Rabu, 22 Juni 2011

Konferensi Rajab Bengkulu: Seruan Khilafah Dari Bumi Raflesia

Konferensi Rajab Bengkulu
GEMA Pembebasan. Gedung Teater Tertutup (GTT kata orang bengkulu) menjadi saksi seruan penegakan Syari’ah dan Khilafah dari bumi Raflesia pada Ahad 19 Juni 2011. Sebanyak kurang lebih 350 kaum muslimin yang datang dari kota Bengkulu dan sekitarnya memadati Gedung yang terletak di kompleks Taman Budaya Bengkulu. Wajah-wajah penuh harap dan kerinduan kepada Syari’ah datang dari tempat-tempat yang cukup jauh dari kota bengkulu. Ada yang dari Curup, Kepahiang, Lebong, Argamakmur, Ketahun, Seluma bahkan perbatasan Sumatera Selatan di Pasmah. Ada yang sudah menginap sehari sebelumnya di Bengkulu di tempat kerabatnya demi menghadiri undangan dari para syabab HTI Bengkulu. Ada juga yang berangkat selepas subuh seperti rombongan kaum muslim dari ketahun dengan mengendarai 8 mobil yang dipadati ibu-ibu dan dikawal bapak2 dengan konvoi sepeda motor. Meskipun mereka agak datang terlambat pada saat acara tetapi nampak semangat pada wajah-wajah mereka.

Acara dimulai tepat pukul 8.30 pagi dan berakhir sebelum dhuhur. Ketua DPD I HTI Bengkulu, Ustd Budi Utomo, SE dalam sambutannya menyampaikan bahwa maksud diadakan acara Konferensi Rajab ini bukan bermaksud untuk meratapi keruntuhan Khilafah Utsmaniyah pada tahun 1924H, tetapi untuk mengokohkan kembali dan mengingatkan umat akan kewajiban mereka untuk mengangkat pemimpin umat,yakni seorang Khalifah.

Orasi dibuka oleh Ustd Septri Widiono,M.Si dengan menguraikan Posisi Indonesia di tengah Kapitalisme Global. Dengan berapi-api ustd muda yang merupakan aktivis HTI Bengkulu dan juga Dosen Universitas Bengkulu ini memaparkan kondisi Indonesia yang terjebak oleh Hutang. ”Kalau dulu Inggris datang ke bumi Raflesia menjajah secara fisik, maka sekarang Kapitalis Global melalui lembaga-lembaga seperti Bank Dunia dan IMF menghisap kekayaan Indonesia melalui jebakan hutang, hal ini harus dihentikan, Allahu Akbar pekik ustd.

Orasi dilanjutkan oleh Ustd. Muh. Ahkam yang menjelaskan bahwa Khilafah adalah solusi bagi berbagai problem umat saat ini. Umat Islam adalah umat yang terbaik, kalau sekarang kondisi umat terpuruk maka yang salah bukanlah ayat al-qur’an yang menjelaskan tentang Khoiru ummah, tetapi yang salah adalah umat tidak menerapkan sistem yang menjamin mereka menjadi umat yang terbaik.

Para peserta konferensi menyimak paparan para Orator dengan seksama dan sekali-sekali meneriakkan takbir. Ustd Ardinsyah Yun sebagai Orator ke tiga menjelaskan tentang Kesejahteraan di dalam Islam. Bahwa sejahtera adalah terpenuhinya hak-hak dasar umat seperti makan, minum, sandang, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan yang saat ini nyaris tidak didapatkan oleh umat sedikitpun. Sejahtera dalam Islam hanya akan didapatkan dalam bingkai Khilafah dimana umat akan mendapatkan keberkahan, sebagaimana janji Allah “sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menurunkan keberkahan dari langit dan dari bumi.”

Sesi berikutnya ditampilkan aksi teatrikal yang menggambarkan bagaimana kondisi Umat Islam setelah keruntuhan Khilafah yang saat ini ditekan oleh sistem Kapitalisme Global. Digambarkan 4 pemain membawa bendera simbol Negara Islam yang digulung oleh tangan-tangan munafik dan kafir, kemudian seorang pemain membawa gambar patung Liberti yang mendorong empat pemain lain, sebagai simbol Sisitem kapitalis yang menekan umat. Maka ketika umat sudah putus harapan, muncullah dua orang ke atas panggung membawa Liwa dan Royah sebagi simbol kelompok yang memperjuangkan tegaknya Khilafah dan disambut takbir para peserta. Dengan menegakkan Khilafah maka sistem Kapitalispun bisa dihancurkan.

Orator berikutnya adalah H. Akhiril Fajri yang menguraikan Khilafah adalah negara adidaya masa depan yang menyejahterakan. Umat Islam adalah umat yang satu, Allah Tuhan yang satu dan kiblatnya juga satu, hal ini merupakan potensi untuk mempersatukan umat, papar ustd. Potensi Sumber Daya Alam di dunia Islam sangatlah besar, bahkan potensi Indonesia saja jika dikelola dengan baik maka akan mampu menyejahterakan umat. Hal ini tentu akan menjadi modal bagi negara Khilafah masa depan yang sebentar lagi akan terwujud, “Saatnya Khilafah memimpin dunia!”

Ustdz Ahmad Abdul Ghony sbg orator berikutnya menyampaikan kepada hadirin tentang Khilafah adalah janji Allah. bahwa dalam Surat An-Nur 55 Allah berjanji akan memberikan kekuasaan kepada kaum muslim sebagaimana Allah telah memberikan kekuasaan pada umat sebelumnya. Hal ini jelas merupakan pernyataan jelas yang mudah dipahami bahkan oleh orang awam sekalipun.

Ustdz Muhammad Zubair, SPd sebagi orator terakhir menyampaikan seruan hangat HTI kepada umat agar umat mendukung perjuangan Hizbut Tahrir dalam menegakkan Khilafah dan Syariah.

Beberapa testimoni yang muncul dalam acara Konferensi Rajab Bengkulu:

1. Akhina Faizar (wakil Mahasiswa): Mahasiswa di bengkulu ingin senantiasa menjadi bagian perjuangan Syari’ah dan Khilafah.

2. Ustd Indra (Mubaligh Bengkulu): Sumber dari segala sumber kemaksiatan adalah diterapkannya sistem kapitalis sekuler, maka mari kita dukung perjuangan untuk mengganti sistem ini menjadi sistem Islam, Allahu Akbar..

3. Ustdzah Rifdanur (wakil Mubalighoh, ketua Pimp Cab Aisyah Ketahun):

Saya ikut mendukung ide HTI untuk menegakkan syariah dan Khilafah, buat Ibu-ibu tolong suami-suami didorong ikut berjuang, seandainya ibu-ibu yang hadir ini semua mendorong para suami ikut berjuang dengan HTI, saya yakin Khilafah segera tegak..Allahu Akbar..

4 Ustd. Munir (wakil intelektual) : Bagaimana mungkin umat Islam yang mayoritas di Indonesia ini disetir oleh kelompok yang kecil karena sistem yang rusak. Kami siap berjuang bersama HTI

Ada yang menarik dari acara testimoni, dimana ada tokoh bengkulu, yaitu: Baharudin Saleh yang sebelumnya dimintakan testimoni ketika dikontak sebelum acara menyatakan tidak bersedia, tetapi ketika beliau merasakan adanya atmosfer perjuangan di dalam forum konferensi, beliau minta kepada panitia untuk memberikan testimoni jika ada waktu, dan karena masih memungkinkan tokoh sepuh ini pun menyampaikan testimoni untuk mendukung perjuangan penegakan Khilafah. Allahu Akbar.

Acara diakhiri dengan renungan dan doa oleh ustd Ramli, tokoh masyarakat dari ketahun. Ustdz Ramli ini merupakan tokoh di ketahun yang cukup disegani terbukti, beliau bersama istri berhasil membawa jama’ah sebanyak 100 orang dari ketahun dengan konvoi mobil dan motor.

Di akhir acara ada acara penyerahan bendera Liwa dan Royah kepada para tokoh sebagi simbol dukungan mereka terhadap perjuangan penegakan Syariah dan Khilafah.

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...