Minggu, 12 Juni 2011

Konferensi Rajab Lampung: Ribuan Kaum Muslim Serukan Penegakan Khilafah

GEMA Pembebasan. Alhamdulillah atas izin dan pertolongan Allah SWT, 2500 peserta Konferensi Rajab 1432 berasal dari berbagai elemen wilayah Lampung memadati indoor Gedung Sumpah Pemuda Pusat Kegiatan Olah Raga (PKOR) Way Halim Bandar Lampung, Minggu (12/06/2011). Acara dimulai tepat jam 08.00 WIB dan berakhir sebelum berkumandang adzan dzuhur, hadirin antusias tak beranjak dari duduknya hingga akhir acara. Mereka mengikuti dengan seksama seruan tegaknya Khilafah. Orasi pembicara dan testimoni ulama yang disertai tarian saman dan nasyid berirama semangat kemenangan Islam menambah semangat tersendiri kepada hadirin. Pekik takbir dan seruan; “Syariah dan Khilafah! bergema berulang kali diteriakkan oleh para peserta disertai kibaran Liwa dan Royah.

Konferensi Rajab Lampung ini disiarkan secara langsung melalui live streaming internet, di situs www.hizbut-tahrir.or.id sehingga dapat diakses dan disaksikan oleh semua orang di seluruh dunia. Konferensi ini diliput dan disiarkan secara langsung maupun tunda di beberapa stasiun TV, lokal (Radar TV, Tegar TV dan LampungTV) serta Media massa cetak pun turut meliput jalannya acara ini.

Namun, di balik itu semua, ada hal yang menarik jelang keberangkatan beberapa kafilah dari beberapa kota dan kabupaten di Lampung, seperti yang dialami Rombongan peserta dari Kalianda, Lampung Selatan yang telah menyewa 14 mobil dan bus untuk dipakai menuju tempat konferensi secara mendadak harus mencari tambahan kendaraan karena peserta yang ikut bertambah. Selain itu, Dalam perjalanan, rombongan jamaah pondok pesantren Riyadhus Sholihin juga mengalami musibah, kendaraan roda empat yang mereka tumpangi mogok di jalan dan baru tiba di PKOR Way Halim pukul 09.00. Kejadian nahas senada dialami jamaah yang berasal dari kota Metro, Mobil dan bus yang ditumpangi jamaah peserta KR Lampung juga mengalami pecah ban. Bahkan Qori’ yang akan membuka acara dengan membaca tilawah Qur’an, Ustadz Syamsuri rantai motornya putus hingga haru meminjam kendaraan lain untuk sampai tujuan. Namun semua kejadian itu tidak menyurutkan langkah mereka untuk hadir, bahkan menambah semangat untuk menyambut seruan penegakan Khilafah di Bumi Ruwa Jurai Lampung.

Ketua DPD I HTI Lampung Ustadz Abu Muhammad dalam sambutan hangat penuh apresiasi pada peserta Konferensi Rajab menyampaikan, sebelum diruntuhkannya khilafah oleh imperialis Inggris pada 28 Rajab 1342 (3 Maret 1924), umat Islam pernah berjaya dan memimpin peradaban dunia. Mengutip Will Durant dari bukunya The Story of Civilization, Abu Muhammad mengingatkan bahwa pada masa Khilafah dulu, para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan manusia. Sistem khilafah mampu menjamin masyarakatnya hidup sejahtera. Sementara kehidupan umat Islam saat ini melarat dan tercabik-cabik dalam 57 negeri.

Orator kedua, Ustadz M. Warji S.T.P, M.Si berbicara tentang Indonesia dalam cengkeraman Kapitalisme Global, dimana Ust Warji mengungkapkan dalam orasinya bahwa Indonesia saat kini masih terjajah, lihat saja banyak kekayaan alam kita yang dikeruk oleh asing, dan bahkan banyak UU yang dikeluarkan semuanya menguntungkan asing ketimbang rakyat. Oleh karena itu, karena kita masih dijajah maka agatr indonesia bisa terbeabs dari penjajahan maka tidak ada jalan lain kecuali dengan tegaknya kembali khilafah, serunya.

Sementara itu, Ust Abu farhat dan Ust Yung eko menyampaikan orasi Khilafah adalah solusi untuk mengentaskan problematika yang dihadapi umat. Umat Islam merupakan khayru ummah, seperti yang disebutkan Allah S.W.T dalam Surat Ali Imran ayat 110. “Umat Islam dimana saja mereka berada, semestinya mereka menjadi panutan”, tandas Warji. Namun saat ini justru umat Islam menjadi pesakitan, menderita, terhina, dan teraniaya.

Pangkal keterpurukan umat Islam tersebut menurutnya adalah disebabkan ketiadaan Khilafah sebagai institusi politik Islam yang menaungi umat dan melindungi dari rongrongan para penjajah. Sehingga jawaban atas keterpurukan umat Islam adalah dengan menegakkan kembali sistem khilafah. “Sudah saatnya, kita saling satukan pikiran dan hati kta demi tegaknya khilafah”, tandas Ust Abu farhat dan ust Yung eko .

Memasuki orasi selanjutnya, para hadirin diajak untuk menyimak gambaran Khilafah yang mensejahterakan. Ustadz Abu Miqdad dari DPP HTI secara retoris menanyakan kepada umat yang hadir dalam Konferensi Rajab 1432H, “apakah para hadirin menginginkan Hidup sejahtera? Dan apakah kini kita sekarang hidup sejahtera?” tandas beliau.

Menurut Abu Miqdad, dengan ditegakkannya Khilafah maka umat akan mengalami kegemilangan dan keemasan sebagaiman dahulu ketika khilafah masih tegak dan kita bisa lihat secara jujur bahwa khilafah mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnay dan dapat melindungi kesucian agamanya, terlindungi keselamatan dirinya, terlindungi akalnya, terlindungi kehormatannya, terlindungi hak miliknya. Pada masa lalu kehidupan umat dalam sistem khilafah sangat sejahtera. Beliau mencotohkan, gaji guru sebesar 15 dinar atau setara Rp 25 juta. Dan seorang ilmuwan yang membuat karya ilmiah akan dihargai emas seberat buku yang ditulis.

Sementara Ust Akhiril Fajri tampil sebagai orator keempat menyampaikan orasi tentang potensi Khilafah sebagai negara adidaya masa depan. Beliau menjelaskan meskipun dunia saat ini berada dalam dominasi Kapitalisme global yang menjadi penyebab kesengsaraan umat manusia, sesungguhnya ideologi ini dan negara-negara Barat yang menjadi pengusungnya sedang menghadapi krisis internal dan mendorongnya ke dalam jurang kehancuran. “Dibiarkan saja Kapitalisme pasti akan runtuh, apalagi jika umat bersatu menumbangkannya dengan menegakkan sistem Khilafah”, seru Akhiril Fajri.

Menurut beliau, potensi umat Islam sangat besar untuk bangkit jika umat mengadopsi ideologi Islam dan mewujudkannya dalam sisem khilafah. Dari sisi demografi jumlah umat terus tumbuh dan berkembang jauh meninggalkan pertumbuhan penduduk di Barat. Bahkan ada 20 negara Barat yang pertumbuhannya nol dan negatif. Kini jumlah umat telah mencapai angka 1,57 milyar jiwa atau hampir ¼ penduduk dunia.

Jika tentara yang ada di negeri-negeri Islam digabungkan, jumlahnya mencapai 27% dari seluruh tentara yang ada di seluruh dunia. Sementara tentara Amerika hanya 7,1% saja. Begitu pula jika digabungkan tentara dari Brazil, Rusia, India, dan China, jumlahnya 24% masih di bawah jumlah tentara negeri-negeri Islam. “Dengan potensi yang besar ini, maka masa negara Khilafah adalah negara adidaya masa depan yang akan menggulung hegemoni Amerika dengan Kapitalismenya”, kata Akhiril.

Sementara Ust Asep Rahmat dalam Orasinya Khilafah negara adidaya mengungkapan bahwa Dari sisi ekonomi sebaga dan sumber daya alam, negeri-negeri Islam menguasai cadangan energi dunia dan bahan mentah. Cadangan minyak bumi di negeri-negeri Islam mencapai 72% cadangan dunia, sedangkan cadangan gas 61,45% cedangan dunia. Selain itu, kita juga punya potensi Ideologi dan akidah untuk menjadi kampiun adidaya dengan Khilafah, tandasnya.

Lalu Ust M. Ahkam menyampaikan orasi janji Allah akan tegaknya Khilafah. dan mengatakan bahwa “Di antara janji Allah SWT yang diberikan kepada umat Islam adalah istikhlaf fi al-ardh. Istikhlaf fi al-ardh bermakna menjadi penguasa atau pengatur urusan manusia (khalifah atau imam) di seluruh dunia” tandas Ust Ahkam dengan merujuk pada al-Qur’an surah an-Nur 55. yang berbicara

Menurut Ust Ahkam, banyak sekali hadis-hadis sahih yang mengabarkan kabar gembira (bisharah) kepada kaum Muslim tentang kekuasaan Islam yang mencakup seluruh muka bumi. “Semua ini menunjukkan bahwa Khilafah Islam merupakan janji Allah yang paling agung bagi kaum Mukmin. Pasalnya, dengan tegaknya kekuasaan Islam ini (Khilafah Islam), agama Allah SWT bisa ditegakkan secara sempurna, dan keamanan kaum Muslim bisa diwujudkan secara nyata,” serunya.

Selanjutnya sebagai orasi penutup, Ust Amirudin Abu FIkri yang juga dari DPP HTI menyampaikan Seruan Hangat Hizbut Tahrir kepada Umat. Ustadz Abu fikri menyampaikan sesungguhnya tegaknya Khilafah Islam merupakan kewajiban syariah atas seluruh kaum Muslim. Kewajiban ini bersifat mengikat; tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali melaksanakannya.

Ust Abu fikri memberikan contoh bagaimana para sahabat menunda pemakaman Rasulullah SAW karena mereka sedang berkumpul di Saqifah Bani Sa’i'dah untuk memilih dan mengangkat seorang khalifah. “Ini menjadi salah satu bukti bahwa tegaknya Khilafah merupakan perkara paling utama dan harus diprioritaskan oleh kaum Muslim. Khilafah bahkan menjadi alqadhiyyah al-mashîriyyah bagi kaum Muslim. Pasalnya, penegakan Khilafah menyangkut perkara ‘hidup dan matinya’ Islam dan kaum Muslim”, kata Ust Abu Fikri.

Ia berharap, Konferensi yang mengangkat tema “Hidup Sejahtera dalam Naungan Khilafah” menjadi pendorong umat untuk merekonstruksi masa depan peradaban Islam dalam sistem khilafah. Konferensi ini diadakan untuk mengajak umat bersatu dalam visi, tekad, dan langkah untuk tegaknya Khilafah Islamiyah.

Konferensi Rajab hari ini juga diramaikan aksi teatrikal oleh para pemuda Islam yang berupaya menggambarkan keadaan umat Islam tanpa Khilafah. Kezaliman penguasa, bobroknya sistem demokrasi kapitalis sekuler ditampilkan dalam visualisasi gerakan Sebuah pesan penting yang disampaikan dalam aksi teatrikal ini adalah betapa pentingnya penegakan khilafah dalam menyatukan seluruh potensi umat untuk meraih kemuliaan Islam dan kesejahteraan, serta melenyapkan penjajahan.

Selain itu, Konferensi ini juga menghadirkan perwakilan ulama pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda 606 Kalianda/ketua Forum Komunikasi Ponpes se Lampung Selatan, Ustadz Kyai Endang Ahmad Arif. Dari tokoh pengusaha Lampung diwakili dr. Tito Sunarto, S.H. Tokoh intelektual Dr. Iing Lukman, P.h.D, tokoh muballighoh Dra. Hj. Rosniawati, serta tokoh mahasiswa dari Universitas Lampung el-Jundi Khomsin Romadon. Kesemua tokoh memberikan testimonial di podium. Para tokoh juga secara simbolik memberikan dukungan penegakan Syariah dan Khilafah, dengan menerima bendera ar-Royah dan al-Liwa dari DPD I HTI Ustadz Abu Muhammad.

Dalam testimonialnya, Kyai Ndang Ahmad Arif mengatakan, hanya orang munafik yang tidak setuju dengan penegakan Syariah dan Khilafah. “Percuma mendirikan pesantren kalau tidak setuju khilafah!” tegasnya. Menurut dr. Tito Sunarto, S.H., ideologi kapitalisme yang diterapkan di Indonesia menimbulkan kesusahan rakyat karena sistemnya yang ribawi, memihak pengusaha kapitalis asing, berbeda dengan sistem Khilafah yang berorientasi pada kesejahteraan umat.

Dr. Iing Lukman, P.h.D mengatakan dalam testimoninya, para intelektual barat mengakui kegemilangan peradaban Islam memberi sumbangsih besar pada ilmu pengetahuan. Tak terhitung karya ilmuwan Islam yang memajukan peradaban dunia seperti Avicenna, Al-Khawarizmi, dll. “Seharusnya mereka (barat-pen) berterimakasih pada Khilafah Islam” ujar Iing. Bahkan, Dra. Hj. Rosniawati secara tegas mengungkapkan dukungannya pada gerakan yang memperjuangkan tegaknya Khilafah. “Hanya Hizbut Tahrir saja yang bisa diharapkan dalam perjuangan menegakkan Khilafah!” ungkapnya. Perwakilan mahasiswa, Khomsin Romadon mengatakan hanya ada tiga opsi atau pilihan; menentang penegakan Khilafah yang mengundang murka dan azab Allah, berdiam diri dalam penderitaan, atau berjuang bersama-kaum muslim memperjuangkan Khilafah menggapai ridha Allah SWT.

Lantas melihat dukungan yang begitu menguat inilah mengapa Konferensi Rajab 1432 H ini diselenggarakan DPD I HTI Lampung karena hal ini momentum peristiwa bulan Rajab bagi bangkitnya umat Islam dengan Khilafah dan Konferensi ini juga diselenggarakan di seluruh 29 kota besar Indonesia dari ujung Timur Jayapura hingga ujung Barat Banda Aceh, dan puncaknya pada 29 Juni di Stadion Lebak Bulus Jakarta, Stadion Deltras Sidoarjo Surabaya, dan Stadion si Jalak Harupat Bandung Jabar. (Lajnah I’lamiyah dan Infokom HTI Lampung)

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...