Rabu, 26 November 2008

Mewaspadai Gerakan Orientalisme

Orang yang berpikiran liberal-sekular umumnya tidak kritis terhadap orientalisme. Di satu sisi mereka memang bisa sangat kritis (dan liar) terhadap doktrin-doktrin Islam yang sebetulnya sudah baku dan mapan (ma’luumun min al-din bi al-dharurah), seperti kenabian Muhammad SAW, otentisitas Al-Qur`an, wajibnya Khilafah, dan wajibnya formalisasi syariah oleh negara. Namun anehnya, di sisi lain daya kritis ini tiba-tiba menjadi tumpul dan bebal ketika berhadapan dengan karya-karya kaum orientalis yang kafir.

Sebagai contoh, lihat saja sikap Luthfi Asy-Syaukanie dalam bukunya Islam Benar Versus Islam Salah (2007). Dalam salah satu refleksinya berjudul Islam Perdana [baca : asal-usul agama Islam], Luthfi memuji habis-habisan para orientalis yang menjelaskan asal-usul agama Islam dari berbagai aspeknya. Misalnya, Arthur Jeffrey (1905-1969) dari aspek sejarah Muhammad SAW, Theodore Noldeke (1836-1930) dari aspek sejarah Al-Quran, Nabia Abott dari aspek sejarah hadis, dan Joseph Schacht (1902-1969) dari aspek sejarah fikih. Tak lupa Luthfi mempropagandakan karya Montgomery Watt berjudul The Formative Period of Islamic Thought, yang dipuja dan dipuji oleh Luthfi sebagai,”Buku yang agak komprehensif tentang Islam perdana.” (Luthfi, 2007: 41). (Lihat Qosim Nursheha Dzulhadi, “Islam Perdana” atawa Islam ala Orientalis?", www.hidayatullah.com).

Tulisan ini tidak bertujuan secara khusus mengkritisi Luthfi Asy-Syaukanie, namun bertujuan lebih umum, yaitu untuk menjelaskan seputar orientalisme itu sendiri, walau pun serba singkat. Harapannya, agar kita dapat bersikap kritis dan waspada terhadap orientalisme. Sebab orientalisme walaupun terkesan ilmiah dan objektif, namun menurut Ahmad Abdul Hamid dalam kitabnya Ru`yah Islamiyah li Al-Istisyraq (hal. 7), tujuannya sangatlah jahat, yaitu antara lain : Pertama, menjelek-jelekkan Islam serta membuat umat Islam ragu dan sesat terhadap ajaran Islam; Kedua, memaksakan dominasi Barat atas umat Islam dan melegitimasi dominasi ini dengan studi-studi dan teori-teori yang diklaim ilmiah dan objektif; dan Ketiga, mendesakkan klaim bahwa Barat yang Kristen memiliki keunggulan ras dan budaya di atas umat Islam. (Lihat Muthabaqani, Al-Istisyraq, hal. 4).

Pengertian Orientalisme
Banyak definisi orientalisme di kalangan para pakar dan ulama. Menurut Dr. Muthabaqani, pakar orientalisme dari Fakultas Dakwah Universitas Imam Muhammad Ibnu Sa’ud Madinah, istilah orientalisme mulai muncul sejak dua abad yang lalu [abad ke-18 M], meski aktivitas kajian bahasa dan sastra ketimuran (khususnya Islam) telah terjadi jauh sebelumnya.

Muthabaqani menyatakan bahwa istilah orientalis muncul lebih dulu daripada istilah orientalisme. A.J. Arberry (1905-1969) dalam kajiannya menyebutkan istilah orientalis muncul tahun 1638, yang digunakan oleh seorang anggota gereja Timur (Yunani). Pada tahun 1691, istilah orientalis digunakan oleh Anthony Wood untuk menyebut Samuel Clarke sebagai “orientalis yang cerdas”, karena mengetahui beberapa bahasa Timur. (Muthabaqani, Al-Istisyraq, hal. 2-3).

Menurut Rudi Paret (orientalis Jerman, lahir 1901) orientalisme adalah “ilmu ketimuran (‘ilmu al-syarq) atau ilmu tentang dunia timur (‘ilmu al-‘alam al-syarqiy).” Sementara A.J. Arberry menggunakan Kamus Oxford untuk mendefinisikan orientalis, yaitu “orang yang mendalami berbagai bahasa dan sastra dunia timur.” (Muthabaqani, Al-Istisyraq, hal.3).

Sementara itu Maxime Rodinson (orientalis Perancis, lahir 1915) menerangkan bahwa istilah orientalisme muncul dalam bahasa Perancis tahun 1799 dan dalam bahasa Inggris tahun 1838. Orientalisme ini, menurut Rodinson, lahir untuk memenuhi kebutuhan “mewujudkan satu cabang pengetahuan khusus untuk mengkaji dunia timur.” Rodinson menambahkan bahwa kebutuhan ini amat mendesak, agar terwujud orang-orang spesialis yang siap untuk menerbitkan berbagai majalah, mendirikan berbagai universitas, dan berbagai departemen ilmiah.” (Muthabaqani, Al-Istisyraq, hal.3).

Muthabaqani juga menjelaskan definisi orientalisme menurut kritikus orientalisme yang terkenal, yaitu Edward Sa`id dalam bukunya Orientalism (New York : Vintage Books, 1979). Edward Sa`id dalam Orientalism hal. 92 menyatakan,”Orientalisme adalah bidang pengetahuan atau ilmu yang mengantarkan pada [pemahaman] dunia timur secara sistematis sebagai suatu objek yang dapat dipelajari, diungkap, dan diaplikasikan.” (Muthabaqani, ibid., h.4).

Definisi lain yang lebih ideologis dikutip juga oleh Muthabaqani dari pendapat Ahmad Abdul Hamid, dalam kitabnya Ru`yah Islamiyah li Al-Istisyraq (hal. 7). Menurut Ahmad Abdul Hamid, orientalisme adalah “studi-studi akademis yang dilakukan oleh orang-orang Barat yang kafir –khususnya Ahli Kitab— terhadap Islam dan kaum muslimin, dari berbagai aspeknya : aqidah, syariah, budaya (tsaqafah), peradaban (hadharah), sejarah, sistem-sistem kehidupanya (nuzhum), kekayaaan alam, dan potensi-potensinya…” (Muthabaqani, ibid., h.4).

Dari berbagai definisi orientalisme di atas, Dr. Muthabaqani sendiri akhirnya mendefinisikan orientalisme secara cukup komprehensif. Orientalisme, menurut Muthabaqani, adalah “segala sesuatu yang bersumber dari orang-orang Barat, yaitu dari orang-orang Eropa (baik Eropa Barat maupun Timur, termasuk Soviet) dan orang-orang Amerika, berupa studi-studi akademis yang membahas masalah-masalah Islam dan kaum muslimin, di bidang aqidah, syariah, sosial, politik, pemikiran, dan seni.” (ibid., h. 4).

Termasuk juga dalam orientalisme, kata Muthabaqani, adalah : (1) segala sesuatu yang disebarluaskan oleh media massa Barat baik dengan bahasa mereka maupun bahasa Arab, melalui koran, radio, televisi, film, kartun, dan saluran-saluran luar angkasa, yang menyangkut Islam dan kaum muslimin; (2) segala sesuatu yang ditetapkan oleh para peneliti dan politisi Barat dalam berbagai konferensi dan seminar mereka, baik yang terbuka maupun yang rahasia; (3) segala sesuatu yang ditulis oleh orang Arab Kristen, seperti kaum Maronit, yang memandang Islam dengan kacamata Barat; (4) segala sesuatu yang disebarluaskan oleh para peneliti muslim, yang belajar kepada para orientalis dan mengadopsi banyak pikiran kaum orientalis, hingga sebagian murid orientalis itu bahkan melampaui guru-gurunya dalam hal penggunaan teknik dan metode yang lazim dalam orientalisme. (Muthabaqani, ibid., h.4).

Namun meski sering terkait dengan Islam dan kaum muslimin, Muthabaqani segera menambahkan, orientalisme tetap mengkaji bangsa-bangsa timur secara umum, seperti bangsa India, Asia Timur, Cina, Jepang dan Korea. Jadi, orientalisme memang tidak hanya mengkaji Islam dan kaum muslimin.

Yang menarik dari definisi orientalisme Muthabaqani di atas, beliau memasukkan karya intelektual muslim yang dipengaruhi oleh orientalis, sebagai kegiatan orientalisme. Karena itu, Fazlurahman boleh juga disebut seorang orientalis, karena dia mengadopsi pikiran Joseph Schahcht tentang sejarah hukum Islam. Harun Nasution, juga seorang orientalis, karena memandang sunnah (hadits) dengan cara pandang orientalis, seperti Schacht dan Ignaz Goldziher. Nurcholish Madjid (murid Fazlurahman) juga tiada lain seorang orientalis, karena banyak mengadopsi pikiran sekuler dari Harvey Cox dalam bukunya The Secular City (1967). Walhasil, Luthfi Asy-Syaukanie juga hakikatnya seorang orientalis, karena banyak mengadopsi ide kaum orientalis seperti Arthur Jeffrey, Theodore Noldeke, dan Joseph Schacht.

Seorang pemikir muda yang brilian, Adnin Armas MA, bahkan menulis buku khusus yang membuktikan adanya pengaruh kristen-orientalis itu terhadap kaum liberal di Indonesia. Bacalah bukunya yang berjudul Pengaruh Kristen-Orientalis Terhadap Islam Liberal : Dialog Interaktif dengan Aktivis Jaringan Islam Liberal, (Jakarta : Gema Insani Press, 2003), juga bukunya yang lain Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur`an: Kajian Kritis, (Jakarta : Gema Insani Press, 2005). Inilah nampaknya yang dapat menjelaskan mengapa orang liberal-sekular tidak mampu bersikap kritis terhadap orientalisme. Bagaimana bisa kritis, wong orang liberal itu sebenarnya juga orientalis. Sesama orientalis, sudah selayaknya saling menghormati dan memuji, bukan?

Munculnya Orientalisme
Kapan munculnya orientalisme dalam lintasan sejarah umat Islam? Nampaknya tidak mudah menjawab pertanyaan ini, karena para ahli berbeda pendapat. Sebagian ahli berpendapat, munculnya orientalisme berbarengan dengan kemunculan Islam itu sendiri. Barangkali argumennya adalah perhatian para pemuka agama Kristen terhadap Islam di Habasyah ketika sebagian kaum muslimin berhijrah ke sana. Selain itu, Rasulullah SAW juga pernah mengirimkan surat kepada raja-raja di sekitar Jazirah Arab, termasuk kepada Heraklius raja Romawi yang Kristen. Perang Mu`tah juga dipandang sebagai konflik militer pertama antara umat Islam dan umat Kristen. Ada juga yang berpendapat, orientalisme bermula pasca Perang Salib (abad ke-11 sampai ke-13 M), setelah bangsa Eropa yang Kristen mengalami kekalahan dari kaum muslimin, khususnya kekalahan Louis IX di kota Al-Manshurah tahun 1290-an (Muthabaqani, ibid., h. 6).

Pendapat yang lain menyatakan, orientalisme bermula dari keputusan Gereja Wina yang menyerukan dibentuknya lembaga studi untuk mempelajari bahasa Arab, Iberani, dan Suryani di sejumlah kota Eropa seperti Paris, Oxford, dan lain-lain. Namun peneliti Inggris bernama P.M. Holt menolak peristiwa itu sebagai awal orientalisme, karena keputusan gereja itu ternyata tidak dilaksanakan secara semestinya. (ibid.)

Masih ada pendapat lain lagi. Pendapat ini mengatakan bahwa awal oreintalisme adalah konflik antara kaum muslimin dan Kristen di Andalusia (Spanyol) sekitar abad ke-15 M. Syaikh Musthafa As-Siba’iy cenderung pada pendapat ini (ibid.).

Dari sekian pendapat ini, mana yang lebih mendekati kebenaran? Muthabaqani mengutip pendapat Dr. Ali an-Namlah dalam kitabnya Al-Istisyraq wa Al-Adabiyat Al-‘Arabiyah hal. 31-33 yang berkata,”Bahwa semua peristiwa-peristiwa itu hanyalah tanda-tanda awal (irhashat) bagi orientalisme. Apa yang datang setelah itu dapat dianggap sebagai pendalaman ide tentang orientalisme, perluasan orientalisme, dan peningkatan perhatian terhadap orientalisme.” Jadi, titik awal yang sesungguhnya dari orientalisme adalah sejak abad ke-16 M, yakni suatu masa di mana Eropa tengah mengalami kebangkitan dengan aktivitas Reformasi Gereja, Renaissance, dan Humanisme. Sejak abad ke-16 itulah di Eropa mulai banyak karya cetak berbahasa Arab, juga mulai banyak lembaga-lembaga kajian yang mengeluarkan berbagai karya berupa buku. Pada tahun 1632 telah terbentuk lembaga studi bahasa Arab di Cambridge, dan pada tahun 1638 terbentuk pula di Oxford. (Muthabaqani, ibid.)

Tujuan-Tujuan Orientalisme
Apa yang menjadi tujuan kaum orientalis dalam melakukan kegiatannya? Jelas, tujuan-tujuan orientalis ini beraneka ragam (li al-istisyraq ahdaf muta’addidah) (Ash-Shanqary, Al-Islam wa Al-Gharb, hal. 28-29). Secara lebih terperinci, Muthabaqani dalam al-Istisyraq (h. 6-11) menerangkan tujuan-tujuan utama orientalisme, yaitu :
1. Tujuan Agama : Tak diragukan lagi, tujuan ini merupakan salah satu tujuan terpenting orientalisme. Mengapa? Karena para pemuka Kristen melihat agama Islam mempunyai kekuatan dan magnet yang besar untuk dapat dianut orang Kristen. Maka karena kedengkiannya, para pemuka Kristen melancarkan orientalisme guna menjelek-jelekkan Islam (tasywih al-Islam) agar orang-orang Kristen menjauhkan diri dari Islam (tanfir al-nashara min al-islam).
2. Tujuan Ilmiah : Orang-orang Eropa yang mulai bangkit di abad ke-16 membutuhkan banyak inspirasi untuk kebangkitannya. Karena itulah, mereka mengkaji berbagai penemuan ilmiah yang ditemukan kaum muslimin dalam berbagai bidang pengetahuan. Ketika orang-orang Barat mengkaji suatu bidang ilmu yang sudah lebih dulu diterjuni intelektual muslim, dapat dipastikan mereka lalu menerjemahkan kitab-kitab kaum muslimin itu, dan mengadopsi kandungannya. Francis Bacon yang menulis Novum Organum (Alat Berpikir Baru) di abad ke-16, mendapatkan inspirasi cara berpikir yang empiris (induktif) dari karya-karya kaum muslimin dari masa Khilafah Abbasiyah. Sebelum itu, di Abad Pertengahan (abad ke-5 hingga ke-15 M), cara berpikir yang dominan di Barat adalah logika Aristotelian yang deduktif, yang meremehkan pengamatan empiris.
3. Tujuan Ekonomi : Pada saat Eropa mengalami kebangkitan ilmiah, pemikiran, dan industri, mereka membutuhkan bahan-bahan mentah bagi industrinya dan sekaligus membutuhkan pasar-pasar baru untuk menjual produksinya yang melimpah. Dari sinilah, negeri-negeri Islam seperti negeri-negeri Arab, Afrika Utara, dan Asia, merupakan sasaran empuk bagi mereka. Karena itulah, mereka harus mempelajari negeri-negeri Islam ini dengan mempelajari agama penduduknya, politiknya, budayanya, perekonomiannya, dan lain-lain, agar Barat tahu bagaimana cara berinteraksi (baca : menjajah) umat Islam.
4. Tujuan Politik : Orientalisme tidak dapat secara polos kita anggap terpisah dari imperialisme Barat. Bahkan keduanya saling menunjang satu sama lain. Orientalisme adalah pelayan imperialisme. Para orientalis memasok berbagai informasi kepada para penjajah berupa informasi keagamaan, bahasa, politik, ekonomi, sejarah, budaya, kekayaan alam, dan sebagainya dari negeri yang hendak dijajah.
5. Tujuan Budaya : Penyebaran budaya Barat (ats-tsaqafah al-gharbiyah) merupakan salah satu tujuan utama orientalisme. Di negeri-negeri Arab, misalnya, kaum orientalis berusaha menyebarkan bahasa-bahasa Eropa, seperti bahasa Inggris dan Perancis. Sebaliknya, mereka berusaha memusnahkan bahasa Arab yang fasih (fush-hah). Orientalis juga menyebarkan berbagai paham Barat, seperti nasionalisme dan sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) di negeri-negeri Islam. (Lihat Muthabaqani, al-Istisyraq, h. 6-11; lihat juga An-Nabhani, Ad-Daulah Al-Islamiyah, hal. 85-92, bab Al-Ghazw At-Tabsyiri dan bab Al-‘Ada` Ash-Shalibi).

Pengaruh-Pengaruh Orientalisme
Aktivitas orientalisme yang dilakukan di negeri-negeri Islam tentu saja menimbulkan berbagai dampak atau pengaruh yang sangat buruk dan mengerikan. Di antaranya :
1. Pengaruh Aqidah : di antara pengaruh orientalisme, adalah pengaruh di bidang aqidah, yaitu lahirnya generasi sekuler, baik di kalangan intelektual, pemerintah, militer, maupun orang awam di Dunia Islam. Mereka semuanya menjadi satu arus dan trend yang meneriakkan pemisahan agama dari kehidupan, atau yang dalam bahasa Arab disebut al-‘ilmaniyah (tepatnya : as-sikulariyah). Padahal aqidah ini sangat bertolak belakang dengan Aqidah Islam, sebab Aqidah Islam terikat (bukan terpisah) dengan segala bidang kehidupan, dengan seperangkat hukum-hukum Syariahnya.
Pengaruh lainnya, adalah merebaknya kecenderungan terhadap ide-ide marjinal yang menyimpang dari Aqidah Islam, seperti tashawwuf Ibnu ‘Arabiy (Wihdatul Wujud) yang mendapat perhatian khusus dari kalangan orientalis.
2. Pengaruh Sosial : Kaum orientalis karena didorong kebenciannya terhadap Islam dan umat Islam, berusaha mencari faktor yang dapat merusak soliditas masyarakat muslim. Contohnya, di Aljazair, orientalis menghapuskan kepemilikan umum (atas tanah publik) yang akhirnya membuat terpecah belahnya beberapa kabilah. Padahal sebelumnya mereka hidup rukun dan damai dengan konsep kepemilikan umum yang ada dalam ajaran Islam. Pengaruh sosial lainnya adalah terancamnya keutuhan keluarga, karena kaum orientalis menaruh perhatian besar pada ide-ide gender dan feminisme yang membodohi sekaligus memprovokasi kaum muslimah untuk memberontak terhadap hukum-hukum Islam tetang pengaturan keluarga (misalnya masalah ketaatan kepada suami, nafkah, dan hak cerai).
3. Pengaruh Politik-Ekonomi : Orientalis misalnya mempropagandakan sistem demokrasi dan dikatakannya sebagai sistem politik paling ideal untuk umat manusia. Pada saat yang sama, mereka menyerang dan menjelek-jelekkan sistem politik Islam, yaitu Khilafah. Thomas W. Arnold, misalnya, dalam bukunya Caliphate (Lahore: 1966) hal. 25, menuding bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khaththab dapat menjadi khalifah, lantaran keduanya telah melakukan suatu persekongkolan. Orientalis lain, Bernard Lewis, menyatakan bahwa sistem politik Islam adalah sistem diktator yang memaksakan ketundukan dan kehinaan atas bangsa-bangsa muslim. Bahkan lebih dari itu, Bernard Lewis menganggap sistem politik Islam menyerupai sistem komunis dalam hal kediktatoran dan kesewenang-wenangannya (Lihat B. Lewis,”Communism and Islam,“ dalam International Affairs, Vol. 30, 1954.pp 1-12).
Sementara itu dalam bidang ekonomi, orientalis mempropagandakan sistem ekonomi kapitalis dan sosialis. Pada saat yang sama, mereka menyerang sistem ekonomi Islam. Muhammad Khalifah mengatakan,”Kaum orientalis dalam aksi mereka mempropagandakan sistem ekonomi Barat, melakukan penafsiran ulang terhadap sejarah ekonomi Islam dengan perspektif kapitalisme dan komunisme sebagai dasar untuk kedua sistem tersebut…” (Muthabaqani, ibid, h. 16)
4. Pengaruh Budaya-Pemikiran (tsaqofiyah-fikriyah) : Sungguh kaum orientalis telah memetik kemenangan besar di bidang budaya dan pemikiran di Dunia Islam. Buktinya, cara pandang atau perspektif orientalis telah menjadi sumber pemahaman bagi umat untuk memahami Islam, setelah sebelumnya umat Islam hanya menggunakan cara pandang dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, menurut tuntunan para ulama muslim. Umat Islam kini meyakini demokrasi, sebagai ganti dari keyakinan terhadap sistem politik Islam (Khilafah). Umat Islam lebih meyakini sistem ekonomi kapitalisme, daripada sistem ekonomi Islam. Demikian pula cara pandang orientalis di bidang ilmu sosiologi, psikologi, sejarah, dan sebagainya telah mengisi, memenuhi, sekaligus meracuni otak generasi muda Islam, yang sebelumnya terisi dengan pemikiran-pemikiran Islam yang cemerlang. (Muthabaqani, ibid, h. 17).

Penutup
Itulah sekilas tentang orientalisme. Yang kami tulis ini tentu hanya sekelumit saja, di tengah sekian banyak literatur cerdas yang menerangkan bahaya orientalisme yang sudah semestinya kita waspadai. Janganlah terlalu polos dan lugu, dengan menganggap kajian orientalis adalah objektif dan ilmiah. Perluaslah wawasan! Bersikap kritislah terhadap orientalisme! Bibliografi yang kami tulis di bawah ini barangkali dapat sedikit memberikan inspirasi mengenai apa yang kiranya perlu dibaca untuk mendalami masalah ini.

Kami ingin menutup uraian sederhana ini dengan mengutip ayat dan hadits yang memberi pedoman kepada umat Islam, hendaknya mereka tidak mengikuti kaum orientalis yang kafir. Allah SWT berfirman (artinya) : “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS Al-Baqarah [2] : 120)

Rasulullah SAW bersabda : “Sungguh kamu akan mengikuti jalan-jalan [hidup] orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga kalau mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kamu pun akan mengikuti mereka. Para sahabat bertanya,”Apakah mereka orang Yahudi dan Nasrani?” Rasul SAW menjawab,”Siapa lagi?” (HR Bukhari dan Muslim).

Artikel yang berkaitan



2 komentar:

  1. saatnya khilafah memimpin dunia!
    Allahu Akbar

    BalasHapus
  2. saatnya khilafah memimpin dunia!
    Allahu Akbar

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...