Minggu, 12 Juni 2011

Konferensi Rajab Kendari: Kebangkitan Islam pasti Terwujud dengan Khilafah

GEMA Pembebasan. Belasan ribu massa yang berasal dari semua kabupaten/ kota di Sultra memadati Alun-Alun Eks MTQ Nasional Kendari untuk mengikuti Konferensi Rajab 1432 H, yang digelar Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Sultra, kemarin. Acara akbar tersebut merupakan konferensi terbesar untuk kawasan indonesia timur. Halmini diungkapkan salah satu anggota Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dari Jakarta, Ust Ahmad Junaedi At-Thoyyibi saat memberikan keterangan pers usai acara.

Dia mengatakan, Konferensi Rajab digelar di 30 tempat di seluruh Indonesia, bertema: Hidup Sejahtera di Bawah Naungan Khilafah. Di bulan Rajab, terdapat dua peristiwa penting dalam sejarah umat Islam yaitu Isra Mikraj Nabi Muhammad dari Masjid Haram di Makkah ke Masjid Al-Aqsa di Palestina dan naik ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah salat.

Selain itu, peristiwa penting yang menimbulkan malapetaka bagi umat Islam adalah pada bulan Rajab tepatnya tahun 1924 M, 87 tahun lalu, Institusi pelindung dan penjaga kehormatan umat Islam diruntuhkan Mustafa Kemal At-Taturk, seorang agen imperialis Inggris yang anti Islam. Untuk itu, momen Konferensi Rajab tersebut dimaksudkan untuk memperingati 87 tahun keruntuhan Khilafah. Tapi peringatan ini bukan hanya untuk meratapi keruntuhannya tapi juga memperjuangkan dengan ikhlas dan sepenuh hati untuk menegakkan kembali Institusi negara Khilafah yang akan menerapkan seluruh syariah Islam dalam tatanan kehidupan manusia di seluruh dunia.

Lebih lanjut, Gus Juned - panggian akrab Ust. Ahmad Junaedi- menjelaskan, Khilafah merupakan kewajiban dari Allah SWT sebagaimana hasil penafsiran dari empat mazhab tentang kewajiban mengangkat Khalifah/Imamah/Imarah untuk didengar dan ditaati. Tentunya Khalifah hanya ada dalam negara Khilafah. Tidak ada perbedaan pendapat baik kalangan umat maupun dari kalangan ulama tentang kewajiban mengangkat khalifah. Begitu pula, kerinduan umat akan tegakknya Khilafah tidak terlepas dari akidah untuk menjalankan syariah Islam secara menyeluruh.

Selain itu, tak adanya Khilafah, sistem Kapitalisme telah membuat kerusakan baik di darat maupun di lautan, telah berdampak secara multidimensi dan multi sistem dan menzalimi umat muslim baik di negeri kafir maupun di negeri-negeri Islam. Hal ini terjadi, karena penguasa di negeri-negeri muslim merupakan antek-antek peradaban barat dan menyerahkan kekayaan, kemuliaan bahkan urusan politik kaum muslim ke penjajah kafir. Ideologi Kapitalisme yang telah banyak membuat kerusakan dan menyengsarakan umat telah memicu umat merindukan kebangkitan dengan Islam.

Kebangkitan islam akan terwujud dengan perubahan fundamental secara menyeluruh dari pemikiran-pemikiran ideologi kapitalisme. Metode perubahan masyarakat untuk menegakkan khilafah yang akan melanjutkan kehidupan Islam selalu didasarkan pada metode perubahan yang dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW. Yaitu pembinaan umat dalam bentuk kelompok-kelompok baik pembinaan khusus maupun pembinaan umum, berdakwah berinteraksi dengan umat dan menjelaskan kerusakan sistem non Islam baik Kapitalis-

Sekuler maupun Sosialis-Komunis. Begitu pula pertolongan Allah melalui tokoh-tokoh yang memiliki kekuatan untuk membuka simpul-simpul kekuatan umat dan Insya Allah dengan keyakinan kepada Allah, maka Syariah dan Khilafah akan tegak dalam waktu dekat.

Konferensi Rajab yang melibatkan ratusan ribu massa, salah satunya bertujuan untuk menunjukan kepada dunia bahwa seruan syariah dan khilafah disambut dengan kerinduan dari umat untuk segera tegakknya Syariah dan Khilafah. “Jadi kegiatan ini bukan hanya mengumpulkan massa tapi sekaligus untuk menumbuhkan komitmen

bahwa perjuangan ini adalah kehendak murni dari umat yang rindu dengan keridhoaan Allah untuk hidup di bawah naungan Khilafah. Dan kehidupan sejahtera hanya terwujud dalam sistem yang membuat manusia yaitu sistem Khilafah,” ujarnya.

Demikian pula, Salah satu tokoh masyarakat dari Kota Baubau, H Munir mengatakan, motivasinya menghadiri konferensi Rajab di Kendari untuk menegakkan kalimat Allah. Dia bersyukur dalam perjalanan hingga dapat menyaksikan acara yang spektakuler tersebut, Allah senantiasa memudahkannya.

Setelah melihat ribuan massa yang rindu dan terus berjuang bagi tegakknya Khilafah, dia berkomitmen untuk melanjutkanmperjuangan tersebut di Kota Baubau agar Islam kembali memimpin dunia dalam naungan Institusi Khilafah. Perlu diketahui, acara tersebut dihadiri peserta dari jazirah Buton Raya, masing-masing Butur, Buton, Wakatobi, Baubau, Muna, dan Bombana. Untuk hadir ke sana, peserta mencarter separuh kapal cepat Express Cantika 88.

Pembicara dalam konferensi tersebut, antara lain Ketua DPD I HTI Sultra, Rois Ahmad, sejumlah pengurus DPD I lainnya seperti Yuslan Asis, Fitriaman, Amrul Hasan, MuhAras, Muslim, dan Wildan. Selain Gus Juned, pembicara dari DPP HTI, Ust Abu Zaid. Selanjutnya testimoni dari Direktur Pascasarjana Unhalu, Prof DR La Rianda, Andi Paturusi (tokoh pers), Drs Muhammad Nur Ahmad (tokoh mubaligh), dan La Aswar (anggota DPM Unhalu). Mereka sepakat menyerukan kepada masyarakat untuk memperjuangkan syariah dan khilafah.

acara akbar tersebut juga disiarkan secara langsung melalui live streaming, www.hizbut-tahrir.or.id. Sehingga acara bukan hanya disaksikan pemirsa dari dalam negeri, tapi juga luar negeri.

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...