Jumat, 27 Mei 2011

Refleksi Reformasi 1998: Mahasiswa dan Perubahan menuju Syariah dan Khilafah

GEMA Pembebasan. Perubahan selalu diidentikan dengan nama Revolusi, atau setidaknya Reformasi. Label pergerakan yang disematkan tak bisa lepas dari kalangan mahasiswa di mana mereka menjadi “agent of change” yang membawa misi mengubah suatu kondisi ke kondisi lainnya. Mahasiswa begitu besar peranannya dalam memposisikan diri mengambil perubahan di tengah-tengah masyarakat.

Tak salah bila peristiwa Tritura yang dulu digadang-gadang kaum intelektual muda untuk mengganti rezim Soekarno yang telah usang adalah berkat kerelaan mahasiswa sebagai kaum terdepan dalam mengubah kondisi. Begitu dinamisnya perjuangan mahasiswa sehingga beberapa kali gejolak itu coba diredam oleh Pemerintahan Rezim Soeharto. Kasus Tanjung Priok yang mengumbar isu agama juga tak lain mahasiswa islam pun berperan di sana. ITB sebagai Institusi teknologi pernah menjadi saksi kelam dari upaya Pemerintahan Orde Baru yang mencoba menangkap dan mengalahkan mahasiswa dengan memasuki Wilayah Kampus ITB yang berakhir dengan pencopotan Rektor ITB oleh pemerintah akibat dukungannya kepada mahasiswa.

Tak sampai di situ Era 1980an mahasiswa kembali ditekan dan dibuat pembatasan gerak dengan membekukan Senat dan Dewan Mahasiswa di kampus-kampus. Mahasiswa tak tinggal diam, karena itu komunitas Mahasiswa Islam yang memang mengakar segera mengambil peranan. Di mana Lembaga Dakwah Kampus, membentuk Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus. BKIM IPB, DKM UNPAD, BDM Al-Hikmah UM dan sejumlah LDK lainnya terlibat dalam pembentukan forum ini. Selama perjuangan itu, maka mahasiswa islam dan LDK menjadi satu-satunya jalur yang mampu bergerak dipermukaan secara aktif dan meluas begitu cepatnya.

Era pertengahan 1990an, kemarahan mahasiswa muslim menambah tatkala peristiwa Bosnia-Herzegovina di mana ribuan kaum muslim dibantai oleh kekuatan Slobodan Milosevic. Ini menambah perasaan intelektual muda muslim bahwa kita ibarat satu tubuh yang tak bisa terpisahkan. Apalagi tahun 1998, menjadi puncak kemarahan rakyat, yang disalurkan melalui mahasiswa tatkala sudah gusar melihat kondisi masyarakat yang semakin tertekan akibat naiknya bahan kebutuhan pokok serta tak mau lengsernya Soeharto.

Sayangnya, intelektual muda di masa ini, hanya mampu memberikan pergantian rezim tapi tak sekaligus mengubah sistem yang ada. Sebagian besar mahasiswa kala itu masih terbius dengan “cerita-cerita” demokrasi yang indah. Di mana kebebasan berpendapat, kemakmuran dan kesejahteraan seperti “dunia barat”, pendidikan yang layak, dan sejumlah cerita bohong demokrasi menjadi impian kaum muda intelektual.

Saatnya Mahasiswa Berjuang Tegaknya Khilafah

Awal tahun 2000, Gema Pembebasan dan Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus terlahir. Organisasi ini membawa misi berbeda. Cita-cita menegakan Islam Kaffah telah teriring suci dari niat berjuang. BKLDK, saat dimulai di Bogor, telah membentuk semacam paradigma berpikir baru bahwa perjuangan saat ini bukan sekedar melanjutkan Reformasi ala Demokrasi, tetapi menghentikannya dan mengganti jubah ketidak-berdayaan Demokrasi dengan Islam Ideologi. Tatkala organisasi-organisasi mahasiswa lainnya telah tak jumawa, dimana kini hanya sekedar alat politik kotor dan permainan elit politik demi memenangkan suara semu di parlemen, BKLDK justru telah menggagas suara yang berbeda. Suara penegakan Syariah dan Khilafah begitu bergema dengan kuat. 2009 untuk pertama kalinya pasca kemerdekaan Indonesia, Sidang majelis akbar mahasiswa tentang suara penegakan syariah dan khilafah dilaksanakan. Konferensi Mahasiswa Islam Indonesia akan menjadi kenangan dan sejarah indah sebagai awal perubahan. Bahkan ini menjadi sejarah pertama di dunia, tatkala mahasiswa berkumpul menyerukan Syariah dan Khilafah.

Tak terbendungnya dan semakin meluasnya perjuangan penegakan syariah dan khilafah, dirasakan telah membuat takut mereka yang mendukung Demokrasi tentunya. Isu Terorisme dan Negara Islam Indonesia kini dipasarkan sebagai upaya monsterisasi “Negara Islam” di tengah perjuangan penegakan syariah dan khilafah dalam lingkungan kampus di Indonesia. Selain itu, upaya menurunkan tingkat perjuangan mahasiswa pun berubah akibat peningkatan biaya kuliah dan juga lama study yang ditekan. Sehingga memaksa para calon sarjana itu lulus prematur. Sehingga pada akibatnya, berorganisasi adalah suatu hal yang asing, sementara di sisi lain hasil dari “prematur” itu tak mampu melahirkan para sarjana di lapangan yang siap bersaing.

Tak ayal, perjuangan penegakan syariah dan khilafah yang terus berkibar ini mendapat hadangan dan tantangan. Bahkan Amerika Serikat berani mengucurkan dana sebesar 165 juta dollar amerika atau setara dengan 1,4 Triliun rupiah untuk mendanai mutu pendidikan yang tak lain adalah upaya Amerika untuk program deradikalisasi. Sedangkan Demokrasi yang diusung Amerika Serikat seiring jalan telah lentur sehingga sangat besar kekhawatiran barat terhadap Indonesia.

Mahasiswa muslim harus sudah dapat memproyeksikan masa depan gemilang bersama islam dan meninggalkan Demokrasi yang telah usang. Khilafah yang merupakan negara islam global bukanlah ide dan gagasan kampungan. Khilafah bukan sekedar hal utopis karena tentu perlu dikejar.

Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa menolong agama Allah maka Allah akan menolongnya, dan meneguhkan kedudukannya.” (QS.Muhammad(47):7)
Jadi memperjuangkan sesuatu yang telah hak akan menemui pertolongan dari Allah SWT. Mahasiswa islam sudah selaiknya membuang demokrasi dan mencapakan ide Kapitalisme. Memang kita tak pernah tahu, kapankah Khilafah itu kan berdiri kembali. Tapi, Janji Allah adalah benar, tidak seperti janji kosong Demokrasi. Maka, sudah saatnya Mahasiswa mengawal isu “Hidup Sejahtera di Bawah Naungan Khilafah” sebagai arus utama perjuangan kita semua. Yakinlah, Agenda Reformasi ini akan segera tuntas dengan berdirinya Islam yang kaffah.Wallahu ‘alam.

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...