-negeri kecil. Kemudian memeberi negeri-negeri kecil kemerdekaan formalitas. Lihat, bagaimana pemerintahan-pemerintahan ini telah menyia-nyiakan berbagai potensi tentaranya. Mereka mencegah tentaranya dari membebaskan Palestina dan menolong kaum Muslim. Semua itu didemokan dengan cara simbolis dan kalimat-kalimat yang menyentuh. Di mana dalam aksi teatrikal itu diusung peti mati yang berisi bendera-bendera rezim yang ada di dunia Islam, serta nama-nama palsu seperti Liga Arab dan Organisasi Konferensi Islam (OKI). Kemudian mereka melemparkannya ke dalam pemakaman sejarah di tengah-tengah gemuruh takbir dan sorak-sorai dari para hadirin. Sungguh, sesi ini membuat detak kagum para hadirin, yang menjadikan mereka hanyut dalam suasana, sehingga tidak sedikit dari mereka yang tanpa terasa meneteskan air mata.

Pada akhir festival banyak dari para hadirin yang menyatakan kekagumannya dengan rangkaian sesi acara dan pengorganisasian festival kolosal yang luar biasa ini. [GP]

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...