Jumat, 27 Mei 2011

Media Islam Underground (Media Alternatif dari Revolusioner Islam)

GEMA Pembebasan. Pemuda-Pemuda yang rambutnya mohawk dan suka memakai kostum aneh menyebutnya dengan Istilah Zine. Tidak ada yang istimewa, bentuknya hanya lembaran-lembaran kertas fotokopian yang disusun seperti layaknya sebuah majalah. Layout teks dan gambarnya pun kadang dibuat seadanya, walau ada beberapa yang didesain agak bagus. Tapi melihat materi yang coba di sajikan, siapa yang menyangka kalau media ini dibuat oleh orang-orang biasa yang ada disekitar kita.

Zine diadopsi dari kata ‘magazine’. Absentnya kata ‘maga’ mengisyaratkan zine sebagai media alternatif yang menyuarakan ketidakpuasan atas kemapanan yang telah ditawarkan media mainstream, yang dirasa menyebabkan keberagaman sudut pandang dan hanya menyuarakan kepentingan satu pihak saja, yaitu kepentingan kapitalisme Mutakhir. Zine adalah semacam self Publishing, sebuah penerbitan media mandiri dan otomatis yang bisa dilakukan oleh semua orang, D.I.Y (do it yourself). Zine juga adalah sebuah penerbitan yang merupakan bagian dari media Alternatif yang mencoba memberikan pemikiran baru tentang apa saja yang tidak diberikan oleh media massa umum sebagai bentuk representasi sebuah Aksi Revolusioner progresif.

Meski untuk perkembangan zine di Indonesia dimotori oleh Komunitas Punkers / HC, namun hal ini tidak menjadikan zine tersebut milik mereka sepenuhnya. Sekitar tahun 2002 masehi sampai dengan sekarang, telah lahir berbagai Zine dari Moslem Community, seperti; Revolt n’ Rise (HAMBOS Community Jabodetabek), No Compromise (Liberation Youth R.I.P, Bandung), Rebel (Fighters malang), IN51GHT Anti Copyright (Liberation Youth Kaltim, Samarinda), Revolt Zine (Liberation Movement -Limove-, Samarinda), Rekonstruksi (GEMA Pembebasan, Makassar), Positip (Revolters Banjarmasin, Kalsel), One Liberation (Fikr Community, Banjarmasin), Revival (Hambos Kolektif Kaltim), Unforgiven Beat Zine (LY Movement Solo, Jateng), Savesgue (Revolters Bogor), Revolta (Kolektif Banjarmasin), Openmind (Kolektif malang), tReaSure (tHe PiRates Army, Bandung kota-coret), Bunga Api (Menara Syndicate, Makassar), Black Soldiers (Pasukan Kubur Hitam, Samarinda), Neo Revolutove (LDK Unlam, Banjarmasin), Pinkant (Para Akhwat Canggih), dsb.

Kelahiran Zines Bernuansa Islami ini tidak dapat dilepaskan dari kewajiban dakwah bagi setiap individu muslim. Sekaligus merupakan ekspresi kekecewaan para pembuatnya terhadap media mapan yang selama ini diproduksi demi kepentingan akumulasi kapital. Maka wajar apabila kemudian (yaitu mereka yang konsisten di jalur zine) untuk senantiasa mengokohkan eksistensinya, terbitan spontan (terkadang ada juga yg rutin, ada juga yng insidental) ini di kerjakan dengan niat kecintaan, bukan untuk materi -uang- (for love, not money). Dengan arti lain, mereka dihadapkan pada kondisi yang selalu merugi secara materi apabila memproduksi zines (karena prinsip copyleft atau Anti Copyright, Copyright Sucks!).

Akan tetapi usaha yang senantiasa merugi bagi sebagian kalangn ‘formal’ justru merusak citra dakwah itu sendiri. Beberapa alasannya dikarenakan dari sebagian penamopilan, layout, maupun bahasa yang digunakan hampir sama dengan apa yang telah ada di dalam Zines Punk / HC. Atau kalau mau dikatakan lebih ekstrim maksudnya dalah tidak islami sekali. Apa memang demikian?!

Permasalahan ini sebenarnya akan mudah dipandang deengan cara yang mudah pula. Sebab suka tau tidak suka, masalah ini berada pada tataran uslub (cara) bukan thariqoh (metode). Bayangkan saja ketika seorang ustadz diminta mengisi kajian ibu-ibu. Tentu bliau tidak akan menggunakan bahasa dan pola penjelasan seperti saat mengisi kajian remaja. Begitu pula ketika harus mengisi kajian bagi anak jalanan. Intinya, dia akan menyesuaikan bahasa dan polanya dengan segmentasi pasar yang dihadapinya. Sebab, tanpa begitui mana bisa terjadi kontak dialogis yang baik di antara dia dan pendengarnya.

Menjawab mengenai Kontroversi seputar bahasa-bahasa Underground yang digunakan oleh Revolters dalam Media zine, kepada seluruh Umat Islam Allah SWT memerintahkan untuk senantiasa berlindung kepadaNYA, dari godaan setan yang “terkutuk” (sebelum membaca alquran atau melakukan aktivitas apapun, selain bermaksiat keapadaNYA). Dalam hal ini, Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk senantiasa mengutuk setan dalam kondisi apapun, karena setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Mengutip penjelasan dari Ulama, KH. Harry Moekti -Ulama dari Partai Politik Islam Ideologis bertaraf international- bahwa setan ada yang berwujud Ghaib (dari api) dan ada yang berwujud manusia, yang paling berbahaya adalah setan yang berwujud manusia, seperti bush cs. So, banyak sekali yang bisa kita lakukan dalam rangka mengutuk musuh kita yang nyata tersebut, dari cara yang sederhana, complex, baik melalui lisan, perbuatan ataupun tulisan-tulisan yang dilakukan oleh kawan-kawan pembuat zine di zine mereka dalam bentuk makian-makian dan pertentangan nyata terhadap musuh-musuh islam sebagai bentuk perlawanan.

Konsep ini diadopsi oleh Revolters Pembuat zines, dengan tujuan agar komunikasi dapat menyentuh, interaktif dan komunikatif dengan dengan objek dakwahnya. Sehingga target akan mendekati apa yang diharapkan. Kalaulah hal ini dirasa kurang tepat, lalu bagaimana dengan pesan Nabi SAW kepada sahabatnya agar dalam berdakwah senantiasa menggunakan bahasa dan cara-cara yang disukai objek dakwahnya selama tidak melanggar hukum syara?!

Tentu saja semua pasti membenarkan apa yang Rasulullah Sampaikan. Kalau sudah begini, sudah seharusnya saat ini tiap-tiap kialangan saling mendukung, bukan semakin mencari perselisihan. Kalangan formal jangan lagi memandang sebelah mata kehadiran zine-zine. Bahkan sudah seharusnya kita membantu membentuk kolektif-kolektif dan memperlancar jalur distribusi (salah satunya dengen menjadi distro / pengedar zines). Demikian juga dengan bagi Kalangan Ziners, Mereka juga harus lebih percaya diri dalam memeperlihatkan eksistensinya. Karena kehadiran zine-zine yang mengusung Ideologi Islam justru semakin menyemarakan dinamika dialektis dalam perjalanan Dakwah menuju Revolusi Putih, Revolusi Islam!

Keberadaan mereka adalah suatu keniscayaan dalam menghadapi tantangan zaman, bandingkan saja, berapa besar kekuatan massa yang kental nilai keislamannyadengan massa di luar itu yang notabene target pasar zine-zine tadi?! Tentu saja jauh sekali perbedaannya. Lalu apa karena massa yang begitu besar tersebut tidak didakwahi dan diberi pencerahan (padahal mereka di satu sisi ingin sekali tahu tentang islam, tetapi merasa kurang tepat dengan konsep media yang selama ini baku di media-media islam)?!

Tunggu apalagi?! Daripada menghabiskan waktu dengan hal yang sia-sia dan banyak mengkritik media-media yang sudah ada tanpa da solusinya, mengapa tidak?! Kita saling mendukung atau mulai mencoba membuat media?! Dan hasilnya pun akan kita rasakan bersama-sama. Janganlah membenci media, jadilah media itu sendiri. Support Your Local Islamic Underground Literacy Movement!

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...