Rabu, 26 November 2008

Mahasiswa dan Perubahan

POLITIK dalam paradigma mahasiswa tentu sudah tidak asing lagi. Bahkan, saat ini perjuangan politik telah menjadi mind-set dan flatform perjuangan mahasiswa. Mulai dari kajian-kajian politik yang semakin menggejala, sampai aksi turun ke jalan yang kayaknya menjadi ciri khas seseorang bila ingin disebut sebagai aktivis pergerakan mahasiswa. Naïf memang, ketika ciri khas sebuah pergerakan mahasiswa hanya dinilai dari keterlibatannya di jalanan saja. Boleh dikata, saat ini ada semacam pergeseran makna politik dari yang seharusnya. Saat ini, perjuangan politik mahasiswa hanya dimaknai sebuah perjuangan untuk demo, kritik reaksioner, sikap frontal, menjadi sorotan wartawan, dan lain sebagainya. Kepentingan dan jeritan masyarakat hanya menjadi lisptik perjuangan dalam rangka mempopulerkan diri mereka sendiri. Buktinya, banyak kalangan mahasiswa yang mengaku sebagai aktivis pergerakan, tetapi tidak mengerti tentang konsep perubahan masyarakat, kebangkitan masyarakat, kritik sosial politik yang ideologis, bahkan tidak mengerti permasalahan utama masyarakat yang ada saat ini.

Oleh karena itu, saya sangat tertarik untuk membedah arah perjuangan mahasiswa yang ada saat ini, dan kaitannya dengan aspek sosio-historis yang melatarbelakanginya. Agar lebih argumentatif, maka penulis mencoba untuk meninjaunya dari tiga sudut pandang ; historis, empirik, dan normatif. Pertama, dalam telusur historis. Sesungguhnya akan kita dapati bahwa arah gerak mahasiswa hanya menampilkan peninggalan monumen yang tidak terlalu berarti. Tahun 1908, 1928, 1945, 1966, 1974, 1998, adalah contoh catatan kecil yang menorehkan peran dan posisi mahasiswa di dalamnya. Dapat dipahami, bahwa gerakan politik mahasiswa terbelenggu dengan selogan, serta simbol-simbol yang menggoreskan ketidakartiannya dari apa yang telah dilakukan mahasiswa. Dalam sejarah panjang mahasiswa di negeri ini, terlihat dengan jelas bahwa ada paradigma baru tentang politik dan perubahan, yang semuanya menjadi simpang siur dan ambigu. Padahal paradigma politik dan perubahan akan sangat tergambar ketika dipahami bahwa realitas sosial (social reality) bukan hanya untuk dipahami tetapi juga untuk dikendalikan. Termasuk kepedulian mahasiswa terhadap realitas struktural (structural reality) dan kultural masyarakat (cultural reality).

Hal ini bisa jadi pandangan terhadap mahasiswa selama ini merupakan ukuran over estimate terhadap kiprah mahasiswa dalam pentas politik. Kebanggaan filosofis mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change), kontrol sosial (social control), kekuatan moral (moral force), cadangan keras (iron stock), dan ukuran-ukuran romantisme lain, semakin membuktikan ketidakjelasan arah gerak mahasiswa. Alasannya, kerena slogan romantis tersebut tidak pernah ditemui realitasnya secara benar

Kedua, dalam tinjauan Empirik. Saat ini kita dihadapkan pada perkembangan budaya modern yang demikian cepat. Perubahan sosial yang terjadi dipicu oleh kemajuan instrumen ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), terutama pada teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi. Saat ini kita pun dihadapkan pada perkembangan “ketegangan” kehidupan berpolitik yang membuat wajah perpolitikan negeri ini merah memanas. Dalam skala global, ini bisa kita namakan sebagai gejala over heating yang menimpa peradaban. Tetapi sangat membanggakan kiranya, ketika ada sekelompok mahasiswa yang memilih untuk berada pada garda publik yang dinamis.

Telah marak pergerakan mahasiswa pada era reformasi ini. Setidaknya ada dua pandangan mahasiswa terhadap peranannya dalam pentas politik. (1) mengikuti arus besar yang ada (2) menunjukan idealisme mahasiswa yang berbeda.

Pilihan pertama nampaknya selalu menjebak –kalau tidak dikatakan pilihan- aktivis gerakan mahasiswa. Namun benarkah pilihan pertama merupakan pilihan alternatif, ataukah pilihan kedua? Carles Darwin mengatakan “it is strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the ones most responsive to change”. Hanya saja hipotesis Darwin tersebut ditujukan kepada makhluk bernama “hewan”, dan memang itu terbukti. Namun, hipotesis Darwin tersebut terlalu gegabah ketika diterapkan kepada sosok manusia. Karena, faktanya manusia yang mampu eksis adalah manusia yang mampu untuk tampil beda. Terlebih ini adalah mahasiswa.

Gerakan mahasiswa yang pada awalnya berkomitmen untuk menunjukan idealismenya dalam pentas politik, seringkali menjadi pragmatis dan terjebak dengan keadaan karena kekaburan metode dan juga jiwa perjuangan mahasiswa yang hanya bermuara pada kepentingan sesaat. Sejatinya revisi dan reposisi gerakan mahasiswa akan sangat menentukan potret negeri ini ke depan, bahkan potret sebuah peradaban.

Ketiga, secara normatif. Banyak harapan masyarakat yang bertumpu pada mahasiswa. Dengan melihat harapan tersebut dan potensi yang dimiliki mahasiswa, posisi mahasiswa sebagai agent of change bukanlah sesuatu yang utopis. Sehingga, pandangan yang berlebihan terhadap mahasiswa merupakan pandangan yang memang harus dibuktikan dengan penuh kehormatan. Tidak menjadi angan, bahkan cemoohan yang menyandarkan kepada posisi mahasiswa tadi.

Maka tidak bisa ditawar-tawar lagi, mahasiswa dalam konteks perjuangan politik haruslah memiliki konsepsi pemikiran (thought) yang jelas dan tegas, kemudian harus mendefinisikan metode (method) penerapan pemikirannya, bahkan mampu menjelaskan langkah-langkah yang cerdas dalam menjelaskan upaya meraih tujuan dalam konsepsi pemikirannya. Mahasiswa tersebut haruslah orang-orang yang tersadarkan, bukan hanya modal semangat dan keinginan emosional yang melandasi perjuangan politiknya, sehingga ikatan yang mereka bangun adalah ikatan yang mendasar, bukan hanya slogan dan perasaan emosional

Sehingga, harapan atas politik mahasiswa –menjawab pertanyaan, "mau kemanakah pergerakan mahasiswa?"- adalah untuk menuju kepada kebangkitan, bukan malah memperburuk kondisi yang sudah ada. Oleh karena itu, keberanian mahasiswa untuk bepikir lebih mendasar yang didasarkan pada konsepsi ideologis, bukan atas ego, kepentingan, dan kemanfaatan belaka akan memberikan jaminan bahwa yang mahasiswa lakukan di masa ini bukan hanya menyelamatkan mereka dan masa sekarang saja, namun untuk membentuk tatanan yang lebih terhormat demi kehidupan umat manusia, Semoga. Salam Pembebasan [GP]

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...