Sabtu, 16 Juli 2011

Aksi GEMA Pembebasan Menolak Kapitalisasi dan Liberalisasi BBM

Gema Pembebasan
Suara Pembebasan. Para mahasiswa dari berbagai kampus di Jabodetabek yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa (GEMA) Pembebasan menggelar aksi damai menolak kapitalisasi dan liberalisasi BBM, Ju’mat (8/7) siang di depan Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, dengan mengangkat tema “Tolak Kapitalisasi Dan Liberalisasi BBM, Saatnya BBM Diatur Dengan Syariah Dalam Bingkai Khilafah”.

Aksi yang berlangsung damai hingga akhir tersebut, di hadiri oleh berbagai elemen mahasiswa yang berasal dari berbagai kampus, diantaranya adalah UI, IPB, UIJ, UNJ, UIN SYAHID, USNI, STAI PTDI, serta berbagai kampus lainnya yang tersebar di Jabodetabek.

Dalam orasinya, para orator menegaskan bahwa kebijakan pemerintah mengenai pengelolaan migas khususnya BBM sarat dengan kebijakan kapitalisasi dan liberalisasi yang berdampak pada kenaikan harga BBM yang kemudian dibahasakan secara halus oleh pemerintah dengan pembatasan subsidi BBM. Pembatasan BBM bersubsidi atau kenaikan harga BBM ini adalah kebijakan yang sangat dzalim dan mendzalimi rakyat.

“kita aksi untuk meminta kepada pemerintah termasuk ke pihak Kementerian ESDM ini untuk berhenti saat ini juga dalam melakukan kapitalisasi dan liberalisasi khususnya migas di negeri ini, karena nyata – nyata telah terlihat faktanya menyengsarakn serta mendzalimi rakyat, dan tidak ada kesejahteraan rakyat yang dirasakan hari ini, ujar Akmal Kamil selaku Pengurus Pusat Gema Pembebasan."

Lebih lanjut para oratorpun menjelaskan siklus perekenomian mengenai persoalan migas tersebut yang berdampak pada kesengsaraan rakyat.

“Siklus perekonomian dalam masalah ini adalah bahwa jika pembatasan BBM bersubsidi atau kenaikan harga BBM dilakukan, maka secara otomatis akan terjadi kenaikan biaya transportasi karena kendaraan yang menggunakan BBM bersubsidi sebagian besar digunakan untuk jasa usaha pengangkutan dan sejenisnya. Setelah naiknya biaya transportasi maka yang akan terjadi berikutnya adalah Inflasi berupa kenaikan harga – harga barang serta biaya jasa, yang juga berdampak pada menurunya daya beli masyarakat, kemudian turunnya permintaan, berlanjut ke menurunnya pendapatan atau pemasukan usaha, dan akhirnya berujung pada gelombang pengangguran yang meningkat atau terjadi secara besar – besaran akibat pemecatan karyawan (PHK) serta tiadanya lapangan pekerjaan” tegas orator dari Gema Pembebasan.

Di akhir orasinya, tak lupa para mahasiswapun memberikan solusi tuntas yang menjadi tawaran intelektual berupa konsep pengelolaan migas khususnya BBM berupa pengaturan berdasarkan konsep serta hukum Islam, dimana semua kekayaan alam yang merupakan hajat hidup orang banyak tersebut harus dikelola sendiri oleh negara yang kemudian dikembalikan kepada rakyat, tanpa menyerahkannya kepada swasta maupun asing.

“Bagaimana Seharusnya? Minyak dan gas adalah termasuk barang tambang (ma’adin) yang merupakan hak milik umum (seluruh rakyat) baik kaya maupun miskin. Rasul SAW menegaskan:

الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثَةٍ: فِي الْمَاءِ وَالْكلإِ وَالْنَّارِ


Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang dan api. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan al-Baihaqi)

Dalam riwayat lain (ibn Majah) menggunakan lafazh an-nâs (manusia). Lafazh al-Muslimûn dan an-Nâs adalah bersifat umum mencakup semua rakyat baik kaya maupun miskin.

Karena itu, sudah saatnya ketentuan Allah dan Rasul-Nya terkait migas itu kita ambil dan terapkan. Dan itu tidak mungkin kecuali melalui penerapan syariah secara kaffah dalam bingkai Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwah. Hanya dengan itulah migas yang ditetapkan Allah menjadi hak milik umum akan benar – benar bisa dinikmati oleh seluruh rakyat dan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan kepada mereka” tegas orator dari Gema Pembebasan.

Aksi ini pun ditutup dengan doa sekaligus orasi intelektual yang semakin menegaskan betapa buruknya upaya kapitalisasi dan liberalisasi migas serta mengungkapkan berita terbaru yang direlease oleh Kementerian Keuangan yang menyebutkan bahwa Kementerian ESDM adalah salah satu dari tiga kementerian dan lembaga termalas serta memiliki penyerapan anggaran rendah di bawah daya serap rata – rata nasional. Hal inilah yang mungkin juga memiliki korelasi dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh kementerian tersebut sehingga bisa menunjang hasil penyerapan anggaran yang dihasilkan oleh kinerja kelembagaannya. Di akhir rangkaian aksi ini, para mahasiswapun menyempatkan diri untuk mengucapkan terima kasih serta bersalaman dengan para polisi yang bertugas mengamankan aksi damai tersebut, yang kemudian disambut dengan baik oleh pihak kepolisian sendiri. [GP]

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...