Senin, 01 Desember 2008

Teror Mumbai, Antara Stigmasisasi Radikalisme Islam dan Reaksi Anti AS

Aksi teror Mumbai pada Rabu 26/11 yang yang telah menewaskan sekitar 120 orang dan melukai 162 lainnya telah menimbulkan stigma negatif terhadap citra islam di India. Pasalnya, selang beberapa saat setelah kejadian, media massa beramai-ramai mempublikasikan bahwa kelompok islam “Deccan Mujahidin” sebagai kelompok pelaku dibalik serangan Mumbai. Kontan saja, opini public di India mengarah kepada keterlibatan gerakan-gerakan radikalisme islam dibalik aksi tersebut. Padahal sumber klaim tersebut, berasal dari sebuah email yang dikirimkan ke beberapa media setempat dengan mengatasnamakan gerakan “Deccan Mujahidin” (Mujahidin Semenanjung Deccan).

Sejumlah pakar media dan analis setempat-pun meragukan tuduhan tersebut, khususnya dengan melihat besarnya aksi dan perencanaan yang matang dari aksi tersebut yang tidak mungkin dilakukan oleh kelompok atau ormas islam di India.Menurut mereka, aksi semacam itu tidak menutup kemungkinan keterlibatan pihak asing yang memiliki kemampuan intelijen yang besar.

Pemred media India, Milli Gazette, Dhaffar Islam Khan, dalam wawancara khusus dengan Aljazeera pada 28/11, mengatakan masih terlalu dini menentukan siapa kelompok pelaku dibalik aksi peledakan bom Mumbai. Menurutnya, yang perlu diwaspadai adalah upaya untuk menstigma kaum muslimin yang dilekatkan dengan aksi-aksi radikal, padahal di India sendiri terdapat banyak kelompok-kelompok yang menggunakan radikalisme sebagai sarana perjuangannya, seperti kelompok Hindustan radikal yang memperjuangkan berdirinya negara militan “Hindustan India”. Kelompok ini pada bulan lalu sempat diekspos luas kegiatan dan aksi-aksinya. Lebih lanjut, dia mengingatkan agar aksi bom Mumbai tidak mengalihkan perhatian dari aksi terror kelompok Hindustan radikal ini.

Aksi bom dan serangan Mumbai sangat besar sehingga diragukan kemungkinan keterlibatan kelompok muslim india atau ormas islam tertentu sebagai kelompok pelaku, apalagi sampai saat ini belum pernah ada kelompok islam di india yang telah divonis oleh peradilan bersalah karena terlibat kegiatan terror.

“Memang ada beberapa individu muslim yang pernah melakukan aksi-aksi kekerasan, tapi sebesar bom Mumbai ormas manapun di India tidak mungkin melakukannya dan memerlukan dukungan logistik dan perencanaan yang canggih. Khan juga mengatakan,sebelum kejadian sempat terdengar kabar mengenai adanya sebuah kapal yang berlabuh di pantai kota Mumbai yang menurunkan orang-orang bersenjata tersebut.

Tuduhan terhadap kelompok Deccan Mujahidin sangat diragukan, disebabkan sumber informasi tersebut berasal dari sebuah email yang dikirimkan ke beberapa media dengan mengatasnamakan kelompok itu. “ email bisa siapa saja membuat dan mengirimnya” ungkap Khan menambahkan.

Hal senada disampaikan oleh Guru Besar Studi Islam pada Universitas Islam New Delhi, Zubeir Ahmed Farouqi. Dia mengatakan, masih terlalu dini menentukan kelompok pelaku dibalik serangan bom Mumbai, apalagi kelompok “Deccan Mujahidin” yang menyatakan bertanggung jawab tidak dikenal sebelumnya di India dan aparat keamanan India masih belum melakukan investigasi, karena masih disibukan dengan upaya membebaskan sandera.

Menurut Zubeir Ahmed Farouqi, bom Mumbai terjadi pada saat hubungan Pakistan dan India tengah membaik, sehingga menurutnya pelaku adalah kelompok atau pihak tertentu baik di dalam maupu diluar India yang menginginkan terjadinya ketegangan hubungan antara India dan Pakistan.

Reaksi anti AS
Disisi lain, sejumlah pengamat juga menilai aksi teror Mumbai sebagai ungkapan ketidakpuasan dan kebencian yang memuncak kelompok-kelompok anti AS. Bill Christison,mantan analis senior CIA dalam wawancara khusus dengan presstv pada 28/11 mengatakan, insiden Mumbai merupakan ungkapan rasa protes terhadap kebijakan dan politik luar negeri AS di kawasan.

Menurut Christison, pentargetan warga Negara Inggris dan AS dalam aksi tersebut mengindikasikan frustasi kelompok tertentu terhadap perkembangan situasi di kawasan Asia tengah dan timur yang terus memburuk akibat kesalahan kebijakan dan politik luar negeri AS di kedua kawasan ini dalam 8 tahun terakhir.

Apalagi menurut,Christison, presiden terpilih AS, barrack omba sampai saat ini belum menunjukan niat yang serius dan benar untuk mengubah kebijakan dan politik luar negeri AS di timteng dan asteng. Hal ini terlihat dari calon menteri yang akan menduduki cabinet kebanyak berasal dari para politisi zaman presiden Bush. Padahal kebijakan pemerintahan Bush-lah yang menjadi sumber kekacauan dan ketegangan di kawasan timteng dan Asia Tengah.

Christison mencontohkan, kemitraan antara AS dan Israel serta kebijakan pendudukan atas Irak, diantara politik luar negeri AS yang salah. Jika obama tidak melakukan perubahan, maka aksi-aksi bom seperti terjadi di Mumbai akan terus terjadi di berbagai belahan dunia sebagai ungkapan sentiment anti kebijakan luar negeri AS.

Bill Christison pertama kali bergabung dengan CIA pada tahun 1950. Dia mengabdi di CIA sebagai staff analis kawasan selama 28 tahun. Sejak awal 1970, dia bergabung dengan National Intellegence Officer sebagai direktur analisa kawasan Asia Tenggara, Asia Tengah dan Afrika. Sebelum mengakhiri karirnya di CIA, sempat menjabat sebagai Direktur Analisa Politik dan Regional. Salam Pembebasan [SI]

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...