Jumat, 03 Juni 2011

Konferensi Rajab Kalimantan Selatan 1432 H

GEMA Pembebasan. Ribuan Kaum Muslim Kalsel Serukan Tegaknya Khilafah. Lebih dari 8.000 kaum Muslim menghadiri Konferensi Rajab 1432 H di Stadion 17 Mei Banjarmasin, Kamis (2/6). Mereka berasal dari berbagai elemen umat di wilayah Kalimantan Selatan seperti Tanjung, Amuntai, Barabai, Kandangan, Rantau, Martapura, Pelaihari, Batulicin, Marabahan, Banjarbaru, dan Banjarmasin.

Ribuan kaum Muslim mengikuti acara demi acara tanpa beranjak dari tempat duduknya. Mereka mengikuti dengan seksama seruan tegaknya Khilafah. Orasi pembicara dan testimoni ulama yang disertai tabuhan bedug bertalu-talu dan berirama semangat kemenangan Islam menambah semangat tersendiri kepada hadirin. Pekik takbir dan seruan: “Khilafah! Khilafah! Khilafah!” berulang kali diteriakkan oleh para peserta disertai kibaran Liwa dan Royah.

Ketua DPD I HTI Kalsel ustadz Baihaki al-Munawar dalam pidato sambutannya menyampaikan sebelum diruntuhkannya khilafah oleh imperialis Inggris pada 28 Rajab 1342 atau 3 Maret 1924, umat Islam pernah berjaya dan memimpin peradaban dunia. Mengutip Will Durant dari bukunya The Story of Civilization, Ketua DPD I HTI mengingatkan bahwa pada masa Khilafah dulu, para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan manusia. Sistem khilafah mampu menjamin masyarakatnya hidup sejahtera. Sementara kehidupan umat Islam saat ini melarat dan tercabik-cabik dalam 57 negara.

Ia berharap, Konferensi yang mengangkat tema “Hidup Sejahtera dalam Naungan Khilafah” menjadi pendorong umat untuk merekonstruksi masa depan peradaban Islam dalam sistem khilafah. Konferensi ini diadakan untuk mengajak umat bersatu dalam visi, tekad, dan langkah untuk tegaknya Khilafah Islamiyah.

Sementara itu, Harits Abu Ulya, Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI yang datang dari Jakarta dalam orasinya menyampaikan Hizbut Tahrir didirikan untuk memperjuangkan tegaknya Khilafah. Hizbut Tahrir memandang ketiadaan institusi politik Islam ini merupakan problem terbesar bagi umat Islam. Sudah 90 tahun (kalender hijriyah - red) umat Islam hidup tanpa naungan Khilafah. Padahal adanya Khilafah adalah sebuah kewajiban.

Ia menekankan, kaum Muslim di mana pun berada harus mengambil peran untuk tegaknya khilafah. Menegakkan khilafah merupakan amal terbesar bagi setiap Muslim saat ini. “Jika tidak sekarang kapan lagi memberikan dukungan?” tandasnya.

Sementara itu dalam testimoninya, KH. Abdul Wahab Syahrani, S.Ag, MM yang juga pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Mas’ud Putra Jarau Kab. Hulu Sungai Selatan, berkata: “Apa yang harus kita lakukan sekarang adalah memperjuangkannya dengan mengikuti perjuangan Rasulullah SAW. Kita tidak boleh takut kepada Amerika, kita hanya takut kepada Allah SWT dalam perjuangan ini”.

Konferensi Rajab hari ini juga diramaikan aksi teatrikal oleh para pemuda Islam yang berupaya menggambarkan keadaan umat Islam tanpa Khilafah. Sebuah pesan penting yang disampaikan dalam aksi teatrikal ini adalah betapa pentingnya penegakan khilafah dalam menyatukan seluruh potensi umat untuk meraih kemuliaan Islam dan kesejahteraan, serta melenyapkan penjajahan.

Konferensi Rajab 1432 H yang diselenggarakan DPD I HTI Kalimantan Selatan ini merupakan acara pembuka dari rangkaian konferensi akbar yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia selama bulan Juni. Konferensi yang mengambil momentum peristiwa yang terjadi di bulan Rajab diselenggarakan di seluruh kota besar Indonesia dari ujung Timur Jayapura hingga ujung Barat Banda Aceh, dan puncaknya pada 29 Juni di Stadion Lebak Bulus Jakarta.

Masa Depan Dunia Milik Umat Islam

Konfrensi Rajab 2 Juni 2011,yang diadakan di Stadion 17 Mei Banjarmasin merupakan pembuka dari rangkaian agenda Rajab 1432 H di Indonesia yang mengangkat tema “Hidup Sejahtera di Bawah Naungan Khilafah.”

Acara ini menampilkan orasi syabab Hizbut Tahrir baik dari Kalimantan Selatan dan Jakarta. Setelah opening speech yang disampaikan oleh Ketua DPD I HTI Kalsel, Ustadz Baihaki al-Munawar, S.Hut, anggota DPD I HTI Kalsel Mispansyah SH, MH menyampaikan orasi “Indonesia di Tengah Kapitalisme Global.” Pada orasi pertama ini, Mispansyah menyatakan hingga saat ini Indonesia berada dalam cengkraman kapitalisme global. Cengkraman melalui dua cara. Pertama melalui penjajahan fisik yakni dilakukan dengan jalan perang dan pendudukan. Kedua melalui penjajahan non fisik dengan penerapan Sekularisme dan Kapitalisme dalam sistem kehidupan dan pemerintahan.

Orator kedua, Ali Imran, S.Pd dari DPD II HTI Banjarbaru berbicara tentang solusi untuk mengentaskan problematika yang dihadapi umat. Umat Islam kata Ali Imran merupakan khayru ummah, seperti yang disebutkan Allah dalam Suran Ali Imran ayat 110. “Umat Islam dimana saja mereka berada, semestinya mereka menjadi panutan”, tandas Ali Imran. Namun saat ini justru umat Islam menjadi pesakitan, menderita, terhina, dan teraniaya.

Pangkal keterpurukan umat Islam tersebut kata beliau disebabkan tiadanya Khilafah sebagai institusi politik Islam yang menaungi umat dan melindungi dari rongrongan para penjajah. Sehingga jawaban atas keterpurukan umat Islam adalah dengan menegakkan kembali sistem khilafah. “Sudah saatnya, kita saling menyatukan sumber daya yang kita miliki untuk menegakkan Khilafah Islam”, pungkas beliau.

Memasuki orasi selanjutnya, para hadirin diajak untuk menyimak gambaran Khilafah yang mensejahterakan. HUMAS DPD II HTI Hulu Sungai Selatan, Abdul Haris, S.Pd dengan retoris menanyakan kepada umat yang hadir dalam Konferensi Rajab 1432H, “apakah para hadirin menginginkan akidah, keselamatan, para muslimah, dan generasi muda terlindungi? Kepada siapa berharap semua itu terwujud kecuali pada Khilafah?” tandas beliau.

Menurut Abdul Haris, dengan ditegakkannya Khilafah maka umat akan terlindungi kesucian agamanya, terlindungi keselamatan dirinya, terlindungi akalnya, terlindungi kehormatannya, terlindungi hak miliknya. Pada masa lalu kehidupan umat dalam sistem khilafah sangat sejahtera. Beliau mencotohkan, gaji guru sebesar 15 dinar atau setara Rp 25 juta.

Sementara Hidayatullah Muttaqin, SE, MSI yang juga Ketua Lajnah Siyasiyah DPD I HTI Kalsel tampil sebagai orator keempat menyampaikan orasi tentang potensi Khilafah sebagai negara adidaya masa depan. Beliau menjelaskan meskipun dunia saat ini berada dalam dominasi Kapitalisme global yang menjadi penyebab kesengsaraan umat manusia, sesungguhnya ideologi ini dan negara-negara Barat yang menjadi pengusungnya sedang menghadapi krisis internal dan mendorongnya ke dalam jurang kehancuran. “Dibiarkan saja Kapitalisme pasti akan runtuh, apalagi jika umat bersatu menumbangkannya dengan menegakkan sistem Khilafah”, seru Hidayatullah Muttaqin.

Menurut beliau, potensi umat Islam sangat besar untuk bangkit jika umat mengadopsi ideologi Islam dan mewujudkannya dalam sisem khilafah. Dari sisi demografi jumlah umat terus tumbuh dan berkembang jauh meninggalkan pertumbuhan penduduk di Barat. Bahkan ada 20 negara Barat yang pertumbuhannya nol dan negatif. Kini jumlah umat telah mencapai angka 1,57 milyar jiwa atau hampir ¼ penduduk dunia.

Dari sisi ekonomi dan sumber daya alam, negeri-negeri Islam menguasai cadangan energi dunia dan bahan mentah. Cadangan minyak bumi di negeri-negeri Islam mencapai 72% cadangan dunia, sedangkan cadangan gas 61,45% cedangan dunia.

Jika tentara yang ada di negeri-negeri Islam digabungkan, jumlahnya mencapai 27% dari seluruh tentara yang ada di seluruh dunia. Sementara tentara Amerika hanya 7,1% saja. Begitu pula jika digabungkan tentara dari Brazil, Rusia, India, dan China, jumlahnya 24% masih di bawah jumlah tentara negeri-negeri Islam. “Dengan potensi yang besar ini, maka masa depan dunia adalah milik umat Islam”, kata Hidayatullah.

Di samping orasi dari syabab Hizbut Tahrir dari Kalimantan Selatan, juga turut tampil sebagai orator dari DPP HTI. Ustadz Fathiy Syamsuddin Ramadhan an-Nawiy yang berbicara mengenai janji Allah akan tegaknya Khilafah. “Di antara janji Allah SWT yang diberikan kepada umat Islam adalah istikhlaf fi al-ardh. Istikhlaf fi al-ardh bermakna menjadi penguasa atau pengatur urusan manusia (khalifah atau imam) di seluruh dunia” tandas Ustadz Syamsuddin dengan merujuk pada al-Qur’an surah an-Nur 55.

Menurut Ustadz Syamsuddin, banyak sekali hadis-hadis sahih yang mengabarkan kabar gembira (bisharah) kepada kaum Muslim tentang kekuasaan Islam yang mencakup seluruh muka bumi. “Semua ini menunjukkan bahwa Khilafah Islam merupakan janji Allah yang paling agung bagi kaum Mukmin. Pasalnya, dengan tegaknya kekuasaan Islam ini (Khilafah Islam), agama Allah SWT bisa ditegakkan secara sempurna, dan keamanan kaum Muslim bisa diwujudkan secara nyata,” serunya.

Selanjutnya sebagai orasi penutup, Ustadz Harits Abu Ulya yang juga Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI menyampaikan Seruan Hangat Hizbut Tahrir kepada Umat. Ustadz Harits menyampaikan sesungguhnya tegaknya Khilafah Islam merupakan kewajiban syariah atas seluruh kaum Muslim. Kewajiban ini bersifat mengikat; tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali melaksanakannya.

Ustadz Harits memberikan contoh bagaimana para sahabat menunda pemakaman Rasulullah SAW karena mereka sedang berkumpul di Saqifah Bani Sa’i'dah untuk memilih dan mengangkat seorang khalifah. “Ini menjadi salah satu bukti bahwa tegaknya Khilafah merupakan perkara paling utama dan harus diprioritaskan oleh kaum Muslim. Khilafah bahkan menjadi alqadhiyyah al-mashîriyyah bagi kaum Muslim. Pasalnya, penegakan Khilafah menyangkut perkara ‘hidup dan matinya’ Islam dan kaum Muslim”, kata Ustadz Harits Abu Ulya.

Ulama Kalsel Dukung Khilafah
Selain orasi dari para aktivis HT, para hadirin juga menyimak testimoni dari para ulama. Pada sesi testimoni ini tampil ke depan KH. Abdul Wahab Syahrani, S.Ag., MM, Ust. Abdul Hafidz, Ust. H. Kafandi Fadhali.

KH. Abdul Wahab Syahrani yang pertama memberikan testimoni mengungkapkan mau kemana umat, setelah mengetahui kewajiban meneggakkan syari’ah dan khilafah. Pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Mas’ud Putra Jarau Kab. Hulu Sungai Selatan pun menandaskan semoga konfrensi Rajab menjadi pertemuan terakhir, karena setelah ini Khilafah yang mengikuti sunnah Nabi akan tegak kembali untuk kedua kalinya.

Sementara Ust. Abdul Hafidz mengingatkan bahwa syarat utama tegaknya Khilafah adalah ketaatan dalam segala hal. Oleh karenya umat Islam harus menjauhi praktek-praktek yang menyalahi syari’at Islam.

Adapun Ust. H. Kafandi Fadhali menyampaikan Khilafah Islam mesti diperjuangkan dengan metode yang sesuai syari’ah Islam. Beliau pun mengajak para ulama, mubaligh-mubalighah untuk mendukung dan berjuang bersama Hizbut Tahrir. Mengganti demokrasi dengan syari’ah dan khilafah.

Sebagai penutup testimoni, secara simbolis para ulama tersebut menyerahkan al liwa dan ar raya kepada para aktivis Hizbut Tahrir untuk menyatakan dukungannya kepada Hizbut Tahrir dalam dakwah mengembalikan kehidupan Islam.

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...